Berita

Miris! Cuek Meski Ada Guru, Murid Laki-laki Ini Bikin Gambar Tak Senonoh di Papan Tulis

Muhammad Fatich Nur Fadli 02 Oktober 2023 | 18:13:04

Zona mahasiswa - Aksi seorang murid SMA yang membuat gambar tak senonoh di papan tulis ini bikin geram netizen, padahal saat itu ada guru di sampingnya. Hal itu tentu sangat tidak sopan dan tak seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar.

Baca juga: Diteror Suara Ledakan dan Guyuran Pasir, Wanita Ini Curhat Dikirimi Santet Cowok yang Pernah Ditolak Cintanya

Dalam video tersebut, awalnya kita melihat seorang wanita berkerudung cokelat yang diduga menjadi seorang guru sedang menghapus coretan yang ada di papan tulis. Namun, kemudian perhatian video beralih ke seorang siswa SMA yang sedang menggambar seorang wanita berbikini di papan tulis. Sang guru dengan sabar mencoba menghapus gambar tersebut, namun siswa tersebut tetap melanjutkan tindakannya.

Sebagai seorang guru, sabar adalah hal yang sangat diperlukan, meskipun terkadang sulit. Ketika seorang siswa sudah diberikan nasihat dan bimbingan namun tetap berperilaku kurang pantas, mungkin yang terbaik adalah tetap tenang. Terlalu keras terhadap siswa juga bisa menimbulkan masalah dengan orang tua mereka. Biarkan video ini dan reaksi netizen menjadi pembelajaran bagi siswa tersebut.

Melansir dari detik.com Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, mengungkapkan keprihatinannya terhadap insiden ini. Ia menilai tindakan siswa tersebut sangat tidak menghormati guru mereka. Retno juga mencatat bahwa saat ini, siswa seringkali lebih berani terhadap guru yang lebih muda karena merasa dekat. Namun, mereka seharusnya tetap menghormati dan menghargai guru mereka serta memahami batasan-batasan yang ada.

"KPAI menyampaikan keprihatinan atas peristiwa yang terjadi, yaitu seorang siswa SMA menggambar tubuh wanita berbikini di papan tulis padahal seorang guru berada di sampingnya," ujar Retno dalam keterangannya.

Retno menyarankan bahwa siswa tersebut bisa diberikan teguran lisan dan mendapatkan pendampingan untuk mendidiknya tentang perilaku yang pantas dan etis. Jika siswa tersebut mengulangi tindakannya, maka tindakan disiplin yang lebih keras seperti teguran tertulis atau pemanggilan orang tua oleh pihak sekolah bisa menjadi langkah selanjutnya.

"Tentu saja perbuatan siswa tersebut adalah perbuatan tidak sepantasnya dilakukan, siswa seharusnya menghormati gurunya," sambungnya.

Lebih lanjut, Retno menyebut siswa tersebut bisa dibina dan diberikan teguran tertulis. Namun jika perbuatannya diulangi, siswa tersebut harus diberikan teguran tertulis dan orang tuanya harus dipanggil oleh pihak sekolah.

"Bisa dibina dengan teguran lisan dahulu untuk mendidik bahwa perbuatan tersebut tidak pantas atau tidak etis, selanjutnya jika peserta didik mengulangi lagi, maka bisa diberikan teguran tertulis dan disampaikan kepada orang tuanya," ungkap Retno.

Hilangnya Sopan Santun Siswa

Adab adalah kumpulan aturan dan norma yang berkaitan dengan tata krama dan sopan santun, yang didasarkan pada nilai-nilai agama. Sementara itu, etika adat merujuk pada perilaku dan kebiasaan seseorang yang mencerminkan moral yang positif. Dalam konteks hubungan antara seorang murid dan gurunya, adab dan etika memegang peranan penting.

Seorang murid seharusnya memiliki tata krama dan sikap yang baik ketika berinteraksi dengan gurunya. Dengan bersikap sopan dan menghormati guru, akan lebih memudahkan proses pembelajaran dan penyerapan ilmu bagi murid tersebut. Sikap yang baik ini juga akan membawa manfaat positif dalam kehidupan sehari-hari murid.

Indonesia telah lama dikenal di seluruh dunia sebagai negara yang menghargai dan menjunjung tinggi budaya, keramahan, serta sopan santun. Budaya yang menekankan persaudaraan, saling menghormati, dan menghargai sangat melekat dalam masyarakat Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terlihat adanya penurunan budaya keramahan dan sopan santun di Indonesia, terutama pada generasi muda atau siswa, yang tampaknya kehilangan etika dan perilaku yang baik terhadap teman sebaya, orang yang lebih tua, guru, bahkan terhadap orang tua mereka.

Presiden RI, Joko Widodo, telah mengungkapkan keprihatinannya terkait hilangnya nilai-nilai seperti kesantunan dan tata krama di Indonesia. Ia berpendapat bahwa penting untuk membangkitkan kembali nilai-nilai ini yang tampaknya telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir. Ada kecenderungan semakin banyaknya tindakan seperti ejekan dan penghinaan yang dilakukan oleh anak muda, yang jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai Indonesia yang mengedepankan keramahan daripada perilaku merendahkan.

Fenomena ini juga mencakup insiden di mana siswa-siswa terlibat dalam perilaku yang kurang sopan terhadap guru-guru mereka, bahkan hingga berani melakukan tindakan melawan guru saat berlangsungnya pembelajaran di kelas. Ini mungkin disebabkan oleh perasaan dimanja pada beberapa generasi muda, yang menyebabkan mereka lebih rentan melakukan pelanggaran tata tertib dan etika.

Secara tidak langsung, kita sebagai bangsa Indonesia terancam kehilangan identitas dan budaya sopan santun yang merupakan salah satu karakteristik yang membedakan kita. Ini adalah masalah serius yang muncul dari hal-hal yang sepele, dan seharusnya sopan santun diajarkan dan diterapkan sejak dini oleh orang tua. Namun, tampaknya remaja saat ini cenderung mengabaikan nilai-nilai ini.

Sopan santun harus menjadi bagian dari karakter kita, di mana pun dan kapan pun kita berada, terutama di Indonesia, yang dikenal karena budayanya yang sangat ramah dan sopan. Meskipun tingkat kesopanan mungkin berbeda-beda, tergantung pada lingkungan tempat kita berada, namun nilai-nilai ini tidak boleh terlupakan. Mereka harus selalu dijunjung tinggi, karena mereka mencerminkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Selain faktor eksternal seperti pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia, ada juga faktor internal yang memengaruhi penurunan sopan santun di kalangan siswa, seperti kurangnya pendidikan dan pengetahuan tentang sopan santun, serta gaya berpakaian yang kurang pantas. Orang tua dan sekolah harus berperan aktif dalam membentuk etika dan karakter anak-anak mereka. Melalui pendidikan karakter di sekolah, nilai-nilai seperti sopan santun dapat ditanamkan pada anak-anak, membantu mereka memahami budaya, tata krama, dan norma kesopanan.

Miris! Cuek Meski Ada Guru, Murid Laki-laki Ini Bikin Gambar Tak Senonoh di Papan Tulis

Itulah ulasan mengenai aksi seorang murid SMA yang membuat gambar tak senonoh di papan tulis. Jadi, penting bagi orang tua untuk mengambil peran aktif dalam mengajarkan anak-anak mereka tentang nilai-nilai ini, karena ini bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari dalam sehari. Selain itu, pendidikan karakter di sekolah juga dapat berperan dalam mendidik anak-anak tentang sopan santun dan tata krama, membantu mereka menjadi generasi yang menghargai nilai-nilai budaya dan sopan santun.

Semoga ulasan ini bermanfaat bagi Sobat Zona. Jangan lupa untuk terus mengikuti berita seputar mahasiswa dan dunia perkuliahan, serta aktifkan selalu notifikasinya.

Baca juga: Tak Terima Disebut Pantai Terkotor ke-4 di Indonesia, Niat Baik Pandawara Group Ajak Bersihkan Pantai Ditolak Kepala Desa

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150