Zona Mahasiswa - Indonesia disebut memiliki belanja pendidikan yang rendah jika diukur berdasarkan persentase terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB.
Dalam daftar yang dirilis Seasia Stats, Indonesia tercatat mengalokasikan belanja pendidikan sebesar 1,3?ri PDB. Angka tersebut menjadi sorotan karena Indonesia juga memiliki proporsi penduduk usia 24 tahun ke bawah sebesar 40,2%.
Baca juga: Teliti Mitos Pesugihan Gunung Kawi, Mahasiswa UB Malah dapat ‘Pengalaman Tidak Biasa’
Data ini penting dibaca dengan hati-hati. Angka 1,3% tersebut merujuk pada belanja pendidikan terhadap PDB, bukan porsi anggaran pendidikan dalam APBN. Di Indonesia, pemerintah juga memiliki amanat konstitusi untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20?ri APBN dan APBD.
Indonesia Masuk Daftar Belanja Pendidikan Rendah
Berdasarkan daftar Seasia Stats, Indonesia berada di posisi terendah dengan belanja pendidikan sebesar 1,3?ri PDB.
Di bawahnya terdapat Pakistan dan Bangladesh yang sama-sama mencatat belanja pendidikan sebesar 2,0?ri PDB. Singapura berada di angka 2,2%, disusul Thailand 2,5%.
Sementara itu, Vietnam dan Irlandia sama-sama mencatat 2,9%. Türkiye berada di angka 3,1%, sedangkan Rumania dan Jepang masing-masing berada di angka 3,3%.
Daftar 10 Negara dalam Data Seasia Stats
Berikut daftar negara dengan belanja pendidikan rendah berdasarkan persentase terhadap PDB menurut Seasia Stats:
- Indonesia — 1,3?ri PDB | Penduduk usia ≤24 tahun: 40,2%
- Pakistan — 2,0% | 56,2%
- Bangladesh — 2,0% | 46,6%
- Singapura — 2,2% | 25,6%
- Thailand — 2,5% | 26,9%
- Vietnam — 2,9% | 36,6%
- Irlandia — 2,9% | 31,6%
- Türkiye — 3,1% | 35,4%
- Rumania — 3,3% | 26,7%
- Jepang — 3,3% | 20,8%
Kenapa Data Ini Jadi Sorotan?
Belanja pendidikan terhadap PDB menunjukkan seberapa besar porsi ekonomi suatu negara yang dialokasikan untuk pendidikan. Semakin besar penduduk usia muda, semakin besar pula kebutuhan terhadap sekolah, guru, dosen, fasilitas belajar, teknologi pendidikan, beasiswa, dan akses pendidikan yang merata.
Karena itu, angka belanja pendidikan yang rendah perlu dilihat sebagai sinyal evaluasi. Bukan hanya soal besar kecilnya anggaran di atas kertas, tetapi juga bagaimana anggaran tersebut benar-benar sampai pada peningkatan kualitas belajar.
Jangan Tertukar dengan Anggaran 20% APBN
Sobat Zona, penting untuk membedakan dua hal: belanja pendidikan sebagai persentase PDB dan anggaran pendidikan sebagai bagian dari APBN.
Persentase terhadap PDB menunjukkan ukuran belanja pendidikan dibandingkan total nilai ekonomi negara. Sementara itu, porsi 20% APBN/APBD menunjukkan kewajiban alokasi dalam struktur anggaran pemerintah.
Artinya, Indonesia bisa saja memiliki mandat 20% APBN untuk pendidikan, tetapi rasio belanja pendidikan terhadap PDB tetap terlihat rendah jika dibandingkan dengan ukuran ekonominya atau jika metode perhitungan datanya berbeda.
Dampaknya bagi Mahasiswa dan Generasi Muda
Bagi mahasiswa, isu ini bukan sekadar angka statistik. Belanja pendidikan berkaitan langsung dengan kualitas fasilitas kampus, biaya pendidikan, akses beasiswa, kualitas dosen, riset, hingga kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.
Jika investasi pendidikan tidak seimbang dengan besarnya populasi muda, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang. Mulai dari ketimpangan akses pendidikan, kualitas pembelajaran yang tidak merata, sampai rendahnya daya saing sumber daya manusia.
Karena itu, data ini perlu menjadi bahan diskusi publik. Pemerintah, kampus, dan masyarakat perlu memastikan bahwa anggaran pendidikan tidak hanya besar secara nominal, tetapi juga efektif, transparan, dan benar-benar berdampak bagi pelajar serta mahasiswa.
Baca juga: Mahasiswa KIP-K 'Retas' Celah Keamanan Claude AI, Langsung Diganjar Rp 66 Juta!
Komentar
0

