Berita

Dokter PPDS Unsri Diperas Senior Buat Clubbing & Skincare, Korban Depresi Sampai Mau Akhiri Hidup!

Muhammad Fatich Nur Fadli 14 Januari 2026 | 13:37:48

Zona MahasiswaSobat Zona, tarik napas panjang dulu karena berita kali ini bakal bikin dada sesak dan emosi memuncak. Belum kering luka dunia kedokteran kita akibat kasus-kasus perundungan sebelumnya, kini "borok" feodalisme di pendidikan dokter spesialis kembali pecah. Kali ini lokasinya di Universitas Sriwijaya (Unsri) dan RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.

Seorang mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Mata berinisial OM, diduga menjadi sapi perah para seniornya. Bukan cuma disuruh jaga malam atau ngerjain tugas, OM diperas habis-habisan untuk membiayai Gaya Hidup Hedon seniornya.

Akibat tekanan mental dan finansial yang tak manusiawi ini, korban dikabarkan sempat mencoba mengakhiri hidup dan akhirnya memilih mengundurkan diri. Kemenkes pun langsung "mengamuk" dengan membekukan prodi tersebut.

Semenyeramkan apa budaya senioritas di sana? Dan apa saja list "palak" para senior yang katanya kaum intelektual itu? Yuk, kita bedah tuntas!

Baca juga: Kuliah Ekonomi Tapi Gak Tau Istilah-istilah Ini? Malu Dong! Pahami Biar Nggak "Plonga-Plongo" di Kelas

List Belanja Senior: Dari Skincare Hingga Sewa Padel

Kalau biasanya bullying itu berupa bentakan fisik atau verbal, di kasus PPDS Mata Unsri ini levelnya sudah Eksploitasi Finansial.

Berdasarkan hasil investigasi, korban OM dipaksa menjadi "ATM Berjalan" bagi para seniornya. Daftar permintaannya pun bikin geleng-geleng kepala karena sangat pribadi dan hedonis. Berikut list dosa para senior yang terungkap:

  1. Bayar Uang Semesteran Senior: Bayangin, senior yang sekolah, junior yang bayar SPP-nya. Mindblowing!
  2. Biaya Hiburan Malam: Korban harus memodali senior untuk clubbing, party, hingga makan dan minum enak.
  3. Hobi Mahal: Membelikan alat olahraga, sepeda, hingga biaya sewa lapangan Padel (olahraga mahal yang lagi hits).
  4. Perawatan Wajah: Membelikan Skincare buat senior. (Halo? Mau glowing kok nyusahin orang?).

Ini jelas bukan lagi soal pendidikan mental, tapi pemerasan murni. Senioritas dijadikan alat untuk memenuhi gaya hidup mewah yang mungkin nggak mampu mereka beli pakai uang sendiri.

Korban Depresi Berat: Mundur dan Nyaris Bunuh Diri

Tekanan bertubi-tubi ini membuat mental OM hancur. Bayangkan posisi korban: Sekolah susah, tugas menumpuk, dimaki-maki, uang habis diperas senior, dan tidak ada tempat mengadu.

Puncaknya, OM dilaporkan sempat berniat mengakhiri hidup. Beruntung nyawanya masih tertolong. Namun, impiannya menjadi dokter spesialis mata harus dikubur karena ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari PPDS Unsri.

Satu lagi talenta medis Indonesia gugur, bukan karena tidak mampu secara otak, tapi karena digerus oleh sistem yang toxic.

Respon Kampus & RS: Senior Cuma Dikasih SP?

Kasus ini akhirnya meledak dan memaksa pihak institusi buka suara. Direktur Utama RSMH Palembang, Siti Khalimah, membenarkan adanya investigasi terkait perundungan dan pemerasan ini.

"FK (Fakultas Kedokteran) telah mengeluarkan Surat Peringatan (SP) kepada para pelaku," tegas Siti Khalimah, Selasa (13/1/2026).

Siti menjelaskan bahwa pelaku pemerasan ini adalah sesama peserta didik (PPDS Senior). Pihak kampus dan rumah sakit mengklaim sudah memberikan sanksi.

"Namun yang saya tahu ada yang tertunda wisudanya. Itu yang saya tahu," tambahnya.

Banyak netizen yang menilai sanksi ini terlalu ringan. Hanya SP dan tunda wisuda untuk tindakan yang nyaris merenggut nyawa orang lain dan termasuk tindak pidana pemerasan?

Kemenkes Ngamuk: Prodi PPDS Mata DIBEKUKAN!

Berbeda dengan respon kampus yang terkesan normatif, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengambil langkah tegas ala "Thanos".

Kepala Satuan Pengawasan Internal (SPI) RSMH, Wijaya, mengonfirmasi bahwa Kemenkes resmi MEMBERHENTIKAN SEMENTARA Program Studi PPDS Mata FK Unsri di RSMH Palembang.

Alasannya jelas: Kejadian ini sudah berulang kali terjadi. Teguran lisan dan tertulis sepertinya tidak mempan, jadi sistemnya yang dimatikan dulu.

"Pemberhentian sementara ini, untuk memberikan waktu dan ruang kepada FK Unsri dan RSMH untuk memperbaiki sistem dan proses pembelajaran PPDS... Kemenkes tidak memberikan batasan waktu," jelas Wijaya.

Jadi, sampai sistem perundungan ini hilang dan ada perbaikan nyata, tidak akan ada kegiatan pendidikan di prodi tersebut. Ini adalah tamparan keras bagi FK Unsri.

Masuk Ranah Hukum: Polda Sumsel Bergerak

Tidak hanya sanksi akademik, para senior "matre" ini sekarang ketar-ketir karena kasus ini sudah masuk ranah pidana.

Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Nandang Mukmin Wijaya, menyatakan bahwa korban sudah membuat Laporan Polisi (LP) sejak akhir tahun lalu.

"Sudah ada laporan polisinya yang dibuat korban ke Polda Sumsel pada 29 Desember 2025 lalu," kata Nandang.

Saat ini polisi tengah melakukan penyelidikan mendalam. Jika terbukti, para pelaku bisa dijerat pasal pemerasan, pengancaman, hingga perbuatan tidak menyenangkan.

Analisis Zona: Lingkaran Setan Feodalisme Medis

Sobat Zona, kasus di Unsri ini membuka mata kita lebar-lebar tentang beberapa hal:

  1. Mentalitas "Raja Kecil": Senior merasa punya kuasa mutlak atas junior. Mereka merasa berhak dilayani bak raja, bahkan untuk urusan pribadi seperti skincare dan hobi. Ini adalah feodalisme primitif di lingkungan intelektual.
  2. Mahalnya Jadi Dokter Spesialis: Budaya seperti ini membuat pendidikan dokter spesialis seolah hanya untuk orang kaya. Kalau kamu pintar tapi pas-pasan, kamu bakal habis diperas senior. Akibatnya? Dokter spesialis di Indonesia makin langka dan mahal.
  3. Kriminal Berjubah Putih: Meminta uang dengan paksaan itu kriminal. Titik. Tidak ada pembenaran atas nama "tradisi" atau "pembentukan mental". Dokter yang memeras juniornya hari ini, berpotensi memeras pasiennya di masa depan demi gaya hidup.

Call to Action: Stop Normalisasi Bullying!

Kami dari Zona Mahasiswa berdiri bersama OM dan seluruh korban perundungan di PPDS manapun.

  • Untuk Kemenkes: Tolong kawal terus kasus ini. Jangan buka pembekuan prodi sebelum ada jaminan keamanan bagi junior.
  • Untuk Polisi: Usut tuntas aliran dananya. Penjarakan pelaku pemerasan agar ada efek jera. Jangan sampai selesai lewat "materai 10 ribu".
  • Untuk Kampus: Berhenti melindungi pelaku demi "nama baik". Nama baik itu dijaga dengan prestasi, bukan dengan menutupi aib kriminal.

Buat para senior PPDS di luar sana: Skincare dan clubbing itu pakai duit sendiri, Bos! Malu sama jas putih kalian!

Baca juga: HRD Nanya: "Masih Kerja Kok Udah Lamar Sini?" Jangan Panik! Ini Jawaban Cerdas Biar Kamu Tetap Dinilai Profesional & Visioner.

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150