Zona Mahasiswa - Sobat Zona, kalau aksi demonstrasi dengan orasi dan bakar ban di jalanan dirasa sudah terlalu mainstream, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) punya cara yang jauh lebih epik dan bikin merinding.
Setelah sebelumnya sempat viral dengan aksi simbolik "Prabowo-Gibran digantung", kali ini mereka kembali turun tangan menyuarakan kritik dengan pendekatan "jalur langit". Tepat pada Kamis (11/6) malam yang bertepatan dengan Malam Jumat Kliwon, mahasiswa FIB UGM menggelar aksi teatrikal kebudayaan bertajuk "Ruwatan FIB Merah".
Baca juga: Memalukan! Ilmuwan Gadungan Asal Indonesia Ketahuan Palsukan Riset Pakai AI di Konferensi Dunia
Bukan sekadar pentas seni biasa, aksi ini secara simbolik mengangkat tema "santet" untuk mengkritik habis-habisan berbagai polemik sosial, politik, dan ekonomi di era pemerintahan saat ini. Penasaran se-ekstrem apa aksinya? Yuk, kita bedah!
Kenapa Harus Malam Jumat Kliwon?
Bagi masyarakat Jawa, Malam Jumat Kliwon bukan sekadar malam biasa, melainkan waktu yang memiliki kekuatan spiritual dan magis yang sangat tinggi. Pemilihan waktu ini ternyata sangat disengaja oleh para mahasiswa.
Menurut Jack, salah satu mahasiswa FIB UGM yang terlibat, aksi ini adalah bentuk Ruwatan (ritual penyucian) sekaligus medium simbolik untuk mengirimkan doa bagi kondisi bangsa yang sedang carut-marut.
"Kami ingin menembus jalur langit melalui semua kepercayaan setiap teman-teman yang hadir di sini. Ini bukan hanya soal satu kepercayaan tertentu, tetapi menjadi ruang bersama untuk memanjatkan harapan," jelas Jack.
Jack juga menambahkan bahwa kritik dan perlawanan itu bentuknya luas. Mahasiswa tidak melulu harus berteriak di jalanan beraspal; merawat nalar kritis juga bisa dilakukan lewat panggung kebudayaan.
Simbol 'Santet': Kritik Keras Kebijakan Pemerintah
Naya, sang pemeran utama dalam aksi teatrikal ini, menjelaskan bahwa konsep "santet" dalam pertunjukan mereka adalah sebuah ekspresi simbolik yang bebas ditafsirkan oleh masyarakat. Namun, secara filosofis, "santet" ini diarahkan pada kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat.
Pertunjukan ini adalah muara dari rasa muak mahasiswa terhadap berbagai persoalan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
"Contoh paling sederhana bagaimana alam dirusak, campur tangan negara dalam urusan makan, urusan perniagaan sederhana, hingga perhatian terhadap pendidikan yang menurut kami justru belum menjadi prioritas," beber Naya mengkritisi deretan kebijakan pemerintah.
Seluruh properti, instalasi, dan alur cerita dalam teatrikal ini murni disusun secara kolektif oleh para peserta aksi sebagai bentuk perlawanan organik dari akar rumput.
Respons Kampus: Dikasih Lampu Hijau!
Biasanya, kalau mahasiswa bikin aksi ekstrem, pihak dekanat atau rektorat bakal langsung ketar-ketir dan ngasih teguran. Tapi, respons berbeda justru datang dari Wakil Dekan FIB UGM.
Alih-alih melarang, pihak dekanat justru menganggap aksi ini sebagai bentuk ekspresi demokrasi yang sah dan wujud nyata kepedulian mahasiswa terhadap negaranya.
"Kalau saya, sebagai mahasiswa, apa yang kalian lakukan ini bagus karena menunjukkan kepedulian terhadap negara. Yang penting bertanggung jawab dan tahu batas-batasnya. Menyuarakan pendapat itu boleh dan sah-sah saja," ujar sang Wakil Dekan.
Api Perlawanan Tak Boleh Padam!
Sobat Zona, aksi teatrikal dari kawan-kawan FIB UGM ini membuktikan bahwa kreativitas mahasiswa dalam mengkritik penguasa itu tidak ada batasnya. Ketika ruang-ruang diskusi formal mulai diabaikan oleh para pembuat kebijakan, maka Ruwatan dan "Jalur Langit" pun akhirnya ditempuh.
Seperti pesan kawan-kawan UGM: Silakan setiap kampus merancang aksi simboliknya sendiri. Indonesia sedang tidak baik-baik saja, dan kampus tidak boleh memilih diam!
Gimana nih menurut kalian soal aksi teatrikal bernuansa mistis ini, Sobat Zona? Keren, creepy, atau justru mewakili unek-unek kalian selama ini?
Baca juga: Gacor! Setelah Dibuatkan Lagu Kanda Bahlil Ciduk 7 Tambang Ilegal yang Bikin Rugi Negara 857 M
Komentar
0

