Berita

Miris! Siswi SMP Surabaya Dikeroyok 7 Teman Sendiri, Wajah Ditonjok & Dijambak Cuma Gara-gara Rebutan Cowok

Muhammad Fatich Nur Fadli 02 Februari 2026 | 12:59:05

Zona MahasiswaSobat Zona, baru saja kita masuk bulan Februari 2026, tapi berita kekerasan di kalangan remaja seolah nggak ada habisnya. Masalah bullying atau perundungan masih jadi PR besar yang bikin kita elus dada.

Kali ini, jagat media sosial Surabaya digegerkan oleh video viral berdurasi pendek yang mempertontonkan aksi kekerasan brutal. Seorang siswi SMP kelas 1 di- bully habis-habisan oleh tujuh remaja putri lainnya. Korban tak berdaya saat kepalanya ditoyor, wajahnya ditampar, dan tubuhnya dipukul bergantian bak samsak tinju.

Yang bikin netizen dan kita semua facepalm (tepok jidat) adalah motif di balik pengeroyokan ini. Bukan karena masalah prinsip atau utang piutang, tapi karena masalah asmara monyet alias Rebutan Cowok.

Baca juga: Viral! 2 Pria Nekat Masturbasi di TransJakarta Rute 1A, Korban Kira Tetesan Air AC Ternyata...

Duh, Dek! Umur segitu harusnya rebutan ranking atau rebutan kuota gratis, kok malah rebutan cowok sampai main fisik? Yuk, kita bedah kronologi dan penanganan kasusnya!

Kronologi: 1 Lawan 7, Video Viral Bikin Geram

Berdasarkan video yang beredar dan konfirmasi dari kepolisian serta dinas terkait, peristiwa memilukan ini terjadi di kawasan Kelurahan Kapasari, Surabaya.

Dalam video tersebut, terlihat jelas ketimpangan kekuatan.

  • Korban: Sendirian, inisial CP (13).
  • Pelaku: Tujuh orang remaja putri, inisial SL (13), DA (12), CPR (13), SPE (14), IR (14), GA (13), dan PR (13).

Para pelaku ini secara bergantian melakukan intimidasi fisik. Ada yang menoyor kepala korban dari belakang, ada yang menampar pipi, hingga memukul wajah. Korban hanya bisa diam mematung, mungkin karena takut atau kalah jumlah.

Kejadian ini sebenarnya terjadi pada akhir tahun lalu, tepatnya 30 Desember 2025. Namun, kasusnya baru meledak dan viral belakangan ini setelah proses hukum berjalan.

Motif "Receh": Cinta Monyet Berujung Kriminal

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya, Ida Widayati, membenarkan motif di balik aksi kekerasan ini.

Setelah tim pendamping melakukan deep talk dan penggalian masalah kepada korban maupun para pelaku, terungkaplah alasan konyol tersebut.

"Lah itu waktu digali-digali apa sih masalahnya? Tibake (ternyata) rebutan cowok," ungkap Ida Widayati, Minggu (31/1/2026).

Sobat Zona, ini adalah potret nyata krisis kedewasaan emosional pada remaja Gen Alpha/Z akhir. Emosi yang meledak-ledak ditambah validasi diri yang digantungkan pada "punya pacar", membuat mereka menghalalkan segala cara, termasuk kekerasan, untuk menyingkirkan saingan.

Proses Hukum: Lapor Polisi di Tahun Baru

Tak terima anaknya dijadikan bulan-bulanan, pihak keluarga korban akhirnya menempuh jalur hukum. Laporan polisi dibuat tepat di hari pertama tahun baru, 1 Januari 2026, dengan nomor laporan di Polsek Simokerto.

Meskipun para pelaku masih di bawah umur (rata-rata 12-14 tahun), proses hukum tetap berjalan. Polisi dan DP3APPKB berkoordinasi untuk menangani kasus ini sesuai dengan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

"Itu kejadiannya 30 Desember, sudah kita dampingi mulai tanggal 5 Januari. Proses hukumnya juga sudah berjalan. Kita juga sudah koordinasi dengan teman-teman Polrestabes," tambah Ida.

Saat ini, korban CP sedang dalam pendampingan intensif untuk pemulihan trauma psikologis. Bayangkan betapa hancurnya mental anak 13 tahun dikeroyok 7 orang teman sebayanya sendiri.

Krisis Moral & Validasi Semu

Sobat Zona, kasus di Surabaya ini bukan kejadian tunggal. Ini adalah fenomena gunung es. Kenapa sih remaja cewek zaman sekarang makin berani main fisik?

1. Normalisasi Kekerasan: Mungkin pengaruh tontonan, media sosial, atau lingkungan, kekerasan dianggap sebagai solusi instan untuk menyelesaikan masalah. "Lo deketin cowok gue? Gue labrak!" Mindset ini harus diubah total.

2. Obsesi Romance Dini: Usia 12-14 tahun adalah masa pubertas. Naksir lawan jenis itu wajar. Tapi kalau sampai terobsesi dan merasa memiliki hak kepemilikan atas seseorang sampai rela masuk penjara (atau berurusan sama polisi), itu tanda ada yang salah dengan pola asuh dan pergaulan.

3. The Power of "Cirle": Perhatikan jumlah pelakunya: 7 orang. Ini menunjukkan mentalitas keroyokan (mob mentality). Mereka merasa kuat dan benar karena dilakukan ramai-ramai. Kalau sendirian, belum tentu berani.

Pesan Buat Adik-Adik SMP & SMA

Buat kalian yang masih duduk di bangku sekolah, please dengerin ini:

  • Cowok Bisa Dicari, Catatan Kriminal Dibawa Mati: Jangan rusak masa depan kalian cuma gara-gara cowok yang belum tentu jadi jodoh kalian. Serius, 5 tahun lagi kalian bakal ketawa miris ingat kebodohan ini.
  • Bullying Bukan Prestasi: Menindas orang lain nggak bikin kalian terlihat keren atau "Queen Bee". Itu cuma bikin kalian terlihat lemah dan nggak punya hati.
  • Stop Main Hakim Sendiri: Kalau ada masalah, ngomong. Kalau nggak bisa ngomong, blokir. Jangan main tangan.

Mari kita dukung korban CP agar pulih mentalnya, dan semoga para pelaku mendapatkan pembinaan yang tepat (bukan sekadar damai materai) agar sadar bahwa perbuatan mereka itu kriminal.

Baca juga: Dokter PPDS Unsri Diperas Senior Buat Clubbing & Skincare, Korban Depresi Sampai Mau Akhiri Hidup!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150