Berita

Kekurangan Dokter di Pelosok, DPR Usul Pakai AI Buat Analisis Penyakit Pasien

Muhammad Fatich Nur Fadli 26 Juni 2026 | 17:30:43

Zona MahasiswaSobat Zona, perkembangan Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan sekarang memang makin gila-gilaan. Nggak cuma buat ngerjain tugas kuliah atau bikin materi presentasi, kini AI diusulkan buat ikut "nongkrong" di puskesmas daerah pelosok!

Wacana out of the box ini dilontarkan langsung oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR, Nihayatul Wafiroh, dalam Rapat Kerja bersama Kementerian Kesehatan di Senayan, Jakarta, pada Kamis (25/6/2026). Alasannya simpel tapi menampar realita: Indonesia masih krisis parah tenaga medis di daerah terpencil!

Baca juga: Jangan Buka SPSS Kalau Belum Paham Istilah Ini! Ini Kamus Dasar Olah Data Buat Pejuang Skripsi

Pendidikan Dokter Lama, Pasien Nggak Bisa Nunggu!

Dalam rapat tersebut, Nihayatul menyoroti betapa panjangnya proses untuk mencetak seorang dokter. Nggak seperti jurusan lain yang begitu lulus dan wisuda bisa langsung terjun ke dunia kerja, mahasiswa kedokteran harus melewati fase koas dan rentetan program pendidikan lanjutan yang memakan waktu bertahun-tahun.

"Nah, ini tentunya kalau menunggu kan nggak mungkin juga masyarakat menunggu sampai lulus," ujar Nihayatul di hadapan forum.

Oleh karena itu, ia mengusulkan agar teknologi AI bisa digunakan sebagai "jembatan" atau solusi sementara. AI diharapkan bisa membantu menganalisis penyakit pasien di daerah-daerah yang tidak memiliki dokter sama sekali. Meski ia sadar hasilnya tidak akan semaksimal sentuhan fisik dokter sungguhan, setidaknya teknologi ini bisa melakukan penanganan awal untuk penyakit-penyakit tertentu.

Fakta Ngenes dari Kemenkes: Puskesmas Tanpa Dokter Spesialis

Usulan nyeleneh tapi masuk akal ini ternyata lahir dari fakta memprihatinkan yang diungkapkan langsung oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Menkes mengakui bahwa distribusi tenaga medis di Indonesia masih sangat timpang dan banyak puskesmas di daerah yang sama sekali tidak memiliki dokter.

Kasus paling parah baru saja dilaporkan dari Kabupaten Mamberamo Raya, Papua. Menkes membongkar fakta yang bikin geleng-geleng kepala:

  • Nol Dokter Spesialis: Tidak ada satu pun dokter spesialis yang bertugas di kabupaten tersebut.
  • Krisis Dokter Gigi: Dari sekian banyak puskesmas yang ada, ketersediaan dokter giginya juga nol!

Melihat realita pahit ini, Nihayatul menyarankan agar Kemenkes mengembangkan konsep pemeriksaan jarak jauh (telemedicine berbasis AI). Apalagi, Kemenkes sebelumnya sudah sukses melakukan teknologi operasi jarak jauh (telesurgery). Menurutnya, hal serupa seharusnya bisa diimplementasikan untuk pemeriksaan kesehatan di wilayah yang krisis tenaga medis.

Analisis Zona: Solusi Cerdas atau Bukti Gagalnya Pemerataan?

Sobat Zona, usulan pakai AI untuk urusan medis di pelosok ini memang terdengar keren layaknya film sci-fi. Tapi di sisi lain, ini jadi tamparan keras buat sistem kesehatan dan pendidikan kita.

Memberikan beasiswa agar putra daerah mau sekolah kedokteran memang solusi yang luar biasa, tapi eksekusinya butuh waktu sangat lama. Sementara itu, banyak tenaga medis yang mungkin enggan ditempatkan di pelosok karena berbagai keterbatasan infrastruktur.

Pertanyaannya: Apakah sistem AI benar-benar siap menggantikan ketelitian dan empati diagnosis langsung dari seorang manusia? Di saat nyawa jadi taruhannya dan dokter fisik tidak tersedia, mungkin AI adalah satu-satunya "dokter jaga" yang bisa diandalkan sementara waktu.

Berikan pendapat kalian soal wacana DPR ini di kolom komentar, Sobat Zona! Setuju nggak kalau puskesmas pelosok dijaga pakai sistem AI?

Baca juga: Jangan sampai Ketuker! Kosakata Unik Ini Ada di Judul Penelitian Kuantitatif & Kualitatif

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150