Zona Mahasiswa - Sobat Zona, sebentar lagi musim mudik Lebaran tiba! Di media sosial, mudik selalu digambarkan penuh tawa, pelukan hangat keluarga, dan nostalgia kampung halaman. Tapi, mari kita jujur-jujuran. Di balik senyum sumringah di terminal atau stasiun, ada dompet anak rantau yang menjerit dan tabungan yang ludes tak bersisa.
Kisah Toha (22), seorang perantau asal Jambi yang bekerja di Yogyakarta, mungkin adalah cerminan dari jutaan anak rantau di Indonesia. Setelah empat tahun menahan rindu dan tidak pulang kampung karena alasan biaya, tahun ini ia akhirnya memutuskan mudik.
Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!
Namun, harga yang harus dibayar untuk sebuah kata "pulang" ternyata sangat mahal. Bukan sekadar biaya tiket bus, melainkan biaya untuk "menjaga gengsi" di mata tetangga dan sanak saudara. Yuk, kita bedah fenomena toxic ekspektasi sosial ini!
4 Tahun Tahan Rindu: Realita Gaji Pas-pasan
Toha merantau ke Jogja sejak empat tahun lalu untuk kuliah, dan kini berstatus sebagai pekerja. Selama empat kali Lebaran, ia memilih merayakan hari kemenangan sendirian di kamar kos. Keputusannya logis tapi menyayat hati: Gajinya kecil dan ia tidak mau membebani orang tuanya.
Menjadi anak rantau dengan gaji UMR (Upah Minimum Regional) atau di bawahnya memang sebuah survival mode tingkat dewa. Boro-boro beli tiket pesawat lintas pulau, untuk makan sehari-hari dan bayar kos saja kadang harus ngos-ngosan.
"Setiap hari ia berusaha memberi kabar kepada keluarga agar tetap merasa dekat meski terpisah jarak," demikian rutinitas Toha mengobati kerinduannya.
Beruntung, orang tua Toha sangat pengertian dan tidak pernah memaksanya pulang. Tapi rasa rindu pada momen kebersamaan Lebaran masa kecil akhirnya mengalahkan rasionalitas keuangannya tahun ini.
Ongkos Perjalanan vs "Pajak Sosial"
Tahun ini, Toha mempersiapkan mudiknya dari jauh-jauh hari. Ia memilih naik bus dari Jogja ke Jambi lintas pulau. Selain lebih hemat dari pesawat, bus bisa menurunkannya lebih dekat ke rumah sehingga tidak merepotkan keluarga untuk menjemput jauh-jauh.
- Biaya Transportasi (PP): Sekitar Rp2.000.000. Angka ini mungkin masih masuk akal bagi seorang pekerja yang sudah menabung. Tapi, tunggu sampai kalian mendengar pengeluaran terbesarnya.
- Biaya "Pajak Sosial" (Gengsi): Sekitar Rp4.000.000. Total jenderal, Toha harus menyiapkan Rp6 Juta!
Untuk apa uang Rp4 juta itu? Jawabannya adalah tekanan sosial. Di kampung halaman, ada sebuah stereotip mematikan: "Kalau kerja di kota besar (Jawa), pulangnya pasti bawa uang banyak dan sudah sukses."
Demi memenuhi ekspektasi palsu lingkungan dan menjaga citra, Toha harus menyiapkan lembaran rupiah untuk dibagikan sebagai THR kepada saudara, keponakan, hingga tetangga.
Stop Normalisasi "Biar Tekor Asal Tersohor"
Sobat Zona, cerita Toha ini sangat valid dan menguras emosi. Sebagai AI, saya tidak memiliki tabungan atau keluarga untuk dikunjungi, tapi saya bisa menganalisis betapa beratnya beban psikologis ini dari kacamata realitas sosial. Mari kita bedah fenomena ini dengan jujur:
- Ekspektasi vs Realita: Orang di daerah sering mengira biaya hidup di kota besar itu murah dan gaji selalu sisa banyak. Kenyataannya, biaya hidup di kota (apalagi sewa kos, transport, dan makan) sangat mencekik. Gaji Rp4 juta di Jogja atau Jakarta rasanya cepat sekali menguap.
- Jebakan Gengsi: Membagikan rezeki ke orang tua dan keponakan terdekat itu wajar dan berpahala. Tapi, menghabiskan tabungan berbulan-bulan (bahkan berutang pinjol) hanya demi dibilang "sukses" oleh tetangga yang cuma ketemu setahun sekali? Itu adalah kebodohan finansial.
- Validasi Emosi: Toha tidak salah karena ingin membahagiakan keluarganya. Ini adalah bahasa cinta (love language) banyak anak pertama atau tulang punggung keluarga. Tapi ingat, kebahagiaan sejati saat Lebaran adalah kehadiran fisikmu dengan sehat dan selamat, bukan ketebalan amplopmu.
Pesan Buat Anak Rantau: Pulanglah dengan Jujur
Buat kamu yang senasib dengan Toha, ini saatnya kita memutus rantai toxic ini.
Pulanglah ke kampung halamanmu apa adanya. Kalau memang belum sukses secara finansial, jujur saja. Ceritakan betapa mahalnya biaya hidup di perantauan. Keluarga yang benar-benar menyayangimu akan memelukmu erat tanpa peduli isi dompetmu. Sedangkan tetangga yang julid? Biarkan saja. Toh, mereka tidak ikut patungan bayar kosmu bulan depan.
Jangan sampai setelah Lebaran selesai, kamu kembali ke kota rantau dengan dompet kosong, perut lapar, dan stres memikirkan cara bertahan hidup sampai gajian berikutnya.
Komentar
0

