Berita

Kisah Monyet Kecil "Punch" yang Kemana-mana Membawa Boneka Sebagai Ganti Peran Ibunya

Muhammad Fatich Nur Fadli 19 Februari 2026 | 16:14:44

Zona MahasiswaSobat Zona, kali ini mari kita rehat sejenak. Kita akan terbang ke Jepang untuk menyimak sebuah kisah yang akan membuat hatimu meleleh, terharu, sekaligus belajar tentang arti ketahanan mental dari makhluk kecil yang tak terduga.

Jagat media sosial belakangan ini sedang diramaikan oleh video viral seekor bayi monyet Jepang (Japanese macaque) bernama Punch. Di kebun binatang Ichikawa, Prefektur Chiba, pengunjung berbondong-bondong datang hanya untuk melihatnya.

Apa istimewanya? Punch tidak melakukan atraksi sirkus. Ia viral karena ke mana pun ia pergi, ia selalu menyeret dan memeluk erat sebuah boneka orangutan.

Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!

Bukan sekadar mainan, boneka itu adalah "Ibu" bagi Punch. Kisah di balik boneka ini adalah potret nyata tentang penolakan, insting bertahan hidup, dan rapuhnya kehidupan di awal kelahiran. Siapkan tisumu, mari kita selami kisah Punch yang luar biasa ini!

Kelahiran yang Keras: Ditolak Sang Induk di Tengah Terik

Kisah pilu ini dimulai pada 26 Juli 2025. Di tengah cuaca musim panas Jepang yang sedang terik-teriknya, Punch lahir ke dunia dengan berat tubuh sangat mungil, hanya sekitar 500 gram.

Normalnya, momen kelahiran adalah saat di mana seekor induk akan langsung mendekap anaknya, memberikan kehangatan, dan menyusuinya. Namun, takdir berkata lain untuk Punch.

Sang induk yang baru pertama kali melahirkan tampak sangat kelelahan menghadapi proses persalinan dan cuaca ekstrem. Alhasil, ia tidak menunjukkan tanda-tanda keibuan (maternal instinct) dan mengabaikan Punch begitu saja.

Dalam dunia satwa liar, kasus penolakan oleh induk (maternal rejection) memang kerap terjadi akibat stres, kurangnya pengalaman, atau kondisi lingkungan. Namun bagi Punch yang tak berdaya, penolakan ini adalah vonis mati jika tidak ada campur tangan pihak lain.

Boneka Orangutan: Sang Penyelamat yang Berbulu Lebat

Melihat bayi monyet yang sehat namun terancam mati karena diabaikan, dua penjaga kebun binatang Ichikawa (yang pantas disebut pahlawan tanpa jubah) akhirnya turun tangan. Mereka memutuskan untuk mengambil alih peran sang induk.

Tapi, pendekatannya sangat cerdas. Alih-alih mengurung Punch di ruang isolasi klinik yang sepi, mereka tetap menempatkan Punch di area yang dekat dengan koloni monyet lainnya. Punch tetap bisa mencium aroma kawanannya dan mendengar suara mereka. Tujuannya satu: Agar Punch tidak lupa bahwa ia adalah seekor monyet dan suatu saat bisa kembali berbaur.

Tantangan terbesarnya adalah: Bayi monyet secara alamiah butuh berpegangan pada bulu ibunya. Pegangan ini bukan cuma soal rasa aman, tapi juga untuk melatih otot dan kekuatan tubuh mereka.

Karena Punch tidak punya ibu kandung untuk dipeluk, para zookeeper memutar otak. Mereka mencoba memberikan gulungan handuk hingga berbagai jenis boneka.

Keajaiban pun terjadi. Dari sekian banyak benda, hati kecil Punch memilih sebuah boneka orangutan berbulu lebat.

  • Tekstur bulunya yang panjang memudahkan jari-jari mungil Punch untuk mencengkeram.
  • Bentuknya yang menyerupai primata memberikan ilusi sosok ibu.

Sejak hari itu, boneka orangutan tersebut menjadi Support System utama Punch. Boneka itu dipeluknya saat tidur, diseretnya saat bermain, dan menjadi tempatnya bersembunyi saat ia merasa cemas. Bagi Punch, boneka benda mati itu memberikan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari induk kandungnya.

Ujian Sosial: Kembali ke 'Gunung Monyet'

Memasuki awal tahun 2026, usia Punch menginjak enam bulan. Para penjaga menyadari bahwa Punch tidak bisa selamanya bergantung pada manusia. Ia harus kembali ke "masyarakatnya" di area Monkey Mountain.

Sobat Zona, proses reintroduksi ini sama menegangkannya dengan hari pertama kita masuk sekolah baru di mana kita tidak kenal siapa-siapa.

Awalnya, monyet-monyet lain di koloni itu terlihat waspada, bahkan ada yang bersikap intimidatif terhadap anggota baru tersebut. Punch yang ketakutan pun tampak ragu. Ia menolak melepaskan genggamannya dari boneka orangutannya saat mencoba mendekati monyet lain. Momen saat Punch berlarian canggung sambil menyeret bonekanya inilah yang akhirnya terekam kamera pengunjung dan meledak viral.

Namun, perlahan tapi pasti, Punch mulai belajar. Ia mengalami dinamika sosial yang nyata: diajak bermain oleh monyet sebayanya, hingga ditegur atau dijauhi oleh monyet dewasa yang lebih dominan. Ini adalah proses belajar sosial yang mutlak ia butuhkan.

Viral di Medsos & Dilema Eksploitasi

Unggahan pengunjung di TikTok dan Instagram, yang disusul oleh rilis resmi dari kebun binatang, membuat Punch menjadi selebriti mendadak. Ribuan warganet meninggalkan komentar haru, mendukung perjuangan kecil Punch.

Melansir New York Post, efek viral ini membawa lonjakan pengunjung yang luar biasa ke Kebun Binatang Ichikawa. Antrean panjang mengular, sesuatu yang belum pernah dialami pengelola sebelumnya. Semua orang ingin melihat langsung bayi monyet yang memeluk boneka ibunya.

Namun, tingginya antusiasme ini juga memicu awareness (kesadaran) yang baik dari masyarakat. Banyak pengunjung dan netizen yang menyuarakan agar kebun binatang tidak menjadikan Punch sekadar "komoditas viral". Kesejahteraan hewan (animal welfare) harus tetap menjadi prioritas utama. Jangan sampai hiruk-pikuk manusia justru membuat Punch yang sedang belajar bersosialisasi menjadi stres.

Inner Child & Ketahanan Mental Ala Punch

Kini, berat badan Punch sudah mencapai sekitar 2 kilogram. Meski masih dibantu makan oleh penjaga, perkembangan mentalnya patut kita jadikan inspirasi.

Sobat Zona, kita bisa belajar banyak dari makhluk seberat dua kilogram ini:

  1. Penerimaan Terhadap Penolakan: Punch ditolak sejak ia mengambil napas pertamanya. Tapi ia tidak menyerah pada keadaan. Ia mencari coping mechanism (mekanisme bertahan) melalui bonekanya.
  2. Resiliensi (Ketangguhan): Pihak kebun binatang menyatakan Punch punya ketahanan mental yang sangat baik. Kalau dia dimarahi atau dijauhi monyet lain, dia mungkin akan lari ke bonekanya sebentar, tapi ia cepat bangkit dan mencoba berinteraksi lagi. Dia tidak baperan.
  3. Pentingnya Support System: Sehebat apapun kita, kita butuh sesuatu atau seseorang untuk bersandar saat dunia terasa menakutkan. Bagi Punch, itu adalah boneka. Bagi kita, itu bisa sahabat, keluarga, atau hobi yang positif.

Kisah Punch adalah pengingat manis bahwa tak peduli seberapa buruk start kehidupan kita, selalu ada cara untuk bertahan, beradaptasi, dan menemukan tempat kita di dunia ini.

Baca juga: Mahasiswa Itera Lampung Diam-diam Rekam Teman Cewek Tanpa Busana: "Sehari Bisa Dua Kali", Pelaku Diinterogasi Warga!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150