Berita

BEM Psikologi Bikin Kajian LGBT, Rektorat UI Langsung Klarifikasi: Itu Bukan Sikap Resmi Kampus!

Muhammad Fatich Nur Fadli 03 Juli 2026 | 16:56:20

Zona MahasiswaSobat Zona, lini masa media sosial belakangan ini lagi dibikin heboh oleh dinamika dari "Kampus Kuning". Universitas Indonesia (UI) baru saja menjadi sorotan tajam netizen setelah beredarnya unggahan viral yang diklaim sebagai hasil kajian dari BEM Fakultas Psikologi UI mengenai isu LGBT.

Sadar kampusnya sedang ramai diperbincangkan, pihak Rektorat UI pun langsung turun tangan dan merilis pernyataan resmi untuk meluruskan polemik tersebut. Yuk, kita bedah kronologi dan fakta di balik kajian yang sempat bikin geger ini!

Baca juga: Kekurangan Dokter di Pelosok, DPR Usul Pakai AI Buat Analisis Penyakit Pasien

Sobat Zona, lini masa media sosial belakangan ini lagi dibikin heboh oleh dinamika dari "Kampus Kuning". Universitas Indonesia (UI) baru saja menjadi sorotan tajam netizen setelah beredarnya unggahan viral yang diklaim sebagai hasil kajian dari BEM Fakultas Psikologi UI mengenai isu LGBT.

Sadar kampusnya sedang ramai diperbincangkan, pihak Rektorat UI pun langsung turun tangan dan merilis pernyataan resmi untuk meluruskan polemik tersebut. Yuk, kita bedah kronologi dan fakta di balik kajian yang sempat bikin geger ini!

Unggahan Viral yang Berujung di-Take Down

Kehebohan ini bermula ketika akun Instagram resmi BEM Psikologi UI mengunggah sebuah konten infografis hasil kajian akademik. Dalam unggahan tersebut, mereka merujuk pada literatur dan kajian dari American Psychological Association (APA) tahun 2008.

Inti dari kajian yang diangkat adalah: Tidak ada riset yang mendukung sudut pandang bahwa homoseksualitas merupakan sebuah gangguan mental ataupun bentuk penyimpangan.

Meski unggahan kontroversial tersebut kini sudah dihapus alias di-take down dari akun Instagram BEM Psikologi UI, jejak digital nyatanya kejam, Sobat Zona. Tangkapan layar (screenshot) dari konten tersebut sudah telanjur tersebar luas, diunggah ulang oleh berbagai akun, dan memicu pro-kontra yang panas di kalangan netizen.

Klarifikasi UI: Ranah Akademik, Bukan Kampanye Gaya Hidup!

Melihat bola salju isu yang makin liar, pihak Universitas Indonesia akhirnya buka suara pada Jumat (3/7/2026). Melalui akun Instagram resminya, UI menegaskan bahwa konten yang diproduksi oleh organisasi kemahasiswaan tersebut tidak mencerminkan posisi atau sikap resmi institusi Universitas Indonesia.

UI juga memberikan garis batas yang tegas antara diskursus akademik dan kampanye publik.

"Perlu diluruskan bahwa rujukan yang dikutip dalam konten merupakan literatur ilmu psikologi mengenai klasifikasi kesehatan mental, yang berada pada ranah akademik. Rujukan akademik atas literatur keilmuan berbeda secara mendasar dari kampanye atau penyebaran gaya hidup," tulis pernyataan resmi UI.

Pihak kampus kembali menegaskan komitmen mereka pada nilai-nilai Pancasila dan konstitusi yang berlaku di Indonesia. UI memastikan bahwa mereka tidak menyelenggarakan, memfasilitasi, maupun mendukung kampanye penyebaran gaya hidup apa pun.

Inti Kajian: Menolak Persekusi dan Kekerasan di Kampus

Di balik polemik rujukan literatur kesehatan mental tersebut, UI meluruskan bahwa pesan utama yang sebenarnya ingin disampaikan oleh kajian BEM Psikologi itu adalah tentang anti-kekerasan.

Kajian tersebut menyoroti penolakan terhadap segala bentuk persekusi, kekerasan, maupun intimidasi terhadap sesama warga kampus.

"Universitas Indonesia menjamin lingkungan kampus yang bebas dari kekerasan, intimidasi, dan penyebaran data pribadi tanpa izin terhadap seluruh warganya, serta terus memperkuat mekanisme koordinasi atas materi komunikasi yang menggunakan identitas kelembagaan," pungkas UI.

Kebebasan Akademik vs Sensitivitas Publik

Sobat Zona, fenomena yang terjadi di UI ini adalah contoh nyata betapa tipisnya batas antara kebebasan mimbar akademik dan sensitivitas norma sosial di ruang publik digital.

Di ranah kampus, khususnya Fakultas Psikologi, mengkaji literatur internasional soal kesehatan mental adalah hal yang lumrah untuk memperkaya wawasan keilmuan. Namun, ketika bahasa akademik tersebut diangkat ke media sosial publik tanpa konteks yang komprehensif, narasi yang ditangkap audiens bisa berubah total dan memicu gesekan.

Langkah pihak kampus untuk meluruskan hal ini dirasa cukup tepat agar institusi pendidikan tetap menjadi ruang yang aman untuk berdiskusi secara ilmiah, tanpa harus terseret ke dalam polarisasi kampanye gaya hidup.

Gimana nih tanggapan elegan kalian soal pro-kontra kajian BEM Psikologi UI ini, Sobat Zona? Drop opini kritis kalian di kolom komentar ya!

Baca juga: Jangan sampai Ketuker! Kosakata Unik Ini Ada di Judul Penelitian Kuantitatif & Kualitatif

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150