Zona Mahasiswa - Sobat Zona, niat hati ingin melakukan riset ilmiah yang out of the box, sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang malah terjebak pusaran kontroversi panas. Lima mahasiswa dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB yang tergabung dalam tim "Artha Kawi" nekat meneliti sesuatu yang tabu: Hubungan antara praktik ritual pesugihan di Gunung Kawi dan kondisi kesehatan mental pelakunya.
Baca juga: Kekurangan Dokter di Pelosok, DPR Usul Pakai AI Buat Analisis Penyakit Pasien
Hasil temuan awal riset Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini telanjur viral di media sosial dan memicu perdebatan sengit. Bukannya mendapat apresiasi, riset ini justru menuai bantahan dan surat keberatan resmi dari pihak pengelola situs ziarah Gunung Kawi. Waduh, ada plot twist apa nih di balik riset ini? Yuk, kita bedah bareng!
Temuan 'Mistis': Antara Halusinasi dan Psikosis
Penelitian yang didanai oleh Kemendikbudristek ini diberi judul "Artha Kawi: Kawi's Local Culture and Mental Disorder". Tim Artha Kawi turun langsung ke lapangan dan mewawancarai sejumlah informan yang punya pengalaman melakukan ritual di sana.
Fakta di lapangan cukup bikin merinding. Beberapa informan mengaku mengalami kejadian "tidak biasa", seperti mendengar suara gaib atau melihat sosok yang tak kasat mata.
"Tapi kenyataannya, jeda dari melakukan hal itu, satu minggu kemudian kenyataan gitu loh, mau dibilang itu halusinasi atau apa toh memang ada pembuktiannya begitu," ujar salah seorang informan.
Dari wawancara tersebut, tim peneliti menarik temuan awal bahwa ada keterkaitan signifikan antara ritual tersebut dengan kecenderungan Mental Disorder, khususnya Psikosis. Sebagai informasi, psikosis adalah kondisi di mana seseorang kehilangan sebagian kontak dengan kenyataan, sehingga sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang halusinasi.
"Secara general hasil yang kami dapatkan... terdapat keterkaitan antara praktik pesugihan Gunung Kawi dengan kecenderungan mental disorder khususnya Psikosis pada pelaku," jelas salah satu peneliti UB, Harun Rasyid.
Namun, tim menegaskan bahwa ini barulah kecenderungan pola pikir yang sangat kaku, bukan vonis "sakit jiwa parah". Mereka juga meluruskan bahwa tidak ditemukan bukti faktual adanya tumbal nyawa secara fisik, melainkan sekadar tafsiran simbolis dari para pelaku.
Pengelola Ngamuk: Beda Lokasi, Beda Cerita!
Publikasi awal yang tersebar di media ini sontak bikin Yayasan Ngesti Gondo selaku pengelola resmi Pesarean Gunung Kawi mendidih. Pada 12 Oktober 2023, mereka langsung melayangkan surat keberatan resmi kepada Rektor UB dan tim peneliti.
Juru bicara yayasan, Alie Zainal Abidin, memberikan bantahan telak dengan dua poin utama:
- Tidak ada pesugihan! Area Pesarean Gunung Kawi murni merupakan situs wisata religi dan ziarah ke makam tokoh perjuangan nasional, yakni Raden Mas Soeryo Koesoemo dan Raden Mas Iman Soedjono.
- Salah Sasaran Lokasi! Peneliti dinilai pukul rata dan tidak membedakan antara Keraton Gunung Kawi dan Pesarean Gunung Kawi. Keduanya adalah dua entitas yang berbeda, di lokasi terpisah, dan dikelola oleh pihak yang berbeda pula.
"Kami sedang berusaha membangun citra sebagai tempat budaya dan toleransi, bukan tempat mistis negatif. Diksi seperti 'pesugihan', 'tumbal', 'gangguan jiwa' sangat merugikan," tegas Alie.
Klarifikasi Kampus & Akhir Drama Riset
Sadar mahasiswanya sedang jadi sorotan tajam, pihak Rektorat UB langsung pasang badan. Kepala Divisi Hukum UB, Haru Permadi, mengklarifikasi bahwa riset tersebut sebenarnya belum final dan belum dipublikasikan secara resmi di jurnal ilmiah mana pun. Kegaduhan ini murni kesalahpahaman karena media mengambil cuplikan temuan awal yang belum matang.
Akhirnya, pada 24 Oktober 2023, kedua belah pihak sepakat untuk "ngopi bareng" dan bertemu langsung di lokasi. Hasil mediasinya berujung damai: Tim peneliti Artha Kawi berjanji akan memperjelas perbedaan lokasi, merevisi diksi yang sensitif, dan tidak lagi mengaitkan Pesarean Gunung Kawi dengan praktik pesugihan dalam laporan akhir mereka.
Riset Keren Harus Paham Konteks Budaya!
Sobat Zona, drama riset Artha Kawi ini ngasih kita pelajaran mahal banget, terutama buat kalian yang hobi ngerjain riset lapangan atau PKM yang bersinggungan dengan kearifan lokal.
Mengangkat tema kontroversial itu sah-sah saja dan justru bagus untuk ranah akademis. Tapi, pastikan pemetaan wilayah (geografis) dan konteks sosial budaya masyarakat setempat dipahami dengan sangat jeli. Jangan sampai salah sebut tempat atau salah generalisasi, karena hal itu bisa berdampak langsung pada citra suatu daerah dan hajat hidup warga di sekitarnya. Semangat terus buat tim Artha Kawi, jadikan ini batu loncatan biar risetnya makin perfect!
Baca juga: Jangan sampai Ketuker! Kosakata Unik Ini Ada di Judul Penelitian Kuantitatif & Kualitatif
Komentar
0

