Berita

Bikin Netizen Hilang Respect! Kakek Penjual ES Gabus Ini Bohong ke KDM dan Malah Pengen Bantuan Mobil

Muhammad Fatich Nur Fadli 31 Januari 2026 | 15:45:28

Zona MahasiswaSobat Zona, masih ingat pepatah "Dikasih Hati Minta Jantung"? Atau "Air Susu Dibalas Air Tuba"? Sepertinya pepatah-pepatah lawas itu sedang relevan banget menggambarkan drama kehidupan Bapak Penjual Es Gabus yang kemarin sempat viral, Ajat Suderajat.

Minggu lalu, satu Indonesia menangis dan marah melihat Pak Suderajat dianiaya, dituduh jual es spons, dagangannya dihancurkan, bahkan diseret-seret oleh oknum aparat. Kita semua berdiri di belakangnya. Tagar #JusticeForPakSuderajat menggema. Bantuan mengalir deras, simpati membanjir.

Baca juga: Viral! 2 Pria Nekat Masturbasi di TransJakarta Rute 1A, Korban Kira Tetesan Air AC Ternyata...

TAPI... plot twist terjadi minggu ini. Simpati publik mendadak berbalik arah menjadi antipati. Pak Suderajat yang tadinya dianggap sosok "wong cilik yang terzalimi" dan jujur, kini ketahuan berbohong berkali-kali.

Puncaknya, saat diundang ke stasiun TV, dengan entengnya dia bilang kecewa dikasih motor sama Kapolres, padahal maunya MOBIL. What?!

Gimana ceritanya korban penganiayaan berubah jadi sosok yang dinilai "ngelunjak" dan manipulatif? Yuk, kita bedah drama sosial yang bikin tepok jidat ini!

Minta Mobil Buat Jalan-jalan: Hilangnya Rasa Syukur?

Momen yang bikin netizen ilfeel massal terjadi saat Suderajat menjadi bintang tamu di acara talkshow populer "Pagi-Pagi Ambyar", Kamis (29/1/2026).

Sebagai bentuk permintaan maaf atas insiden penganiayaan dan salah tangkap, Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Abdul Waras, secara personal mendatangi rumah Suderajat dan memberikan hadiah satu unit sepeda motor. Tujuannya jelas: untuk membantu operasional dagang Pak Suderajat agar lebih mudah mencari nafkah.

Tapi, apa respon Pak Suderajat di TV? Bukannya bersyukur, dia malah request lebih.

"Saya tadinya mau minta mobil, mobil buat jalan-jalan sama keluarga. Saya mau mobil, malah dikasih motor. Disetirin sama anak," celoteh Suderajat dengan polos (atau tidak tahu diri?).

Pernyataan ini sontak bikin para host dan penonton tercengang. Bayangkan, Guys. Dikasih motor gratis saja sudah rezeki nomplok, ini malah minta mobil dengan alasan "buat jalan-jalan". Padahal, narasi awal yang dibangun adalah kesusahan ekonomi untuk makan sehari-hari.

Netizen pun langsung "merujak" kolom komentar. Banyak yang menilai Pak Suderajat menderita sindrom "aji mumpung" alias memanfaatkan momen viral untuk mengeruk keuntungan materi sebanyak-banyaknya tanpa rasa malu.

Kena Mental! Dedi Mulyadi Bongkar Deretan Kebohongan

Sebelum blunder soal mobil, "topeng" Pak Suderajat sebenarnya sudah mulai terkelupas saat ia bertemu dengan Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat yang dikenal sebagai "Bapak Detektif Sosial".

KDM, yang niat awalnya ingin membantu totalitas, justru menemukan banyak ketidaksesuaian antara ucapan Suderajat dengan fakta di lapangan. KDM pun tak segan menyentil keras ketidakjujuran si bapak.

Berikut daftar kebohongan yang dibongkar KDM:

1. Sekolah Anak (Negeri vs Swasta) Suderajat mengaku anaknya sekolah di SD Negeri (biasanya gratis/murah). Setelah dicek KDM, ternyata anaknya sekolah di Swasta. Ini mengindikasikan kemampuan finansial yang tidak se-"melarat" pengakuannya.

2. Status Rumah (Ngontrak vs Milik Sendiri) Suderajat bilang ke publik kalau dia mengontrak rumah bertahun-tahun dan hidup susah. Faktanya? Dia PUNYA RUMAH SENDIRI sejak tahun 2007.

3. Warisan (200 Ribu vs Rumah) Saat ditanya soal warisan orang tua, Suderajat berakting sedih dan bilang cuma dapat Rp 200.000. Faktanya? Orang tuanya membelikan rumah yang ia tempati sekarang.

"Babe ngebohong. Dia bilangnya saya dikasih warisan cuma Rp 200 ribu padahal dikasih rumah tahun 2007," semprot Dedi Mulyadi.

KDM menegaskan, kunci keluar dari kemiskinan itu bukan cuma bantuan, tapi KEJUJURAN. Kalau dari awal sudah manipulatif demi dikasihani, bantuan sebanyak apapun nggak akan berkah.

"Karena gini Be, Babe ini kan hidupnya susah. Tapi Babe harus merubah hidup Babe agar tidak susah. Caranya gimana? Jujur dan benar," nasihat KDM menohok.

Flashback: Tetap Korban Kekerasan (Jangan Lupa Konteks)

Meskipun sekarang Pak Suderajat bikin kesel, kita harus tetap objektif, Sobat Zona. Kita tidak boleh menafikan fakta bahwa dia PERNAH menjadi korban ketidakadilan hukum.

Kejadian Sabtu (24/1/2026) di Kemayoran itu nyata.

  • Dia dituduh jual es spons tanpa bukti lab (ternyata aman).
  • Dia dianiaya oknum aparat (TNI/Polri).
  • Dia diseret, disabet selang air, dan diperlakukan tidak manusiawi.

"Saya (diperlakukan) kayak anjing. Kaki disuruh diangkat-angkat. Saya disabet, pakai selang air. Ada 10 orang yang menganiaya saya," cerita Suderajat tentang traumanya.

Polisi dan TNI yang menganiaya TETAP SALAH dan harus diproses hukum. Fakta bahwa Suderajat ternyata orangnya "ngelunjak" atau suka bohong, TIDAK MEMBENARKAN aksi penganiayaan yang dia terima sebelumnya. Dua hal ini adalah kasus yang berbeda.

  • Kasus 1: Penganiayaan & Fitnah (Suderajat Korban, Aparat Salah).
  • Kasus 2: Eksploitasi Bantuan & Kebohongan (Suderajat Salah, Publik Kecewa).

Fenomena "Victim Mentality" & Trust Issue

Kasus Pak Suderajat ini adalah studi kasus sosial yang menarik sekaligus menyedihkan.

1. Mentalitas Pengemis (Begging Mentality): Ada sebagian orang yang ketika mendapat sorotan dan bantuan, bukannya bangkit mandiri, malah merasa nyaman menjadi "korban" dan meminta lebih. Mereka menjadikan kemiskinan atau musibah sebagai komoditas dagang. Minta mobil ke Kapolres adalah puncak dari mentalitas ini.

2. Dampak ke Orang Lain (Trust Issue): Perilaku Suderajat ini berbahaya bagi ekosistem filantropi (kebaikan) di Indonesia. Orang-orang baik (donatur) jadi skeptis dan trust issue. "Ah, nanti kayak pedagang es gabus lagi, dibantu malah nipu." Kasihan orang-orang yang beneran susah dan jujur, mereka jadi kena imbasnya karena donatur jadi malas membantu.

3. Peran Dedi Mulyadi: Salut buat KDM. Beliau mengajarkan kita untuk membantu dengan cerdas (Smart Charity). Membantu bukan sekadar kasih uang lalu pergi, tapi memvalidasi data dan mengedukasi mental penerima bantuan. Renovasi rumah tetap jalan, tapi teguran moral juga jalan.

Hati-Hati, Netizen!

Sobat Zona, dari kasus ini kita belajar untuk tidak mudah terombang-ambing emosi. Saat dia dianiaya, kita bela hak asasinya. Saat dia berbohong dan serakah, kita kritik mentalitasnya.

Jangan sampai rasa kasihan kita dimanfaatkan. Dan buat Pak Suderajat (kalau baca ini), tolong Pak, rasa syukur itu obat paling mujarab. Punya motor, punya rumah (hasil warisan/renovasi), dagangan terbukti aman, itu sudah nikmat luar biasa. Jangan sampai karena serakah minta mobil, nikmat yang ada malah dicabut Tuhan.

Jadilah miskin harta kalau memang nasib, tapi jangan miskin mental dan harga diri.

Baca juga: Dokter PPDS Unsri Diperas Senior Buat Clubbing & Skincare, Korban Depresi Sampai Mau Akhiri Hidup!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150