Berita

Tragedi Anak SD di Demak, Akhiri Hidup Usai Menerima Chat Kasar dari Ibunya "Di Balik Tawa Gue, Aku Capek..."

Muhammad Fatich Nur Fadli 16 Februari 2026 | 15:57:00

Zona MahasiswaSobat Zona, berita duka kembali menyelimuti dunia pendidikan kita. Belum kering air mata kita meratapi kasus bunuh diri siswa di NTT karena masalah ekonomi, kini kasus serupa terjadi di Demak dengan latar belakang yang jauh lebih MISTERIUS.

Seorang siswi Sekolah Dasar (SD) berinisial SA (12) ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di rumahnya pada Kamis (12/2/2026).

Yang bikin merinding dan bingung, SA bukanlah anak yang terlihat murung atau bermasalah. Hari itu dia sekolah seperti biasa, bahkan sempat latihan Taekwondo. Keluarganya berkecukupan, tidak ada catatan bullying di HP-nya.

Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!

Lantas, beban seberat apa yang dipikul anak usia 12 tahun hingga ia memutuskan pergi selamanya? Yuk, kita bedah kasus yang menyayat hati ini.

Kronologi: Hari yang Terlihat "Normal" Berujung Maut

Kamis itu, 12 Februari 2026, berjalan seperti hari-hari biasa bagi SA. Ia pergi sekolah, berinteraksi dengan teman, dan sore harinya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bela diri Taekwondo. Tidak ada tanda-tanda ia akan melakukan hal nekat.

Namun, petaka terjadi saat matahari mulai terbenam. Sekitar pukul 18.00 WIB, ibu korban pulang ke rumah dan mendapati pemandangan yang akan menghantuinya seumur hidup. Putri kesayangannya sudah dalam posisi tergantung.

Ibu korban histeris, berlari keluar meminta tolong tetangga. SA segera dilarikan ke RSUD KRMT Wongsonegoro. Sayangnya, takdir berkata lain.

"Hasil pemeriksaan menyatakan, SA sudah meninggal sejak dua hingga enam jam sebelum pemeriksaan," ungkap tim medis.

Artinya, SA melakukan tindakan tersebut saat ia sendirian di rumah, tak lama setelah pulang dari aktivitasnya.

Polisi: "Murni Bunuh Diri, Tapi Motifnya Gelap"

Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, memastikan bahwa tidak ada tanda kekerasan atau pembunuhan.

"Ada tanda-tanda khas gantung diri, seperti lidah yang tergigit... korban dinyatakan mati lemas akibat terputusnya asupan oksigen," jelas Anggah, Jumat (13/2/2026).

Namun, ketika polisi mencoba menggali MOTIF, mereka menemui jalan buntu.

  1. Ekonomi Aman: Berbeda dengan kasus NTT, keluarga SA tergolong berkecukupan. Tidak ada masalah biaya sekolah atau makan.
  2. Sosial Aman: Hubungan dengan teman sekolah baik. Chat di HP-nya bersih dari bullying.
  3. Keluarga Aman: Isu pertengkaran dengan ibu tidak terbukti. Tetangga bersaksi rumah itu tenang-tenang saja, tidak ada keributan sebelum kejadian.

Polisi akhirnya menghentikan penyelidikan karena tidak ditemukan unsur pidana. Tapi bagi kita masyarakat, ini justru menyisakan tanda tanya besar: Kenapa?

Analisis LBH APIK: Bahaya "Silent Depression" pada Anak

Jika fisik dan lingkungan terlihat baik-baik saja, maka musuhnya ada di dalam pikiran.

Direktur LBH APIK Semarang, Raden Rara Ayu Hermawati, menyoroti kerentanan mental anak zaman now. Menurutnya, anak-anak seringkali tidak tahu cara mengekspresikan depresi.

"Mereka ini rentan karena belum mendapatkan cukup edukasi atau informasi sehingga tidak tahu harus bagaimana dan harus melakukan apa ketika depresi," ucap Ayu.

Sobat Zona, mungkin SA mengalami apa yang disebut Smiling Depression atau depresi terselubung. Di luar dia aktif latihan Taekwondo, sekolah, dan main, tapi di dalam dia hancur lebur tanpa ada yang tahu.

Tanda-tanda seperti penurunan nafsu makan, susah tidur, atau celetukan soal kematian seringkali dianggap angin lalu oleh orang dewasa. Padahal, itu adalah S.O.S dari anak.

Kita Terlalu Menggampangkan "Anak Kecil Tau Apa?"

Kasus SA ini adalah tamparan keras bagi para orang tua dan pendidik.

1. Validasi Emosi itu Penting Jangan pernah bilang "Ah, kamu masih kecil, masalahmu apa sih? Paling cuma PR." Beban anak 12 tahun hari ini beda dengan beban kita dulu. Tekanan akademik, standar sosial media, dan kesepian (loneliness) di era digital itu nyata.

2. Ruang Dialog yang Hilang Mungkin SA tidak di-bully, mungkin dia tidak miskin. Tapi apakah dia punya Tempat Cerita? Apakah ada orang dewasa yang mau mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakimi? Rumah yang "tenang" (tidak ada pertengkaran) belum tentu rumah yang "hangat" (penuh komunikasi).

3. Edukasi Kesehatan Mental di Sekolah Sekolah jangan cuma genjot nilai Matematika dan IPA. Ajarkan anak mengenali emosi mereka. Ajarkan bahwa "It's okay not to be okay" dan ajarkan kemana mereka harus lari jika merasa putus asa (selain ke tali gantung).

Peluk Adik/Anak Kalian Sekarang!

Sobat Zona, kita tidak bisa mengembalikan SA. Tapi kita bisa mencegah SA lainnya.

  • Cek Adik/Sepupu Kalian: Tanyakan kabar mereka, bukan cuma tanya nilai ulangan.
  • Perhatikan Perubahan Kecil: Kalau mereka tiba-tiba pendiam, atau tiba-tiba memberikan barang kesayangannya, waspadalah.
  • Jadilah Pendengar: Kadang mereka cuma butuh didengar, bukan dinasehati.

Selamat jalan, Adik SA. Maafkan dunia yang gagal memahami diammu. Semoga kamu tenang di sisi-Nya. 🥀

Gimana menurut kalian, Sobat Zona?

 

Baca juga: Mahasiswa Itera Lampung Diam-diam Rekam Teman Cewek Tanpa Busana: "Sehari Bisa Dua Kali", Pelaku Diinterogasi Warga!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150