Zona Mahasiswa - Sobat Zona, alarm demokrasi kita sedang berbunyi sangat kencang! Menjadi mahasiswa yang kritis di era ini ternyata taruhannya bukan lagi sekadar nilai E atau skorsing, tapi Nyawa dan Keselamatan Keluarga.
Kabar mengejutkan datang dari Bulaksumur. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, kembali menjadi sasaran teror pengecut.
Hanya gara-gara menyuarakan kebenaran soal tragedi bunuh diri siswa SD di NTT (yang tak mampu beli buku), Tiyo mendapatkan ancaman PENCULIKAN via WhatsApp dari nomor asing. Tak hanya itu, ia juga dikuntit orang tak dikenal.
Ini bukan kali pertama. Kursi Ketua BEM UGM seolah menjadi "Kursi Panas" yang siapa pun mendudukinya, harus siap menghadapi intimidasi negara atau oknum-oknum yang anti-kritik. Apakah kita sedang kembali ke zaman Orba di mana suara mahasiswa dibungkam dengan teror?
Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!
Yuk, kita bedah rentetan teror sistematis yang dialami para Ketua BEM UGM dari masa ke masa!
2026: Kritik Prabowo, Diancam Culik Nomor 'London'
Teror terbaru yang dialami Tiyo Ardianto ini benar-benar bikin merinding. Semua bermula ketika BEM UGM melayangkan kritik keras kepada Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
BEM UGM menilai negara GAGAL menjamin hak dasar anak, merujuk pada kasus memilukan seorang siswa SD di Ngada, NTT, yang gantung diri karena malu tak mampu beli buku dan pulpen. Kritik ini tajam, menohok, dan berdasarkan fakta lapangan.
Namun, balasannya bukan dialog, melainkan teror psikis. Empat hari setelah kritik itu rilis, Tiyo menerima pesan WhatsApp dari nomor berkode +44 (Inggris/UK).
Isi Ancamannya:
- Ancaman Penculikan: Pelaku mengancam akan menculik Tiyo jika tidak berhenti bersuara.
- Tuduhan Agen Asing: Narasi klasik buzzer, Tiyo dituduh "cari panggung" dan antek asing.
Dikuntit di Kedai Kopi: Teror tak berhenti di dunia maya. Sehari setelah pesan itu, Tiyo mengaku diikuti.
"Mereka memotret dan bergegas pergi," ungkap Tiyo, Kamis (12/2/2026).
Dua orang tak dikenal mengawasi gerak-geriknya di sebuah kedai. Ini adalah intimidasi fisik yang nyata. Pola penguntitan (surveillance) terhadap aktivis mahasiswa ini jelas bertujuan menebar ketakutan.
2025: Spanduk 'Horor' Tolak UU TNI
Mundur sedikit ke tahun 2025, Tiyo juga pernah merasakan teror saat memimpin aksi penolakan Revisi UU TNI di Gedung DPRD DIY.
Saat itu, terornya bersifat visual dan psikologis. Di lokasi parkir Abu Bakar Ali (titik kumpul massa), tiba-tiba terpasang spanduk provokatif dengan desain menyeramkan.
- Tulisan: "Awas Gerakan Mahasiswa Disusupi Antek Asing" (Menggunakan font horor/berdarah).
- Visual: Memajang foto wajah empat aktivis, salah satunya Tiyo Ardianto.
Lebih parah lagi, ancaman saat itu menyasar Orang Tua. Peneror mengancam keselamatan keluarga Tiyo jika aksi terus berlanjut. Tapi salut, mental Tiyo sekeras baja, ia tetap turun ke jalan.
Gielbran & Gelar 'Alumni Paling Memalukan'
Pola teror ini ternyata warisan lama. Masih ingat Gielbran Muhammad Noor? Ketua BEM UGM 2023 yang viral karena memberikan gelar "Alumni Paling Memalukan" kepada Presiden Jokowi.
Gielbran mengalami intimidasi birokrasi dan fisik yang tak kalah ngeri.
- Intel Masuk Kampus: Fakultas Gielbran didatangi orang yang mengaku intelijen. Mereka meminta biodata lengkap Gielbran ke pihak Dekanat. Untungnya, pihak kampus pasang badan dan menolak memberikan data tanpa surat resmi.
- Doxing Keluarga: Data pribadi keluarganya disebar di medsos.
- Fitnah Spanduk: Muncul poster di Sleman yang menuduh orang tua Gielbran adalah Caleg partai oposisi yang sakit hati. Padahal faktanya, orang tua Gielbran netral dan tidak terafiliasi partai manapun.
"Intimidasi itu tidak akan membuat kami takut bersuara," tegas Gielbran kala itu.
Siapa yang Takut Mahasiswa?
Sobat Zona, rentetan kejadian dari 2023 hingga 2026 ini menunjukkan adanya Pola Sistematis (Pattern).
- Modus Operandi Sama: Tuduhan "Antek Asing", "Ditunggangi Politik", "Cari Panggung", hingga ancaman fisik/penculikan.
- Sasaran: Selalu menyasar Ketua BEM yang vokal mengkritik isu sensitif (UU TNI, Kegagalan Pemerintah, Kemiskinan).
- Tujuan: Fear Mongering (Menebar ketakutan) agar mahasiswa lain keder dan memilih diam (apatis).
Pertanyaannya, kenapa negara atau oknum pendukung kekuasaan begitu takut pada kritik mahasiswa? Padahal kritik soal "anak bunuh diri karena tak punya buku" adalah kritik kemanusiaan, bukan makar.
Jika kritik dibalas dengan ancaman culik, artinya demokrasi kita sedang sakit parah.
Kami dari Zona Mahasiswa menyatakan Solidaritas Penuh untuk Tiyo Ardianto dan seluruh aktivis mahasiswa UGM maupun kampus lain yang sedang diteror.
- Untuk Peneror: Cara kalian kuno. Mahasiswa Gen Z tidak akan diam hanya karena chat WA atau spanduk norak. Semakin ditekan, kami semakin melawan.
- Untuk Pihak Kampus: Lindungi mahasiswa kalian! Jangan biarkan intel atau preman mengobok-obok mimbar akademik.
- Untuk Polisi: Usut tuntas nomor +44 dan penguntit di kedai kopi tersebut. Buktikan Polri Presisi bukan cuma slogan.
Gimana pendapat kalian?
Komentar
0

