Berita

Bocah Penjual Tisu 8 Tahun Tewas Terlindas Loader di Kendari Demi Beli Beras

Muhammad Fatich Nur Fadli 09 Februari 2026 | 15:47:19

Zona MahasiswaSobat Zona, siapkan tisu kalian. Berita kali ini bukan tentang drama politik atau gosip selebriti, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang akan merobek hati siapa pun yang membacanya. Di saat anak-anak usia 8 tahun lainnya sibuk bermain gadget atau tidur nyenyak di kasur empuk, Najwa (8) harus meregang nyawa di aspal yang dingin.

Gadis kecil penjual tisu ini tewas mengenaskan setelah terlindas alat berat (Loader) di perempatan jalan Kota Kendari. Yang membuat dada sesak, Najwa meninggal saat sedang berjuang menepati janjinya kepada sang Ibu: Pulang membawa beras karena di rumah tidak ada nasi.

Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!

Ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Ini adalah potret buram kemiskinan di negeri kita yang memaksa anak sekecil itu bertaruh nyawa di jalanan. Berikut kisah selengkapnya.

"Mak, Tunggu Saya Bawa Beras..."

Kisah pilu ini bermula dari sebuah percakapan singkat namun menyayat hati antara Najwa dan ibunya, Nurhana, pada Kamis sore (29/1/2026).

Di rumah sederhana mereka, persediaan makanan habis total. Tidak ada nasi, tidak ada beras. Nurhana bingung, tapi Najwa yang masih bocah justru mengambil peran sebagai tulang punggung.

Dengan tatapan polos, Najwa berpamitan.

"Mak, tidak adami nasi, tidak adami beras. Biarmi, saya mau jual tisu dulu buat beli beras," kenang Nurhana menirukan ucapan putrinya, Sabtu (7/2/2026).

Nurhana sempat melarang. Ia bilang jualan tisu itu hanya sebentar saja, cukup untuk jajan adik-adiknya. Tapi tekad Najwa sudah bulat. Ia ingin ibunya dan adik-adiknya makan.

"Mak tunggumi, saya bawa pulangkan kita beras sama uang yang banyak," janji Najwa sebelum melangkah keluar rumah.

Siapa sangka, itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Najwa kepada ibunya. Janji suci seorang anak yang ingin berbakti, namun takdir berkata lain.

Sweater Terakhir & Dinginnya Jalanan

Sebelum pergi menjemput maut, ada momen yang tak bisa dilupakan Nurhana. Najwa sempat merasa kedinginan. Ia mengambil jilbab dan sweater kesayangannya, merapikan pakaiannya di depan sang ibu.

Gadis kecil itu ingin terlihat rapi saat berjualan tisu di lampu merah. Ia menatap ibunya lekat-lekat, seolah memberikan isyarat perpisahan.

Malam itu, Najwa berjalan menuju Perempatan PLN Wuawua, Jalan KH Ahmad Dahlan, lokasi yang memang ramai kendaraan namun sangat berbahaya bagi pejalan kaki, apalagi anak kecil.

Tragedi di Perempatan Wuawua

Kamis malam itu menjadi mimpi buruk. Selepas Magrib, saat Nurhana sedang menunggu kepulangan Najwa (dan beras yang dijanjikannya), kabar buruk itu datang.

Adik Najwa berlari pulang dengan napas tersengal, membawa berita yang menghancurkan dunia Nurhana: "Najwa sudah bersimbah darah."

Tanpa pikir panjang, Nurhana berlari ke lokasi kejadian. Di sana, di atas aspal yang keras, ia menemukan tubuh mungil putrinya sudah tak bernyawa. Najwa tewas seketika setelah tertabrak dan terlindas kendaraan alat berat jenis Loader yang melintas.

"Sudah ndak bisami ditolong. Saya angkat dari aspal, sudah tidak bergerak," tutur Nurhana dengan air mata yang mungkin sudah kering karena terlalu banyak menangis.

Beras yang dijanjikan tak pernah sampai ke rumah. Uang yang banyak tak pernah tergenggam. Yang pulang hanyalah jasad kaku Najwa dalam pelukan ibunya.

Dimana Negara Saat Najwa Lapar?

Sobat Zona, kematian Najwa adalah "tamparan keras" bagi kita semua, terutama bagi Pemerintah Pusat maupun Daerah.

1. Kemiskinan Struktural yang Membunuh Najwa tidak akan berada di perempatan jalan itu jika ayahnya (atau ibunya) memiliki penghasilan yang cukup. Najwa turun ke jalan karena desakan perut. "Tidak ada beras" adalah kalimat horor yang nyata bagi jutaan rakyat miskin di Indonesia. Mana Bansos? Mana program pengentasan kemiskinan? Kenapa masih ada keluarga yang kelaparan sampai anaknya harus jadi martir?

2. Bahaya Pekerja Anak (Child Labor) Jalan raya adalah tempat terganas bagi anak-anak. Lampu merah bukan tempat bermain, apalagi tempat bekerja. Keberadaan anak penjual tisu, koran, atau pengamen di lampu merah adalah bukti kegagalan sistem perlindungan anak. Dinas Sosial dan Pemda setempat harusnya melakukan penertiban yang humanis—bukan ditangkap, tapi dibina dan dijamin kebutuhan dasarnya agar mereka tidak perlu turun ke jalan lagi.

3. Regulasi Alat Berat di Kota Perlu diusut tuntas, apakah operasional alat berat (Loader) tersebut sudah sesuai SOP? Apakah melintas di jam sibuk di area yang banyak anak kecil sudah diperhitungkan risikonya? Supir alat berat mungkin tidak sengaja, tapi kelalaian tetap harus dipertanggungjawabkan.

Najwa hanyalah satu dari sekian banyak potret buram anak Indonesia. Kematiannya tidak boleh sia-sia.

  • Untuk Pemerintah: Tolong, sweeping anak-anak jalanan. Bukan untuk digaruk Satpol PP, tapi untuk dipastikan apakah di rumah mereka ada beras? Pastikan mereka sekolah, bukan cari nafkah.
  • Untuk Kita: Kalau lihat anak kecil jualan tisu atau apapun di jalan, belilah. Jangan ditawar. Kita tidak tahu, mungkin uang 5 ribu perak dari kita adalah penyambung nyawa bagi keluarganya hari itu.

Selamat jalan, Najwa. Kamu sudah menepati janjimu untuk berusaha. Sekarang, kamu tidak perlu lagi pusing memikirkan beras. Bermainlah dengan tenang di surga-Nya.

Baca juga: Mahasiswa Itera Lampung Diam-diam Rekam Teman Cewek Tanpa Busana: "Sehari Bisa Dua Kali", Pelaku Diinterogasi Warga!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150