Zona Mahasiswa - Sobat Zona, mari kita bicara jujur. Momen Lebaran di kalender memang tertulis sebagai "Hari Raya Idul Fitri", ajang untuk saling memaafkan dan kembali suci. Tapi realitanya di lapangan? Ruang tamu keluarga sering kali berubah menjadi arena Mortal Kombat berkedok silaturahmi.
Bukannya deep talk atau saling menguatkan, kumpul keluarga sering kali malah jadi ajang flexing (pamer harta), adu pencapaian, hingga interogasi masa depan ("Kapan nikah?", "Gajinya berapa?", "Kerja di mana?").
Baca juga: Modus Bimbingan Skripsi di Kamar Hotel, Dosen UHN Pematangsiantar Resmi Dipecat Tidak Hormat!
Bagi sebagian anak rantau seperti Erika (30) dan Toha (22), pulang kampung bukanlah momen healing, melainkan penambah "dosa" dalam hati dan penguras isi dompet. Yuk, kita bedah fenomena toxic yang bikin anak muda zaman now makin malas mudik!
Kisah Erika: Mending Ambil Shift Kerja daripada Dengar Saudara Flexing
Sebelum menetap di Melbourne, Australia, Erika sangat paham rasanya "dijulidin" keluarga besar di Tangerang. Tradisi kumpul di rumah nenek sering kali berujung pada percakapan yang bikin mental down.
Alih-alih bernostalgia masa kecil, sepupu dan saudara jauh biasanya datang dengan satu misi: Pamer Pencapaian. Mau tidak mau, nama dan nasib Erika selalu ikut terseret dalam pusaran "adu nasib" tersebut.
"Seringkali Erika sengaja meminta shift kerja saat Lebaran, agar ada alasan tak hadir ke acara kumpul keluarga. Tapi ujung-ujungnya, tetap harus datang kalau tidak mau kena julid," curhatnya.
Sekarang, setelah 3 tahun tinggal di Australia, Erika merasa jauh lebih tenang. Jarak ribuan kilometer menjadi "tameng" alaminya dari omongan keluarga besar. Ia lebih memilih fokus pada keluarga inti (suami dan anak) serta menabung, ketimbang menghabiskan uang puluhan juta untuk tiket pesawat hanya demi mendengarkan saudara pamer harta secara live. Toh, maaf-maafan esensinya tetap sampai lewat video call.
Kisah Toha: Tabungan Ludes Demi 'Validasi' Sukses di Mata Tetangga
Kalau Erika memilih menghindar, lain lagi dengan Toha. Pemuda 22 tahun asal Jambi yang merantau ke Jogja ini akhirnya memutuskan mudik setelah 4 tahun absen. Sebagai fresh graduate yang baru setahun bekerja, Lebaran kali ini adalah "Ajang Pembuktian Diri".
Tapi, harga sebuah validasi ternyata sangat mahal, Sobat Zona. Toha yang gajinya berkisar di angka Rp3 jutaan, harus merelakan Rp6 Juta tabungannya menguap!
- Rp2 Juta untuk tiket bus PP lintas pulau.
- Rp4 Juta untuk sangu (THR) keluarga, keponakan, dan oleh-oleh.
Kenapa pengeluaran sosialnya sangat membengkak? Karena ada Ekspektasi Beracun dari orang desa. Di mata tetangga, orang yang punya gelar Sarjana dan bekerja di perantauan (apalagi di Pulau Jawa) dianggap pasti sukses dan bergelimang harta. Demi menjaga gengsi dan tidak dihina, Toha rela cosplay jadi orang kaya raya, padahal ia harus kembali berhemat ekstrem setelah kembali ke Jogja nanti.
Kenapa Kumpul Keluarga Bisa Se-Toxic Ini?
- Perbedaan Standar Kesuksesan Lintas Generasi: Generasi Boomer atau Gen X sering mengukur kesuksesan dari materi yang terlihat (mobil, perhiasan, jabatan). Sementara Gen Z dan Millennial lebih menghargai work-life balance dan kesehatan mental. Benturan standar inilah yang memicu komentar bernada merendahkan.
- Sindrom Pajak Rantau: Ada miskonsepsi bahwa merantau = otomatis kaya. Padahal, biaya hidup di kota besar sangat mencekik. Anak rantau sering terjebak dalam "Pajak Sosial" di mana mereka merasa WAJIB membawakan uang banyak agar keluarganya tidak diremehkan tetangga.
- Krisis Empati: Banyak orang lupa bahwa Lebaran adalah momen menebar maaf, bukan menebar insecurity. Bertanya privasi seseorang di depan umum bukanlah bentuk perhatian, melainkan invasi ruang personal.
Waras Lebih Penting daripada Gengsi!
Buat kamu yang Lebaran ini merasa deg-degan mau ketemu keluarga besar, ingat satu hal: Kamu tidak berutang validasi pada siapa pun.
Kalau kamu belum sukses, tidak apa-apa. Kalau kamu tidak punya budget untuk bagi-bagi THR, jujur saja. Jangan memaksakan diri sampai harus berutang di Pinjol hanya demi terlihat glow up di depan sepupu yang bahkan tidak peduli dengan cicilan bulananmu.
Tetapkan batasan (boundaries). Kalau obrolan keluarga mulai mengarah ke adu nasib dan flexing, kamu punya hak penuh untuk senyum, pamit pura-pura ke toilet, atau bantu cuci piring di dapur.
Selamat mudik bagi yang mudik. Dan selamat menjaga kewarasan bagi kita semua!
Komentar
0

