Zona Mahasiswa - Sobat Zona, di tengah ramainya keluhan mahasiswa se-Indonesia soal melambungnya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya pendidikan tinggi yang makin mencekik, ada sebuah kabar luar biasa inspiratif datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof) di Kabupaten Sikka baru saja memberikan standar baru soal arti "kampus merakyat". Bagaimana tidak? Manajemen kampus ini menerapkan kebijakan super inklusif di mana mahasiswanya diperbolehkan membayar biaya kuliah menggunakan hasil bumi dan tangkapan laut!
Baca juga: Memalukan! Ilmuwan Gadungan Asal Indonesia Ketahuan Palsukan Riset Pakai AI di Konferensi Dunia
Yuk, kita ulas lebih dalam kebijakan out of the box yang sukses bikin kita semua respect ini!
Berawal dari Kisah Nyata: Terancam Putus Kuliah Gara-gara Panen Numpuk
Lahirnya kebijakan revolusioner ini ternyata bukan sekadar gimmick marketing kampus, melainkan bermula dari kisah nyata yang sangat menyentuh hati.
Beberapa tahun silam, ada seorang mahasiswa Unimof yang terancam tidak bisa melanjutkan kuliah karena orang tuanya sama sekali tidak memegang uang tunai. Keluarga mahasiswa tersebut sebenarnya memiliki komoditas pertanian hasil panen yang menumpuk, tapi kesulitan menjualnya di pasar lokal akibat terputusnya rantai distribusi dan kendala ekonomi wilayah saat itu.
Mendengar kondisi darurat mahasiswanya, pihak rektorat tidak tutup mata. Alih-alih main drop out (DO) atau menagih paksa, kampus berinisiatif menerima komoditas panen tersebut, lalu membantu memasarkannya ke jaringan penampung yang lebih luas.
Hasil penjualan dari komoditas itulah yang kemudian dikonversi secara transparan untuk melunasi tunggakan biaya pendidikan sang mahasiswa. Dari momen penyelamatan humanis inilah, sistem pembayaran barter tersebut resmi dilegalkan di Unimof!
Dari Cengkeh, Kakao, Sampai Ikan Segar Diterima!
Rektor Unimof, Erwin Prasetyo, menjelaskan bahwa praktik pembayaran yang mengedepankan kearifan lokal ini sudah berjalan sukses selama beberapa tahun terakhir dan masih terus dipertahankan secara konsisten.
Kebijakan ini sengaja dihadirkan sebagai "jaring pengaman sosial" bagi mahasiswa dari latar belakang keluarga petani, nelayan, atau masyarakat adat yang kerap menghadapi kendala likuiditas uang tunai. Berikut adalah daftar ragam hasil alam yang sah dijadikan alat bayar kuliah di Unimof:
- Sektor Pertanian & Perkebunan: Padi, jagung, kelapa, pisang, cengkeh, kemiri, hingga kakao.
- Sektor Bahari: Berbagai macam aneka hasil tangkapan laut, baik yang masih segar maupun yang sudah dikeringkan oleh keluarga nelayan.
Komitmen Nyata Perluas Akses Pendidikan di Indonesia Timur
Membayar kuliah pakai hasil bumi ternyata hanya satu dari sekian banyak fasilitas kemudahan yang ditawarkan Unimof. Erwin Prasetyo menambahkan bahwa kampus juga aktif menebar berbagai program beasiswa (internal maupun eksternal) dan memberikan sistem cicilan biaya kuliah yang sangat longgar bagi keluarga yang butuh penyesuaian waktu bayar.
Tujuannya cuma satu: Memastikan impian generasi muda di wilayahnya untuk merengkuh pendidikan tinggi tidak terputus di tengah jalan.
Role Model Kampus Humanis Sebenarnya!
Sobat Zona, apa yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Maumere ini adalah bukti nyata sekaligus role model bagi banyak institusi pendidikan tinggi di kota-kota besar yang kerap kaku soal urusan administratif.
Unimof membuktikan bahwa kampus yang hebat bukanlah institusi yang sekadar megah bangunannya atau mahal biayanya, melainkan institusi yang mampu beradaptasi dengan realitas sosio-ekonomi masyarakat lokalnya. Mereka sukses meruntuhkan tembok pembatas finansial demi memperluas akses pendidikan di wilayah timur Indonesia.
Kalau kampus lain sibuk putar otak menaikkan UKT, Unimof sibuk mencari cara agar mahasiswanya tetap bisa jadi sarjana. Respect setinggi-tingginya!
Baca juga: Gacor! Setelah Dibuatkan Lagu Kanda Bahlil Ciduk 7 Tambang Ilegal yang Bikin Rugi Negara 857 M
Komentar
0

