Zona Mahasiswa - Sobat Zona, sebuah tragedi misterius kembali menyelimuti dunia kampus. Kematian seorang mahasiswi tingkat akhir (semester 8) dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Maria Agustina Naibaho (23), kini menjadi sorotan tajam publik dan pihak kepolisian.
Maria yang juga merupakan putri dari Anggota DPRD Tebing Tinggi, Mangatur Naibaho, ditemukan tak bernyawa di dalam kamar kosnya di Jalan Rela, Kecamatan Medan Perjuangan, pada Kamis (12/3/2026) malam.
Baca juga: Modus Bimbingan Skripsi di Kamar Hotel, Dosen UHN Pematangsiantar Resmi Dipecat Tidak Hormat!
Awalnya, korban diduga meninggal dunia karena sakit demam. Namun, saat pihak keluarga melihat langsung kondisi jenazah dan Tempat Kejadian Perkara (TKP), muncul rentetan kejanggalan fatal yang sangat mengarah pada dugaan tindak pidana kekerasan. Ada apa sebenarnya di balik tragedi ini? Mari kita bedah fakta-faktanya.
Kronologi Penemuan: Terkunci dari Dalam & Bau Menyengat
Penemuan tragis ini berawal dari kecurigaan kekasih korban, Sanggam Elroi Marbun. Pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB, Sanggam mendatangi kos Maria. Pintu kamar terkunci rapat dan tak ada jawaban dari dalam.
Merasa ada yang tidak beres, Sanggam meminta bantuan dua rekannya untuk mendobrak pintu.
"Saat pintu terbuka, tercium aroma tidak sedap dari dalam," ungkap Sanggam.
Tim Inafis Polrestabes Medan yang tiba di lokasi mengonfirmasi bahwa Maria diperkirakan sudah meninggal dunia selama kurang lebih empat hari sebelum ditemukan. Kondisi jenazah sudah mengalami pembengkakan di area perut, sementara bagian kepala dan kedua tangannya mulai membiru.
5 Kejanggalan Krusial: Mustahil Cuma Sakit Biasa!
Saat jenazah dibawa ke RS Bhayangkara TK II Medan, pihak keluarga menemukan hal-hal yang sangat tidak wajar. Jika polisi awalnya sempat menyebut tidak ada tanda kekerasan awal, temuan keluarga di lapangan justru berkata sebaliknya.
Berikut adalah 5 kejanggalan fatal di TKP:
- Ponsel Terbelah Dua: Handphone milik Maria ditemukan dalam kondisi rusak parah dan terbelah dua. Orang sakit demam tidak mungkin merusak HP-nya sendiri hingga terbelah. Ini indikasi kuat adanya perebutan barang atau penghilangan jejak komunikasi.
- Bercak Darah di Kamar Mandi: Ditemukan ceceran darah di area kamar mandi kos korban.
- Pendarahan Organ Vital: Terdapat indikasi pendarahan yang keluar dari area kelamin/organ vital korban.
- Memar di Area Ketiak: Ditemukan bekas luka memar di bawah ketiak kiri, yang sering kali menjadi tanda adanya perlawanan atau cengkeraman paksa.
- Memar di Lutut: Ditemukan juga luka memar di bagian lutut korban.
"Memar di bawah ketiak, memar lutut, dan kelamin berdarah. Bercak darah di kamar mandi, dan handphone terbelah," ungkap salah satu anggota keluarga di RS Bhayangkara.
Pesan Terakhir: "Ma, Aku Demam"
Berdasarkan penelusuran polisi, Maria terakhir kali berkomunikasi pada Selasa (10/3/2026). Ia mengirimkan pesan WhatsApp kepada ibunya dan mengeluhkan kondisi kesehatannya.
"Jadi korban itu masih ngomong sama mamanya dibilang demam... dan selanjutnya tidak ada lagi kabar," jelas Kapolsek Medan Tembung, Kompol Ras Maju Tarigan.
Ayah korban, Mangatur Naibaho (Bendahara DPC PDI-P Tebing Tinggi), mengaku sangat terpukul karena baru mengetahui kabar duka ini saat berada di perjalanan dari Pekanbaru. Ia menegaskan telah membuat laporan resmi ke polisi agar penyebab pasti kematian putrinya terungkap terang benderang.
Komentar
0

