Zona Mahasiswa - Sobat Zona, tarik napas panjang dulu sebelum baca ini. Hati rasanya seperti diremas-remas membaca berita dari timur Indonesia kali ini. Di saat para pejabat negara sibuk pamer mobil mewah atau berdebat soal politik kekuasaan di tahun 2026, ada satu nyawa anak bangsa melayang sia-sia.
Bukan karena penyakit kronis, bukan karena kecelakaan. Seorang siswa kelas 4 SD berinisial YBR di Kabupaten Ngada, NTT, nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.
Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!
Alasannya? Sungguh menyayat hati: Bayangkan, Guys. Di era teknologi AI dan Metaverse ini, masih ada anak Indonesia yang merasa hidupnya tidak berarti hanya karena tak punya alat tulis seharga gorengan. Ini bukan sekadar tragedi keluarga, ini adalah Tamparan Keras bagi Negara yang katanya menjamin pendidikan gratis.
Simak kronologi pilu yang membuat air mata tak terbendung ini.
Kronologi: Malam Terakhir Bersama Ibu
Peristiwa memilukan ini terungkap setelah jasad YBR ditemukan tergantung di sebuah pohon cengkih di Kecamatan Jerebuu, Ngada, pada Kamis (29/1/2026).
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menceritakan latar belakang kejadian yang bikin dada sesak. YBR sehari-harinya tinggal bersama neneknya di desa sebelah. Namun, pada malam sebelum kejadian, ia sengaja menginap di rumah ibunya.
Tujuannya satu: Meminta uang untuk kebutuhan sekolah.
"Menurut pengakuan ibunya, permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ungkap Dion Roa, Selasa (3/2/2026).
YBR meminta dibelikan buku dan pena agar bisa belajar seperti teman-temannya. Namun, sang ibu terpaksa menolak. Bukan karena pelit, tapi karena tidak ada uang.
Potret Kemiskinan Ekstrem: Ibu Janda Hidupi 5 Anak
Penolakan sang ibu bukan tanpa alasan. Kondisi ekonomi keluarga ini memang sangat memprihatinkan.
Sang ibu adalah orang tua tunggal (single parent) yang harus menanggung beban hidup lima orang anak sendirian. Ayah korban diketahui sudah pergi meninggalkan keluarga (berpisah) sejak sekitar 10 tahun yang lalu.
"Hidupnya (ibu korban) susah," ujar Dion singkat, namun menggambarkan segalanya.
Bayangkan posisi sang ibu. Di satu sisi ingin membelikan buku anaknya, di sisi lain mungkin besok mereka tidak bisa makan jika uang itu terpakai. Dilema kemiskinan inilah yang akhirnya berujung petaka. YBR yang masih kelas 4 SD mungkin belum memahami betapa sulitnya mencari uang, dan rasa kecewa itu berubah menjadi putus asa.
Surat Terakhir: Jeritan Hati Anak Kecil
Kepolisian Resor (Polres) Ngada yang melakukan evakuasi menemukan bukti yang menyayat hati di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Sebucuk surat tulisan tangan ditemukan di saku atau di dekat korban. Surat itu ditulis oleh YBR sendiri sebelum ia memutuskan mengakhiri hidupnya.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan temuan tersebut.
"Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis," kata Benediktus.
Meski polisi tidak merinci isi detail suratnya demi etika, keberadaan surat itu mengonfirmasi bahwa YBR melakukan tindakannnya dengan kesadaran penuh akibat rasa kecewa dan tekanan batin yang ia alami. Anak sekecil itu sudah menanggung beban pikiran yang begitu berat.
Dimana Sila Kelima Pancasila?
Sobat Zona, kasus YBR ini harusnya bikin kita semua, terutama Pemerintah, melek mata lebar-lebar.
1. Pendidikan "Gratis" yang Semu Kita sering dengar slogan "Sekolah Gratis". Tapi faktanya? Gratis SPP doang. Seragam, buku, pulpen, LKS, transport, semua bayar. Bagi kita mungkin uang 5 ribu perak buat beli buku itu receh, tapi bagi keluarga seperti YBR, itu barang mewah. Mana Kartu Indonesia Pintar (KIP)? Apakah bantuan itu sampai ke tangan YBR? Atau nyangkut di birokrasi?
2. Kesehatan Mental Anak & Kemiskinan Kemiskinan itu membunuh. Bukan cuma bikin lapar, tapi bikin mental hancur (hopeless). Anak-anak yang tumbuh di lingkungan broken home dan kemiskinan ekstrem sangat rentan depresi. Mereka menyerap stres orang tuanya. YBR adalah korban dari sistem perlindungan sosial yang bolong-bolong.
3. Dana Desa & Kepedulian Lingkungan Kasus ini juga jadi kritik buat kita di level masyarakat. Apakah tetangga atau aparat desa tidak tahu ada warganya yang saking susahnya sampai nggak bisa beli buku? Social safety net (jaring pengaman sosial) di lingkungan terdekat harusnya jalan.
Selamat jalan, Adik YBR. Maafkan negeri ini yang belum bisa menjaminmu memegang pena dengan tenang. Semoga tenang di sisi-Nya. 🥀
Komentar
0

