Berita

Bule Ngamuk & Cakar Warga Gili Trawangan Gara-Gara Suara Tadarus, Mikrofon Musala Sampai Dirusak!

Muhammad Fatich Nur Fadli 20 Februari 2026 | 18:31:46

Zona MahasiswaSobat Zona, bulan suci Ramadan sejatinya adalah momen untuk memperbanyak sabar dan ibadah. Sayangnya, ujian kesabaran tingkat dewa justru harus dihadapi oleh warga Dusun Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang pada malam pertama Ramadan tahun ini.

Jagat media sosial dibikin panas oleh aksi arogan seorang Warga Negara Asing (WNA) perempuan. Bule tersebut terekam kamera sedang mengamuk brutal di sebuah musala pada Rabu malam (18/2/2026). Alasannya? Dia merasa terganggu dengan suara speaker alias pengeras suara warga yang sedang tadarusan Al-Qur'an.

Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!

Alih-alih menegur lewat pihak berwenang atau RT setempat, si bule malah main hakim sendiri sampai merusak fasilitas ibadah dan melukai warga! Yuk, kita bedah kronologi arogansi "tamu" yang tak tahu diuntung ini.

Kronologi: Suara Tadarus Dibalas Amukan

Insiden memalukan ini bermula ketika warga Gili Trawangan sedang khusyuk menggelar tradisi tadarusan di malam pertama Ramadan. Seperti biasa di berbagai daerah di Indonesia, tadarus sering kali menggunakan pengeras suara musala agar syiarnya terdengar.

Namun, lantunan ayat suci itu rupanya memicu amarah seorang turis wanita yang menginap di vila berjarak sekitar 50 meter dari musala.

Menurut penuturan Husni, salah satu perwakilan warga (Kamis, 19/2/2026), bule tersebut awalnya berteriak-teriak dari luar musala.

"Yang dia permasalahkan itu kegiatan tadarusannya, karena dia terganggu dengan suara speaker itu," jelas Husni.

Tak puas hanya berteriak, perempuan itu nekat menerobos masuk ke dalam musala. Ia secara paksa menghentikan aktivitas warga dan dengan kasarnya merusak mikrofon yang sedang digunakan.

Kericuhan Fisik: Cakar Warga Sampai Bawa Kabur HP!

Sobat Zona, tindakan merusak properti tempat ibadah saja sudah masuk ranah pidana, tapi bule ini ternyata makin ngadi-ngadi.

Warga yang mencoba menenangkan dan membela diri justru mendapat serangan fisik. Kericuhan tak terhindarkan. Dalam adu mulut yang memanas itu, bule tersebut bertindak beringas.

  • Warga Dicakar: Seorang warga mengalami luka cakaran di tubuhnya akibat serangan si bule.
  • Tokoh Jatuh: Bahkan, salah satu tokoh masyarakat di musala tersebut sampai terjatuh akibat dorongan atau serangan fisik saat mencoba melerai.

Yang bikin netizen makin speechless, setelah puas mengacau dan melukai warga, perempuan itu melenggang pergi kembali ke vilanya. Parahnya lagi, ia diduga kuat membawa kabur handphone (HP) milik salah satu warga tanpa alasan yang jelas!

"Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung"

Kasus bule ngamuk di tempat wisata Indonesia bukan barang baru, tapi aksi di Gili Trawangan ini sudah kelewat batas toleransi. Ada beberapa catatan kritis dari insiden ini:

  1. Krisis Tata Krama Turis (Tourist Entitlement): Banyak turis asing merasa kebal hukum atau bertindak seenaknya karena merasa "membawa uang" ke daerah wisata. Padahal, pepatah Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung adalah harga mati. Berkunjung ke negara dengan mayoritas Muslim di bulan Ramadan berarti harus siap dengan tradisi lokal seperti tadarusan atau tarawih.
  2. Tindakan Kriminal Murni: Marah karena suara bising mungkin bisa dipahami dari kacamata privasi, tapi merusak mikrofon, mencakar orang, dan merampas HP adalah Tindak Pidana (Pengerusakan, Penganiayaan, dan Pencurian/Perampasan). Ini bukan lagi soal culture shock, tapi soal kepatuhan pada hukum positif Indonesia.
  3. Dilema Zonasi Wisata vs Pemukiman: Kasus ini juga menjadi PR bagi Pemda setempat. Jarak vila yang hanya 50 meter dari musala memang rawan gesekan. Pengelola penginapan seharusnya sudah mem- briefing turis asing mereka mengenai tradisi lokal, terutama saat Ramadan, agar ekspektasi mereka bisa disesuaikan.

Sanksi Tegas Menanti: Deportasi & Blacklist!

Warga lokal Gili Trawangan sudah cukup sabar tidak melakukan aksi anarkis balasan. Sekarang, bola panas ada di tangan Kepolisian dan pihak Imigrasi.

Turis arogan seperti ini tidak boleh dibiarkan lolos hanya dengan permintaan maaf di atas materai. Deportasi dan Blacklist adalah sanksi minimal yang pantas diberikan agar menjadi efek jera bagi WNA lain yang suka bertindak semena-mena di tanah air kita.

Bulan puasa memang bulan ujian kesabaran, tapi hukum negara tetap harus ditegakkan demi menjaga martabat dan harga diri bangsa.

 

Baca juga: Mahasiswa Itera Lampung Diam-diam Rekam Teman Cewek Tanpa Busana: "Sehari Bisa Dua Kali", Pelaku Diinterogasi Warga!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150