Zona Mahasiswa - Keberanian mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip), Adriano Jeconia Padama atau Dede, menyuarakan persoalan masyarakat Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, mendapat apresiasi dari kampus.
Undip berkomitmen memberikan beasiswa pendidikan magister melalui program double degree setelah mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional tersebut menyelesaikan pendidikan sarjananya.
Baca juga: Tak Sanggup Beri Ongkos Kereta Seorang Ayah Antar Anak ke ITB Naik Bajaj, Tempuh 24 Jam Perjalanan
Berani Menyuarakan Persoalan Beras di Alor
Dede menyampaikan persoalan harga dan distribusi beras di kampung halamannya secara langsung kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam Kuliah Umum Penerimaan Mahasiswa Baru Undip Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (6/8/2026).
Di hadapan 5.155 mahasiswa baru, Dede menjelaskan bahwa masyarakat Alor masih menghadapi harga beras yang dapat mencapai Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram.
Keberaniannya mendapat perhatian karena aspirasi tersebut tidak berkaitan dengan kepentingan pribadi, tetapi membawa persoalan yang dialami masyarakat di daerah asalnya.
Rektor Undip Suharnomo menilai Dede mampu menyampaikan persoalan secara akurat dan didukung data. Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan kepedulian seorang mahasiswa terhadap kondisi masyarakat.
Aspirasi Dede kemudian ditindaklanjuti Menteri Pertanian dengan mengunjungi Kabupaten Alor pada Sabtu (8/8/2026). Pemerintah meminta Bulog memperkuat ketersediaan serta melakukan intervensi harga beras di wilayah tersebut.
Undip Siapkan Beasiswa S2 Double Degree
Sebagai bentuk apresiasi, Undip berkomitmen mendukung pendidikan Dede hingga jenjang magister.
Setelah menyelesaikan S1 Hubungan Internasional, Dede direncanakan mengikuti program double degree. Ia akan menempuh satu tahun pendidikan Magister Administrasi Publik di Undip dan satu tahun berikutnya pada program Politics, Governance and Public Policy MA di University of Sheffield, Inggris.
Suharnomo menargetkan Dede dapat menyelesaikan pendidikan sarjananya dalam waktu sekitar 3,5 hingga empat tahun sebelum melanjutkan ke program tersebut.
Menurut perkiraan rektor, nilai dukungan selama satu tahun pendidikan dan kehidupan di Inggris dapat mencapai sekitar Rp1 miliar. Namun, rincian resmi mengenai cakupan pembiayaannya belum dijelaskan secara terperinci.
Dede juga masih perlu mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris, capaian akademik, dan kesiapan mental selama menempuh pendidikan S1.
Undip berharap kesempatan tersebut dapat membantu Dede berkembang serta memberikan dampak yang lebih luas, bukan hanya bagi masyarakat Alor, tetapi juga Nusa Tenggara Timur dan Indonesia.
Dede Tak Menyangka Mendapat Kesempatan Kuliah ke Inggris
Dede mengaku tidak pernah membayangkan keberaniannya menyampaikan aspirasi akan membawanya pada kesempatan melanjutkan pendidikan hingga Inggris.
Saat memberanikan diri berbicara kepada Menteri Pertanian, fokus utamanya adalah menyampaikan persoalan masyarakat Alor agar mendapat perhatian pemerintah.
“Ini murni dari diri saya sendiri. Saya berkata, jika tidak hari ini, kapan lagi,” ujar Dede.
Ia mengaku kerap berdiskusi mengenai persoalan sosial dan kemanusiaan bersama pamannya yang bekerja di sebuah lembaga kemanusiaan asal Jerman. Diskusi tersebut membantunya memahami persoalan masyarakat dan menyampaikan aspirasi dengan data yang lebih terarah.
Bagi Dede, beasiswa tersebut merupakan kesempatan yang tidak pernah ia perkirakan sebelumnya. Namun, perhatian pemerintah terhadap kondisi masyarakat Alor tetap menjadi dampak terpenting dari keberaniannya berbicara.
Sobat Zona, keberanian Dede membuktikan bahwa suara mahasiswa bisa membawa perubahan nyata. Menurut kalian, persoalan apa di daerah asal yang perlu lebih banyak disuarakan mahasiswa?
Baca juga: Pemerintah Akan Buat Universitas Republik Indonesia, Lantas Apa Bedanya dengan Kampus Lain?
Komentar
0

