Berita

Siti Rahmani Rauf, Pengarang Buku Bahasa Indonesia SD Tahun 80-an yang Sering Kita Dengar dengan Ini Budi, Ini Bapak Budi, Ini Adik Budi

Muhammad Fatich Nur Fadli 03 Agustus 2026 | 17:30:51

Zona MahasiswaSobat Zona, masih ingat dengan kalimat, “Ini Budi, ini Ibu Budi, ini Bapak Budi”? Bagi generasi yang bersekolah pada era 1980-an hingga 1990-an, rangkaian kalimat tersebut tentu sudah tidak asing lagi.

Kalimat sederhana itu pernah menjadi bagian penting dalam pembelajaran membaca siswa sekolah dasar. Namun, tahukah kalian siapa sosok yang berjasa di balik metode membaca tersebut?

 

Baca juga: Tak Sanggup Beri Ongkos Kereta Seorang Ayah Antar Anak ke ITB Naik Bajaj, Tempuh 24 Jam Perjalanan

Ia adalah Siti Rahmani Rauf, seorang guru yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan Indonesia.

Menjadi Guru Sejak Usia 18 Tahun

Siti Rahmani Rauf lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 5 Juni 1919. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah Belanda, ia mulai mengajar ketika usianya masih 18 tahun.

Siti menjalani profesi sebagai pendidik di Sumatra selama kurang lebih 15 tahun, yakni sejak 1938 hingga 1953. Setahun kemudian, ia pindah ke Jakarta bersama suami dan anak-anaknya.

Di Jakarta, Siti tetap melanjutkan pengabdiannya sebagai guru. Jabatan terakhirnya adalah kepala sekolah SD Tanah Abang 5, Jakarta Pusat, sebelum pensiun pada 1976. Riwayat tersebut disampaikan langsung oleh putrinya, Karmeni Rauf, kepada detikNews.

Mengembangkan Alat Peraga “Ini Budi”

Setelah pensiun, Siti menerima proyek dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat alat peraga pembelajaran Bahasa Indonesia.

Menurut Karmeni, buku paket yang memuat tokoh Budi sebenarnya telah tersedia. Namun, pemerintah membutuhkan alat peraga berupa gambar dan kartu kalimat agar materi membaca lebih mudah dipahami siswa.

Siti menerima proyek tersebut karena kecintaannya terhadap pendidikan dan kegemarannya menggambar. Bersama putrinya, ia menyelesaikan alat peraga itu dalam waktu kurang dari satu tahun.

Hasilnya kemudian dicetak dan didistribusikan ke berbagai wilayah di Jawa dan Sumatra. Tokoh Budi beserta keluarganya pun menjadi bagian yang sangat melekat dalam pengalaman belajar membaca anak-anak Indonesia.

Menolak Royalti Uang dan Memilih Berangkat Haji

Di balik kesuksesan karyanya, Siti Rahmani Rauf tidak meminta royalti dalam bentuk uang. Setelah alat peraga tersebut dicetak, penerbit sempat menanyakan bayaran yang diinginkannya.

Siti memilih agar jasanya dihargai dengan membiayai keberangkatannya ke Tanah Suci. Keinginan itu kemudian terwujud pada 1986. Karmeni menyatakan bahwa ibunya tidak menerima uang dari karya tersebut dan tidak menjalin hubungan bisnis lanjutan dengan penerbit maupun pemerintah. Kisah ini dimuat dalam laporan detikNews.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa karya Siti tidak semata-mata dilandasi kepentingan materi, tetapi juga pengabdian terhadap pendidikan dan keinginan pribadinya untuk menunaikan ibadah haji.

Menggunakan Metode SAS

Alat peraga “Ini Budi” menggunakan metode Struktural Analitik Sintetik atau SAS. Metode ini membantu siswa belajar membaca melalui tiga tahapan utama.

Pertama, siswa diperkenalkan dengan satu kalimat utuh, misalnya “Ini Budi”. Selanjutnya, kalimat tersebut diuraikan menjadi kata, suku kata, hingga huruf. Setelah itu, setiap unsur digabungkan kembali menjadi kalimat yang utuh.

Dalam penerapannya, siswa tidak hanya duduk dan mendengarkan guru. Mereka juga diajak memilih kartu kata, menyusun kalimat, dan menempelkannya di papan tulis. Proses belajar pun terasa lebih aktif dan menyenangkan.

Metode SAS memang banyak digunakan untuk pembelajaran membaca dan menulis tingkat pemula karena mengajarkan siswa dari bentuk yang utuh, kemudian menguraikannya, lalu menyusunnya kembali. Penjelasan ini juga sejalan dengan kajian pembelajaran yang dimuat melalui Garuda Kemdikbud.

Berganti Seiring Perkembangan Kurikulum

Menurut Karmeni, alat peraga “Ini Budi” digunakan dalam kurikulum sekolah dasar sekitar 1986 hingga 1996. Setelah periode tersebut, pihak keluarga tidak lagi memantau kelanjutan penggunaannya.

Sementara itu, laporan Liputan6 menyebutkan bahwa pada Juni 2014, penggunaan tokoh Budi secara resmi dihentikan dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Materi pembelajaran kemudian menggunakan tokoh-tokoh yang lebih beragam untuk menggambarkan kekayaan latar belakang masyarakat Indonesia. Perubahan tersebut juga berjalan seiring dengan penerapan sistem pembelajaran tematik dalam Kurikulum 2013.

Warisan yang Tidak Terlupakan

Siti Rahmani Rauf meninggal dunia di Jakarta pada 10 Mei 2016 dalam usia 96 tahun. Meskipun alat peraga “Ini Budi” tidak lagi digunakan seperti dahulu, kontribusinya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan dasar Indonesia.

Melalui gambar, kalimat sederhana, dan kegiatan belajar yang interaktif, Siti membantu banyak anak mengenal kata serta belajar membaca dengan cara yang lebih menyenangkan.

Kalimat “Ini Budi” mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya terdapat dedikasi seorang guru yang karyanya terus dikenang oleh banyak generasi.

Terima kasih, Ibu Siti Rahmani Rauf. Jasa dan pengabdianmu akan selalu menjadi bagian dari perjalanan literasi Indonesia.

 

Baca juga: Pemerintah Akan Buat Universitas Republik Indonesia, Lantas Apa Bedanya dengan Kampus Lain?

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150