Berita

Di Tengah Kesibukannya Jadi Presiden, SBY Sempat-sempatnya Terbitkan Jurnal Internasional Q1!

Muhammad Fatich Nur Fadli 06 Juni 2026 | 18:32:55

Zona MahasiswaSobat Zona, pernah merasa "pusing" banget sama skripsi dan revisi bab 3 yang nggak kelar-kelar? Kita sering banget pakai alibi "lagi sibuk banget" atau "nggak punya waktu" buat riset. Tapi, tahu nggak kalian kalau dulu ada seorang Presiden yang di tengah kesibukan luar biasa memimpin negara, masih sempat-sempatnya menerbitkan jurnal internasional kelas dunia?

Ya, kita sedang bicara tentang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat masih aktif menjabat sebagai Presiden RI pada tahun 2010, beliau berhasil menembus publikasi di Journal of Democracy dengan artikel berjudul "The Democratic Instinct in the 21st Century".

Baca juga: Memalukan! Ilmuwan Gadungan Asal Indonesia Ketahuan Palsukan Riset Pakai AI di Konferensi Dunia

Bukan jurnal sembarangan, Sobat Zona. Ini adalah jurnal peer-reviewed terbitan Johns Hopkins University Press yang masuk kategori Scopus Q1.

Apa Itu Q1? Kok Bisa Seseram Itu?

Buat mahasiswa tingkat akhir, kalian pasti tahu kalau Scopus Q1 adalah "kasta tertinggi" dalam dunia akademik. Q1 berarti jurnal tersebut masuk dalam top 25% terbaik di bidangnya secara global.

Artikel yang masuk ke sini harus melewati proses review yang super ketat dari para ahli internasional. Menembus Q1 saja sudah sulit bagi akademisi full-time, apalagi ini dilakukan oleh seorang Presiden yang hari-harinya diisi dengan rapat kabinet, kunjungan kerja, dan masalah nasional. Ini benar-benar sebuah masterclass dalam manajemen waktu dan ketajaman berpikir!

Resume "Monster": Bukan Sekadar Politis

Kualitas akademik SBY bukan jatuh dari langit, tapi hasil dari tempaan panjang. Sebelum jadi Presiden, track record pendidikannya sudah bikin melongo:

  • Pendidikan Formal: Lulusan terbaik AKABRI (Adhi Makayasa 1973), Master dari Webster University AS, dan Doktor Ekonomi Pertanian dari IPB.
  • Pendidikan Non-Formal (Militer): SBY adalah "pembelajar seumur hidup". Mulai dari Airborne & Ranger Course di Fort Benning AS, Jungle Warfare School di Panama, sampai lulusan terbaik Seskoad.
  • Gelar Honoris Causa: Dunia internasional mengakui kualitas beliau dengan lebih dari 10 gelar Doktor Kehormatan dari kampus top dunia seperti Tsinghua University (Tiongkok), Keio University (Jepang), hingga universitas ternama di AS dan Australia.

Pesan untuk Kita Semua

Kisah Pak SBY ini adalah pengingat keras bagi kita mahasiswa. Beliau membuktikan bahwa:

  1. Pengalaman nyata adalah bahan riset yang mahal. Pengalaman memimpin negara yang ia tulis dengan serius, diakui sebagai kontribusi ilmu pengetahuan dunia.
  2. Sibuk bukan alasan untuk berhenti belajar. SBY membuktikan bahwa menjadi praktisi (Presiden) dan akademisi bisa berjalan beriringan jika disiplin waktunya kuat.

Jadi, buat kalian yang masih suka mengeluh karena "susah cari referensi" atau "nggak ada waktu buat riset", mungkin ini saatnya kita berkaca. Kalau seorang Presiden saja bisa membagi waktu untuk riset kelas dunia di tengah memimpin 270 juta rakyat, masa kita nggak bisa menyelesaikan skripsi yang "cuma" seberapa persen dari itu?

Menjadikan Riset Sebagai Gaya Hidup

Sobat Zona, jangan jadikan skripsi atau riset sebagai beban yang harus segera diselesaikan. Jadikan itu sebagai ruang untuk menuangkan pemikiran kalian terhadap dunia. Kalau kalian serius, riset kalian bisa jadi warisan intelektual yang diakui banyak orang, bahkan mendunia!

 

Baca juga: Gacor! Setelah Dibuatkan Lagu Kanda Bahlil Ciduk 7 Tambang Ilegal yang Bikin Rugi Negara 857 M

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150