Zona Mahasiswa - Sobat Zona, dokumen hasil pemeriksaan laboratorium dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, beredar di media sosial.
Dokumen tersebut turut dibahas oleh dokter Ferry Kusmalingga melalui akun Threads @dr.ferrykslg. Ia mengulas dua halaman hasil pemeriksaan yang disebut berasal dari UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.
Namun, perlu diketahui bahwa dokter Ferry bukan pihak yang mengambil sampel ataupun melakukan pemeriksaan laboratorium. Ia memberikan penjelasan medis berdasarkan dokumen yang beredar.
Tiga Jenis Bakteri Terdeteksi
Berdasarkan dokumen tersebut, pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah sampel makanan dari sekolah dan sampel muntahan siswa.
Hasil yang tercantum meliputi:
- Sampel nasi terdeteksi positif Bacillus cereus.
- Sampel ikan bersaus terdeteksi positif Staphylococcus aureus.
- Sampel melon terdeteksi positif Escherichia coli atau E. coli.
- Sampel muntahan siswa terdeteksi positif Staphylococcus aureus.
- Pemeriksaan Salmonella pada sampel yang diuji menunjukkan hasil negatif.
Temuan itu menunjukkan adanya cemaran bakteri pada beberapa sampel. Akan tetapi, hasil tersebut tetap perlu dibaca bersama data lengkap, seperti metode pemeriksaan, jumlah bakteri, standar batas aman, proses pengambilan sampel, dan kondisi penyimpanan sampel sebelum diperiksa.
Redaksi juga belum menemukan keterangan langsung dari UPTD Laboratorium Kesehatan Sumatera Utara yang mengonfirmasi keseluruhan dokumen yang beredar.
Berkaitan dengan Keamanan Pengolahan Makanan
Dokter Ferry menjelaskan bahwa Bacillus cereus dapat ditemukan pada makanan berbahan dasar beras. Risiko pertumbuhannya meningkat apabila nasi yang telah dimasak dibiarkan terlalu lama pada suhu yang tidak tepat.
Sementara itu, Staphylococcus aureus dapat berpindah ke makanan melalui tangan, kulit, hidung, peralatan, ataupun permukaan yang terkontaminasi. Bakteri ini dapat berkembang apabila makanan tidak disimpan pada suhu yang aman.
Beberapa jenis Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus memang dapat menghasilkan toksin yang tahan terhadap pemanasan tertentu. Toksin tersebut dapat menyebabkan mual, muntah, kram perut, dan diare.
Namun, dokumen yang beredar hanya mencantumkan pemeriksaan bakteri. Tidak terdapat informasi bahwa laboratorium telah menguji atau menemukan toksin tertentu dalam makanan.
Karena itu, hasil positif bakteri tidak boleh langsung diartikan bahwa toksin tahan panas sudah terbukti terdapat dalam setiap sampel.
Temuan E. coli Belum Menunjukkan Jenisnya
Dokumen tersebut juga mencantumkan temuan E. coli pada sampel melon.
Keberadaan E. coli pada makanan dapat menjadi indikator adanya persoalan kebersihan, air, pencucian bahan, penyimpanan, ataupun kontaminasi selama penanganan makanan.
Meski demikian, E. coli terdiri dari banyak jenis dan sebagian besar tidak menyebabkan penyakit berat.
Salah satu kelompok yang dapat menimbulkan komplikasi adalah Shiga toxin-producing E. coli atau STEC. Dalam kasus tertentu, infeksi STEC dapat memicu Hemolytic Uremic Syndrome yang berisiko mengganggu fungsi ginjal.
Namun, belum terdapat informasi bahwa E. coli dalam sampel melon tersebut telah diperiksa dan dinyatakan sebagai STEC. Diperlukan pengujian khusus terhadap strain atau gen penghasil toksin untuk memastikannya.
Oleh sebab itu, temuan tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa E. coli dalam melon menyebabkan gangguan ginjal pada siswa.
Belum Terbukti Menyebabkan Gangguan Saraf
Kasus ini turut dikaitkan dengan sejumlah siswa yang menurut keluarganya mengalami kejang, kesulitan berbicara, gangguan ingatan, dan masalah pada organ tubuh.
Namun, hasil pemeriksaan makanan tidak dapat langsung menjelaskan seluruh keluhan tersebut.
Untuk menentukan penyebab gangguan saraf atau organ, dokter perlu mempertimbangkan hasil pemeriksaan pasien, riwayat penyakit, kondisi saat dirawat, pemeriksaan darah, fungsi ginjal, pemeriksaan neurologi, serta berbagai kemungkinan medis lainnya.
Belum ada kesimpulan dokter yang membuktikan bahwa salah satu bakteri dalam dokumen tersebut menjadi penyebab langsung gangguan ingatan ataupun kesulitan berbicara yang dialami seorang siswi di Karo.
Sumber Kontaminasi Masih Perlu Diselidiki
Pemberitaan mengenai dokumen tersebut juga menyebut sampel yang diambil dari dapur MBG menunjukkan hasil negatif. Jika informasi itu benar, titik dan waktu terjadinya kontaminasi masih perlu ditelusuri.
Kontaminasi dapat terjadi pada berbagai tahapan, mulai dari penerimaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, pembagian, hingga makanan dikonsumsi.
Karena itu, investigasi tidak cukup hanya dengan menemukan bakteri dalam satu sampel. Pemeriksaan perlu mencakup kondisi dapur, kebersihan penjamah makanan, rantai suhu, waktu distribusi, kualitas air, peralatan, dan pencocokan dengan sampel klinis siswa.
Hasil laboratorium tersebut menjadi dasar penting untuk memperkuat penyelidikan. Namun, kesimpulan mengenai penyebab utama, lokasi kontaminasi, pihak yang bertanggung jawab, dan kaitannya dengan kondisi setiap korban tetap harus menunggu penjelasan resmi dari laboratorium, Dinas Kesehatan, BGN, serta tenaga medis yang menangani pasien.
Sobat Zona, apabila makanan yang diterima memiliki rasa, aroma, warna, atau tekstur tidak normal, sebaiknya jangan dikonsumsi. Segera laporkan kepada guru atau petugas dan simpan sampelnya untuk pemeriksaan.
Baca juga: Asap Semakin Pekat, Kadisdik Kalteng Bersikeras Tidak Liburkan Sekolah: Nanti Dapur MBG Mati
Komentar
0

