Zona Mahasiswa - Sobat Zona, jujur deh, siapa di sini yang skripsinya masih Bab 1 nggak kelar-kelar? Atau yang jurnalnya ditolak dosen terus langsung mental breakdown dan pengen healing ke Bali?
Minggir dulu, Guys. Kalian wajib kenalan sama sosok yang satu ini. Kalau kalian pikir Satpam (Satuan Pengamanan) itu kerjanya cuma buka pintu, senyum ramah, dan tanya "Ada yang bisa dibantu?", kalian salah besar.
Di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok, ada seorang satpam bernama Khoirul Anam (28). Di balik seragam krem dan pentungan yang ia bawa, tersimpan otak brilian sekelas dosen atau peneliti senior.
Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!
Nggak main-main, Mas Anam ini baru saja memecahkan Rekor MURI sebagai satpam dengan karya intelektual terbanyak! Bayangkan, sambil jaga bank, dia sukses menerbitkan 13 Jurnal Ilmiah dan menulis 8 Buku.
Masa sih satpam se-pinter itu? Kok bisa bagi waktu? Dan apa motivasi gilanya? Yuk, kita bedah kisah hidup Khoirul Anam yang bikin mahasiswa se-Indonesia insecure berjamaah!
Rekor MURI: Satpam Paling "Cerdas" se-Indonesia
Jumat, 30 Januari 2026 kemarin menjadi hari bersejarah. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) secara resmi memberikan penghargaan kepada Khoirul Anam.
Bukan karena dia menangkap perampok bank paling banyak, tapi karena Produktivitas Akademis-nya yang di luar nalar. Di usia 28 tahun, dengan pekerjaan yang menuntut fisik prima (berdiri berjam-jam, waspada keamanan), Anam justru lebih produktif daripada rata-rata mahasiswa pascasarjana.
Koleksi prestasinya bikin ngiler:
- 1 Rekor MURI: Satpam dengan karya ilmiah terbanyak.
- 13 Jurnal Ilmiah: Terpublikasi di jurnal Nasional dan Internasional.
- 8 Buku Ber-ISBN: Resmi terdaftar di Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
- 3 Buku On Progress: Masih ada 3 buku lagi yang sedang dia garap sekarang!
"Untuk karya buku, yang sudah publikasi sekitar delapan buku dan tiga buku lagi sedang saya garap sekarang," ujar Anam santai saat ditemui tim media, Selasa (3/2/2026).
Kolektor Gelar: S1 Double Degree, S2 Tuntas!
Mungkin kalian mikir, "Ah, paling jurnal abal-abal." Eits, jangan underestimate dulu.
Riwayat pendidikan Anam ini solid banget, Sobat Zona. Dia bukan cuma lulusan SMA yang hobi nulis. Dia adalah akademisi sejati yang "nyamar" jadi satpam.
Berikut jejak pendidikan Khoirul Anam yang bikin geleng-geleng:
- S1 Manajemen: Universitas Pamulang (Kelas Karyawan, mulai 2019).
- S1 Pendidikan Agama Islam: STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah.
- S2 Manajemen (Magister): Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya).
Bayangkan, dia kuliah di dua tempat untuk S1 (Double Degree), lanjut S2, sambil kerja full-time sebagai satpam bank yang shift-nya terkenal ketat.
Di saat mahasiswa lain sibuk ngeluh "Duh, dosennya killer," atau "Duh, mager ngerjain revisi," Mas Anam diam-diam menyelesaikan tesis dan menerbitkan buku kedelapannya. Savage!
Gaji Satpam vs Biaya Jurnal Scopus
Kita semua tahu, gaji satpam itu mungkin cukup untuk hidup, tapi pas-pasan kalau buat gaya hidup akademik. Publikasi jurnal itu mahal, Guys. Apalagi kalau targetnya jurnal terakreditasi Sinta 2 atau Scopus (Internasional). Biayanya bisa jutaan rupiah per satu artikel.
Anam mengakui ini adalah kendala terbesarnya.
"Biaya juga menjadi kendala nyata. Mempublikasikan jurnal di tingkat bereputasi tinggi membutuhkan biaya besar yang sering kali sulit dijangkau," curhatnya.
Tapi, apakah dia menyerah dan demo minta kuliah gratis? Nggak. Dia menyisihkan gajinya. Dia menabung. Dia berinvestasi leher ke atas.
Ini tamparan keras buat kita yang dikasih uang saku orang tua, dikasih fasilitas laptop bagus, tapi uangnya malah habis buat ngopi cantik atau top-up game, sementara skripsi mangkrak.
Rahasia Manajemen Waktu: "Korbankan Tidur"
Sobat Zona, jadi satpam itu capek. Fisik harus kuat, mata harus melek, nggak boleh main HP pas jaga. Kapan Anam nulis jurnalnya?
Jawabannya klise tapi nyata: Begadang. Anam tidak punya privilege waktu luang seperti mahasiswa reguler. Dia mencuri waktu di sela-sela istirahat atau setelah pulang kerja saat badannya remuk redam.
"Untuk kesulitannya paling pengelolaan waktu. Terkadang kita korbankan waktu tidur untuk menyelesaikan penelitian," ungkapnya.
Di saat orang lain tidur nyenyak atau scroll TikTok sampai pagi, Anam berkutat dengan data, referensi, dan editing naskah. Dedikasi ini yang mahal harganya.
Titik Balik: Bangkit dari "Mati Suri"
Apa sih yang bikin Anam se-ambisius ini? Ternyata, ada kisah pilu di baliknya. Anam adalah perantau dari Lampung. Tahun 2018, dia nekat ke Jakarta cuma bawa modal Rp 1 Juta.
Di tanah rantau yang keras, Anam sempat jatuh sakit parah. Saking parahnya, dia mengalami kondisi Koma (Mati Suri). Momen di ambang kematian itulah yang mengubah mindset-nya total. Dia merasa diberi kesempatan kedua oleh Tuhan.
"Dari sakit itu sebenarnya sih ada motivasi. Saya harus hidup di umur kedua ini harus menjadi yang lebih baik," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Dia tidak mau menyia-nyiakan "hidup kedua"-nya hanya untuk menjadi orang biasa-biasa saja. Dia ingin meninggalkan jejak, dan jejak itu adalah tulisan.
Dosen Rasa Satpam?
Kisah Khoirul Anam ini membuka mata kita tentang beberapa hal penting:
- Don't Judge a Book by Its Cover: Jangan pernah meremehkan orang dari seragamnya. Satpam yang membukakan pintu bank buat kamu mungkin lebih pinter dan lebih berpendidikan daripada kamu yang masih kuliah.
- Kritik Sistem Pendidikan & Ketenagakerjaan: Jujur, agak miris melihat potensi sebesar Anam "hanya" berakhir sebagai satpam (tanpa merendahkan profesi satpam ya). Dengan kualifikasi S2, 13 Jurnal, dan 8 Buku, Anam seharusnya sudah layak menjadi Dosen Tetap atau Peneliti di kampus ternama. Ini PR buat pemerintah dan kampus-kampus di Indonesia: Tolong spot talenta-talenta seperti Anam! Jangan biarkan otak berlian tenggelam karena masalah administrasi atau koneksi.
- Tamparan buat Mahasiswa Manja: Buat kalian yang masih suka ngeluh burnout padahal cuma ngerjain tugas 2 lembar, malu dong sama Mas Anam. Fasilitas kalian lebih baik, waktu kalian lebih banyak. Harusnya karya kalian lebih hebat.
Mimpi Jadi Dosen: Siapa Kampus yang Beruntung?
Kini, Anam punya satu impian mulia: Alih Profesi. Dia ingin gantung seragam satpam dan beralih menjadi tenaga pengajar, baik guru maupun dosen. Dia ingin mencerdaskan kehidupan bangsa secara langsung di dalam kelas.
Kami dari Zona Mahasiswa mendoakan semoga ada Universitas atau Sekolah yang segera meminang Mas Anam. Kampus mana yang nggak mau punya dosen se-produktif dan se-tangguh ini?
Komentar
0

