Zona Mahasiswa - Sobat Zona, permainan kotor pembungkaman aktivis mahasiswa kini memasuki babak baru yang lebih menjijikkan. Jika sebelumnya teror hanya menyasar fisik atau psikis si mahasiswa, kini para pengecut di balik layar mulai menyerang titik terlemah: Keluarga dan Orang Tua.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto, kembali menjadi target. Setelah sebelumnya diancam culik, kini Ibunda Tiyo yang menjadi sasaran fitnah keji.
Serangan ini terjadi tak lama setelah Tiyo lantang mengkritik Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terkait kegagalan negara menjamin hak dasar anak (merujuk pada kasus bunuh diri siswa SD di NTT karena tak mampu beli buku) dan kritik terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!
Peneror mengirim pesan WhatsApp ke nomor pribadi ibu Tiyo, menuduh anaknya sebagai "Maling" dana kampus. Tujuannya jelas: Character Assassination (Pembunuhan Karakter) dan membuat mental keluarga down.
Beruntung, kali ini Kampus Biru (UGM) tidak tinggal diam. Mereka menyatakan siap melindungi mahasiswanya. Simak kronologi lengkap teror pengecut ini!
Fitnah Keji Masuk ke WA Ibu
Teror psikologis ini terjadi pada Sabtu malam, 14 Februari 2026. Saat itu, suasana akhir pekan keluarga Tiyo mendadak terusik oleh notifikasi pesan dari nomor tak dikenal yang masuk ke ponsel sang Ibu.
Isinya bukan ancaman fisik, tapi fitnah yang dirancang untuk menghancurkan kepercayaan orang tua terhadap anaknya.
Isi Pesan Peneror: Pesan tersebut melampirkan foto Tiyo dengan caption provokatif yang menuduhnya menggelapkan dana penggalangan untuk mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).
"Hobi nilep dana kampus ternyata, pantesan aktif banget, biar dapat setoran," bunyi pesan tersebut, seperti dibacakan ulang oleh Tiyo, Minggu (15/2/2026).
Sobat Zona, bayangkan perasaan seorang ibu membaca pesan seperti itu tentang anak kebanggaannya. Tentu saja, naluri keibuan beliau langsung waswas dan panik.
"Saya yakinkan ibu bahwa tidak akan ada apa-apa," ujar Tiyo menenangkan ibunya.
Tiyo menegaskan bahwa tuduhan itu HOAX total. Tuduhan "nilep dana" adalah taktik klasik untuk mendegradasi moral aktivis agar terlihat korup di mata publik dan keluarga.
Pemicu: Kritik Keras Soal Tragedi NTT & Kegagalan Negara
Kenapa Tiyo dan Ibunya diserang se-masif ini? Jawabannya ada pada keberanian BEM UGM menyuarakan fakta yang "mengganggu" telinga penguasa.
Sebelum teror ini datang, Tiyo memimpin BEM UGM melayangkan protes keras kepada Presiden Prabowo. Kritik tersebut dipicu oleh Tragedi Kemanusiaan di NTT, di mana seorang bocah SD gantung diri karena malu orang tuanya tak mampu membelikan buku dan pulpen.
Bagi BEM UGM, kejadian ini adalah bukti Kegagalan Negara dalam menjamin hak dasar pendidikan anak, di tengah gempuran program-program jumbo seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memakan anggaran besar namun dianggap belum menyentuh akar kemiskinan pendidikan di pelosok.
Suara lantang inilah yang rupanya membuat pihak-pihak tertentu gerah dan mengirimkan "pasukan hantu" untuk membungkam Tiyo lewat jalur keluarga.
UGM Pasang Badan: "Kami Lindungi Mahasiswa Kami!"
Di tengah badai teror ini, kabar melegakan datang dari pihak Rektorat Universitas Gadjah Mada. Kampus tidak membiarkan Tiyo berjuang sendirian.
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, menegaskan komitmen kampus untuk melindungi kebebasan berpendapat dan keselamatan civitas akademikanya.
Langkah Konkret UGM:
- Koordinasi Pimpinan: Petinggi kampus langsung berkoordinasi menanggapi ancaman ini.
- Pengerahan Tim K5L: Kampus menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan intensif dan perlindungan.
"Kampus berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika dari ancaman mana pun," tegas I Made Andi Arsana.
Sikap UGM ini patut diapresiasi. Di saat beberapa kampus lain memilih "cuci tangan" atau bahkan men-DO mahasiswa kritis, UGM menunjukkan marwahnya sebagai kampus kerakyatan yang melindungi anak didiknya dari intimidasi eksternal.
Pola Teror "Bunuh Karakter"
Sobat Zona, kita harus cerdas membaca pola ini. Jika teror fisik (ancaman culik) tidak mempan, maka mereka menggunakan teror mental (serang keluarga) dan moral (tuduhan korupsi).
- Menyerang "Support System": Orang tua adalah pendukung utama mahasiswa. Jika orang tua ketakutan dan melarang anaknya demo, maka gerakan mahasiswa akan gembos dengan sendirinya. Inilah target peneror.
- Framing "Aktivis Korup": Tuduhan "tilep dana KIP" sengaja dibuat untuk memecah belah solidaritas mahasiswa. "Ngapain ikut demo Tiyo, dia korupsi tuh," kira-kira begitu narasi yang ingin dibangun. Jangan sampai termakan!
Tanda Bahaya Demokrasi: Jika kritik kebijakan publik dibalas dengan serangan personal ke Ibu kandung, artinya demokrasi kita sedang dikuasai oleh premanisme digital.
Komentar
0

