Berita

Febiola Br Purba, Wakil Ketua OSIS & Siswi Berprestasi yang Hilang 70% Ingatannya Karena Keracunan MBG

Muhammad Fatich Nur Fadli 08 September 2026 | 17:14:51

Zona MahasiswaSeorang siswi berinisial FP (16) asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, masih menjalani pemeriksaan kesehatan setelah diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keluarga menyebut FP sempat mengalami kesulitan berbicara dan tidak mengenali sejumlah anggota keluarga serta teman sekolahnya. Namun, penyebab medis dari keluhan tersebut belum dapat dipastikan karena hasil pemeriksaan lanjutan masih ditunggu.

 

Baca juga: Heboh! Pelecehan Mahasiswa UB saat Magang, Ditemukan Lebih dari 900 Foto, Video, Dan Rekaman Dalam Folder Tersembunyi Di Ponsel Pelaku

Pihak RSU Haji Medan juga menyatakan tidak menemukan diagnosis mengenai gangguan ingatan ataupun kondisi lidah ketika FP menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Berawal Setelah Menyantap Menu MBG

Menurut keterangan ibunya, kondisi FP mulai menurun setelah menyantap menu MBG di sekolah pada Kamis (13/8/2026).

Saat itu, FP mendapatkan makanan dengan lauk ikan tongkol. Kepada keluarganya, FP sempat mengatakan bahwa ikan tersebut terasa pahit dan keras. Namun, ia tetap memakannya karena lapar dan mengira rasa tersebut normal.

Tidak lama setelah makan, FP mulai merasa pusing. Meski tubuhnya tidak nyaman, ia masih berusaha mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Setelah pulang, kondisinya disebut semakin memburuk. FP mengalami pusing, gatal-gatal, muntah, dan tubuhnya terasa lemas. Keluarga kemudian membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

FP disebut sempat kehilangan kesadaran dan harus menjalani perawatan. Setelah diperbolehkan pulang, ia kembali mengalami kejang sehingga dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan.

Keluarga Sebut Sempat Tak Mengenali Kerabat

Ibu FP mengatakan perubahan daya ingat anaknya terlihat ketika keluarga dan teman-temannya datang menjenguk.

FP disebut sempat tidak mengenali bibi, adik, serta beberapa teman sekolah yang sebelumnya dekat dengannya. Keluarga juga mengeluhkan perubahan pada lidah yang membuat FP kesulitan berbicara.

Pada Sabtu (5/9/2026), FP kembali mengalami kejang dan dibawa ke rumah sakit di Berastagi. Dua hari kemudian, ia menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUP H Adam Malik, Medan.

FP diperiksa oleh dokter dari bidang gastroenterologi anak, neurologi anak, dan psikiatri. Ia juga menjalani pemeriksaan elektroensefalografi atau EEG untuk merekam aktivitas listrik pada otak.

Berdasarkan keterangan keluarga pada Senin (7/9/2026), daya ingat FP mulai pulih. Namun, keluarga masih menunggu hasil pemeriksaan dokter untuk mengetahui penyebab kesulitan berbicara, kejang, dan gangguan ingatan yang sempat dialaminya.

RSU Haji Sebut Tidak Ada Diagnosis Gangguan Ingatan

RSU Haji Medan membenarkan bahwa FP pernah menjalani perawatan setelah diduga mengalami keracunan MBG di Kabupaten Karo.

Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSU Haji Medan, Fitrady Ulianda Siregar, mengatakan FP mulai dirawat pada Selasa (18/8/2026). Saat itu, ia mengalami keluhan pada bagian perut dan mendapatkan perawatan intensif di Pediatric Intensive Care Unit atau PICU.

Menurut Fitrady, FP didiagnosis mengalami Irritable Bowel Syndrome dan Necrotizing Enterocolitis. Setelah menjalani perawatan, kondisinya dinyatakan membaik dan stabil.

Namun, pihak rumah sakit menegaskan tidak terdapat diagnosis mengenai gangguan ingatan ataupun kelainan pada lidah selama FP menjalani perawatan di RSU Haji Medan.

FP kemudian dianjurkan menjalani kontrol secara berkala di fasilitas kesehatan terdekat.

BGN Temukan Dugaan Kelalaian Penyimpanan Ikan

Dalam investigasi awal terhadap insiden keamanan pangan MBG di Kabupaten Karo, Badan Gizi Nasional menemukan dugaan kelalaian dalam penyimpanan bahan baku ikan.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan terdapat ratusan ekor ikan yang tidak dimasukkan ke lemari pembeku dan dibiarkan pada suhu ruangan selama lebih dari 12 jam sebelum diolah.

BGN menyebut kondisi tersebut sebagai kelalaian serius karena ikan yang tidak disimpan dengan benar berisiko mengalami pembusukan dan kontaminasi.

Meski demikian, temuan mengenai penyimpanan ikan tersebut berkaitan dengan penyelidikan insiden keracunan secara keseluruhan. Temuan itu belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa menu MBG secara langsung menyebabkan gangguan ingatan dan kesulitan berbicara yang dialami FP.

Hubungan antara makanan yang dikonsumsi, kejang, gangguan ingatan, dan kesulitan berbicara tetap memerlukan kesimpulan dari dokter berdasarkan hasil pemeriksaan medis.

Keluarga berharap FP segera memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat agar dapat pulih serta kembali mengikuti kegiatan sekolah.

Sobat Zona, semoga kondisi FP segera membaik. Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa keamanan penyimpanan, pengolahan, dan distribusi makanan harus diawasi secara ketat demi melindungi seluruh penerima manfaat MBG.

Baca juga: Asap Semakin Pekat, Kadisdik Kalteng Bersikeras Tidak Liburkan Sekolah: Nanti Dapur MBG Mati

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150