Berita

Menangis Menyesal, Mahasiswi Berprestasi di Surabaya Tertangkap Mencuri untuk Makan dan Bayar Kos

Muhammad Fatich Nur Fadli 10 Februari 2026 | 16:13:50

Zona MahasiswaSobat Zona, pernah nggak sih kalian ngerasa hidup lagi capek-capeknya, dompet kosong melompong, sampai bingung besok mau makan apa? Bagi sebagian mahasiswa, itu mungkin cuma momen akhir bulan. Tapi bagi seorang mahasiswi berprestasi di Surabaya ini, itu adalah kenyataan hidup sehari-hari yang memaksanya mengambil jalan pintas yang salah.

Sebuah video yang diunggah oleh Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan (@luthfie.daily), mendadak viral dan bikin netizen se-Indonesia mewek berjamaah.Menyelesaikan skripsi sering kali dianggap sebagai perjalanan panjang yang melelahkan. Banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu satu hingga dua semester hanya untuk merampungkan bab demi bab, diwarnai dengan drama revisi, kebuntuan ide (writer's block), hingga dosen pembimbing yang sulit ditemui.

Namun, fenomena lulus cepat atau menyelesaikan draf skripsi hanya dalam waktu singkat (misalnya dua bulan) bukanlah hal yang mustahil. Ini bukan tentang seberapa jenius Anda, melainkan seberapa taktis strategi yang Anda gunakan.

Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!

Dalam video tersebut, terekam momen memilukan seorang mahasiswi yang tertangkap basah mencuri sebuah handphone (HP). Namun, bukannya berakhir di balik jeruji besi yang dingin, kisah ini justru berakhir dengan air mata haru dan pelukan kemanusiaan.

Ternyata, pelaku bukanlah kriminal biasa. Dia adalah mahasiswi jenius dengan IPK 3.85 yang terpaksa mencuri demi bertahan hidup karena uang sakunya hanya Rp 200 ribu per bulan. Simak kisah selengkapnya yang menampar realita sosial kita ini.

Tangisan Penyesalan di Kantor Polisi

Suasana di ruangan Kapolrestabes Surabaya hari itu berbeda dari biasanya. Tidak ada bentakan garang, yang ada hanya isak tangis sesenggukan.

Seorang mahasiswi (identitas disamarkan demi privasi) duduk tertunduk malu didampingi ibunya yang sederhana. Di hadapan mereka, duduk sang korban pencurian dan Pak Polisi Luthfie yang bertindak sebagai mediator.

Dengan suara bergetar, mahasiswi tersebut mengakui perbuatannya.

"Terpaksa apa gimana kok sampai (mencuri)?" tanya Kombes Luthfie lembut. "Nggak ada uang," jawab mahasiswi itu lirih, air matanya tak terbendung.

Dia mengaku bingung. Uang habis, perut lapar, tagihan kos menunggak. Dalam keputusasaan, logika akademisnya mati, digantikan insting bertahan hidup yang nekat.

Survival Mode: Hidup di Surabaya Modal 200 Ribu

Bagian ini yang paling bikin dada sesak, Sobat Zona. Di kota metropolitan sekelas Surabaya, di mana sekali makan di warteg saja bisa habis 15-20 ribu, mahasiswi ini harus bertahan hidup dengan kiriman Rp 200.000 per BULAN.

Kombes Luthfie yang mendengar hal itu sampai kaget dan tak percaya.

"Rp 200 ribu per bulan cukup emang, gimana caranya? Masak gak?" selidik Luthfie.

Mahasiswi itu menjelaskan taktik survival-nya: Dia masak nasi sendiri di kosan. Lauknya?

"Telur dadar sama mi," jawabnya singkat.

Setiap hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hanya telur dan mi instan. Tidak ada ngopi cantik, tidak ada skincare, tidak ada bioskop. Semua demi mengejar gelar sarjana. Ayahnya hanyalah seorang buruh tani, dan ibunya ibu rumah tangga biasa. Kiriman 200 ribu itu adalah upaya maksimal orang tuanya.

Plot Twist: Otak Encer, IPK 3.85!

Yang membuat hati Pak Kapolres semakin tersentuh adalah fakta akademis sang mahasiswi. Meskipun hidup dalam keterbatasan gizi dan finansial, otaknya tetap cemerlang.

Saat ditanya soal nilai kuliah, jawabannya bikin speechless.

"IPK 3.85. Nggak tahu kok tiba-tiba kepikiran nyuri," akunya penuh penyesalan.

"Nilai IPK 3.85 itu luar biasa," puji Luthfie.

Bayangkan, Guys. Di tengah rasa lapar dan pusing mikirin biaya hidup, dia masih bisa mencetak nilai Cum Laude yang nyaris sempurna (4.00). Ini membuktikan bahwa dia adalah aset bangsa yang nyaris "mati" karena kemiskinan.

Restorative Justice: Kemaafan Korban & Bantuan Kapolres

Beruntung, hukum di Indonesia masih punya hati nurani. Penerapan Restorative Justice (Keadilan Restoratif) menjadi penyelamat masa depan mahasiswi ini.

Korban pencurian, setelah mendengar latar belakang pelaku, dengan besar hati memilih memaafkan.

"Iya (diselesaikan secara) kekeluargaan, Pak," kata korban. "Maaf, ya, Mbak," ucap mahasiswi itu sambil menangis dan menyalami korban.

Tidak berhenti di situ, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan melakukan aksi heroik yang patut diacungi jempol. Beliau tidak hanya membebaskan mahasiswi tersebut dari jerat hukum, tapi juga memberikan bantuan uang tunai untuk membayar tunggakan kos dan biaya hidup.

"Dijual ya? (Barangnya) terus untuk apa? Bayar kosan? Berjanji tidak lagi mengulangi hal itu. Nanti saya bantu biaya kosan dan lain-lain ya," janji Luthfie. "Bantu orang tua sama adiknya, ya. Rajin belajar biar cepat lulus," pesannya.

Dimana Beasiswa KIP Kuliah?

Sobat Zona, kisah ini adalah tamparan keras bagi sistem pendidikan dan kesejahteraan sosial kita.

1. KIP Kuliah Tepat Sasaran? Mahasiswi dengan IPK 3.85 dan orang tua buruh tani seharusnya menjadi Prioritas Utama penerima beasiswa KIP Kuliah atau bantuan pemerintah lainnya. Kemana perginya beasiswa itu? Apakah tersangkut birokrasi? Atau kalah dengan mahasiswa yang "pura-pura miskin"? Kampus wajib melakukan cross-check data mahasiswanya yang rentan putus kuliah karena ekonomi.

2. The Real "Les Misérables" Kisah ini mirip novel Les Misérables, di mana Jean Valjean mencuri roti karena lapar. Mahasiswi ini mencuri HP bukan untuk gaya-gayaan atau beli iPhone terbaru, tapi untuk Makan dan Bayar Kos. Ini adalah kriminalitas yang dipicu oleh desakan perut (economic crime), bukan niat jahat murni.

3. Apresiasi Polri Humanis Langkah Kombes Pol Luthfie adalah contoh nyata Polisi Pengayom Masyarakat. Menghukum penjara mahasiswi berprestasi ini hanya akan menghancurkan masa depannya dan tidak menyelesaikan akar masalah (kemiskinan). Pendekatan humanis ini menyelamatkan satu generasi bangsa.

Pesan untuk Kamu yang Sedang Berjuang

Buat Sobat Zona yang mungkin sedang mengalami kesulitan serupa: Jangan menyerah dan jangan ambil jalan pintas.

  • Speak Up: Cerita ke teman, dosen wali, atau BEM kampus. Banyak orang baik yang siap bantu.
  • Cari Beasiswa: Kejar info beasiswa swasta atau alumni. Nilai bagus adalah modal utamamu.
  • Kerja Part-Time: Jaga warnet, jadi freelancer, atau jualan kecil-kecilan yang halal lebih mulia daripada mengambil hak orang lain.

Untuk mahasiswi di berita ini, jadikan ini pelajaran termahal dalam hidupmu. Bangkitlah, selesaikan kuliahmu dengan gemilang, dan buktikan kamu bisa sukses serta mengangkat derajat orang tuamu.

Terima kasih Pak Polisi Luthfie dan Mbak Korban yang baik hati. Kalian telah menyelamatkan satu nyawa dan satu mimpi.

Gimana perasaan kalian baca berita ini, Sobat Zona?

Baca juga: Mahasiswa Itera Lampung Diam-diam Rekam Teman Cewek Tanpa Busana: "Sehari Bisa Dua Kali", Pelaku Diinterogasi Warga!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150