Zona Mahasiswa - Ada sebuah mitos yang beredar luas di lingkungan kampus: mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi atau Cumlaude pastilah mereka yang jenius, kutu buku, dan menghabiskan seluruh waktunya di perpustakaan.
Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. IPK sejatinya bukan hanya alat ukur kecerdasan intelektual (IQ), melainkan indikator kedisiplinan dan strategi belajar.
Banyak mahasiswa yang sebenarnya cerdas secara akademis namun memiliki nilai pas-pasan hanya karena meremehkan hal-hal kecil. Sebaliknya, banyak mahasiswa dengan kemampuan rata-rata yang mampu lulus dengan predikat memuaskan karena mereka memahami "celah" dan sistem penilaian di perkuliahan.
Baca juga: Viral! 2 Pria Nekat Masturbasi di TransJakarta Rute 1A, Korban Kira Tetesan Air AC Ternyata...
Anda tidak perlu menjadi jenius untuk mendapatkan IPK di atas 3,5. Cukup ubah tiga kebiasaan sepele berikut ini, dan rasakan perbedaannya di semester depan.
1. Berhenti Menjadi Mahasiswa "Gaib", Mulailah Terlihat di Kelas
Kebiasaan lama yang sering dilakukan mahasiswa adalah datang terlambat, duduk di barisan paling belakang, dan berharap dosen tidak menyadari kehadiran mereka. Tujuannya sederhana: yang penting absen aman.
Namun, strategi ini justru merugikan. Nilai akhir mata kuliah sering kali mengandung komponen subjektivitas dosen. Ketika nilai Anda berada di angka tanggung (misalnya 79, sedangkan batas nilai A adalah 80), dosen akan cenderung membulatkannya ke atas jika mereka mengenal Anda atau melihat usaha Anda di kelas.
Apa yang harus diubah? Cobalah untuk duduk di barisan depan atau tengah. Tunjukkan gestur bahwa Anda menyimak, seperti mengangguk ketika dosen menjelaskan poin penting. Ajukan setidaknya satu pertanyaan relevan atau tanggapan selama satu semester. Hal sederhana ini membangun "personal branding" Anda sebagai mahasiswa yang niat dan antusias, yang akan sangat membantu saat rekapitulasi nilai akhir.
2. Jangan Hanya Fokus pada Isi, Perhatikan Detail dan Format Tugas
Banyak mahasiswa menganut prinsip "yang penting isinya benar" saat mengerjakan makalah atau laporan. Akibatnya, mereka mengabaikan kerapian format, typo (salah ketik) yang bertebaran, hingga daftar pustaka yang asal-asalan.
Dosen, terutama yang berlatar belakang akademisi murni, sangat menjunjung tinggi sistematika dan kerapian. Sebuah tugas dengan isi yang brilian namun disajikan dengan format yang berantakan sering kali mendapatkan nilai yang lebih rendah dibandingkan tugas dengan isi standar namun disajikan dengan rapi dan sesuai pedoman.
Apa yang harus diubah? Jadilah teliti. Pastikan margin, jenis huruf, spasi, dan struktur penulisan sesuai dengan pedoman yang diberikan. Gunakan alat bantu manajemen referensi seperti Mendeley atau Zotero untuk memastikan kutipan dan daftar pustaka Anda rapi. Mengumpulkan tugas tepat waktu dengan format yang sempurna adalah cara termudah untuk mengamankan nilai A, bahkan sebelum dosen membaca isinya secara mendalam.
3. Tinggalkan "SKS", Mulailah Mempelajari Pola Soal
Sistem Kebut Semalam (SKS) mungkin efektif untuk memori jangka pendek, tetapi sangat berisiko membuat pikiran kosong (blank) saat ujian berlangsung. Selain melelahkan, cara ini tidak efisien untuk menghadapi materi kuliah yang padat.
Mahasiswa dengan IPK tinggi biasanya tidak belajar lebih keras, tetapi belajar lebih cerdas. Mereka menyadari bahwa setiap dosen memiliki pola atau gaya pembuatan soal yang cenderung konsisten dari tahun ke tahun.
Apa yang harus diubah? Daripada menghafal satu buku teks dalam semalam, cobalah mencari arsip soal Ujian Tengah Semester (UTS) atau Ujian Akhir Semester (UAS) tahun-tahun sebelumnya dari kakak tingkat atau himpunan mahasiswa.
Pelajari pola soal yang sering keluar. Biasanya, 60 hingga 80 persen materi ujian memiliki kemiripan tipe dengan soal tahun lalu. Dengan memahami pola ini, Anda bisa fokus mempelajari materi yang benar-benar akan diujikan, bukan membuang energi menghafal materi yang tidak relevan.
Kesimpulan
Meraih IPK tinggi sebenarnya adalah kombinasi dari 40 persen pengetahuan dan 60 persen strategi. Dengan memperbaiki sikap di kelas, memperhatikan detail tugas, dan belajar secara strategis, predikat Cumlaude bukan lagi hal yang mustahil, terlepas dari seberapa jeniusnya Anda.
Kuliah adalah tentang manajemen diri. Ubah kebiasaan kecil hari ini untuk hasil besar di transkrip nilai Anda nanti.
Baca juga: Dokter PPDS Unsri Diperas Senior Buat Clubbing & Skincare, Korban Depresi Sampai Mau Akhiri Hidup!
Komentar
0

