Zona Mahasiswa - Sobat Zona, pernah nggak sih kalian merasa down karena hal-hal sepele? Atau merasa skripsi itu beban hidup terberat? Kalau iya, kalian wajib banget baca kisah inspiratif yang satu ini. Cerita ini bakal menampar rasa malas kita dan mengubah definisi "keterbatasan" menjadi "kekuatan".
Perkenalkan, Ida Mujtahidah atau yang akrab disapa Aida. Sosok perempuan tangguh yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik hanyalah sebuah kondisi, bukan halangan untuk mencetak prestasi gila-gilaan.
Bayangkan saja, Aida adalah penyandang disabilitas tuna daksa. Namun, di balik kursi rodanya, tersimpan otak yang brilian dan semangat baja. Ia baru saja menamatkan studi S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan predikat Cum Laude, menjadi lulusan tercepat, tesis terbaik, dan gokilnya lagi: dia lolos beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) sebanyak dua kali! Kini, di tahun 2025, ia siap melenggang ke jenjang S3.
Bagaimana perjalanan Aida menaklukkan dunia akademis di tengah keterbatasan? Yuk, kita bedah kisahnya yang bikin merinding ini!
Baca juga: Tragis! Mahasiswi UMM Dihabisi Oknum Polisi, Dendam Kesumat Berujung Maut
Tumbuh di Tengah Buku dan Pesantren: "Privilege" Ilmu
Aida tidak lahir di kota metropolitan, melainkan di Jombang, Jawa Timur, sebuah kota yang dikenal sebagai Kota Santri. Lingkungan tempat ia tumbuh sangat kental dengan nuansa religius dan pendidikan.
Mengutip dari Media Keuangan Kementerian Keuangan, Aida dibesarkan oleh orang tua yang sangat peduli pada pendidikan. Ayahnya adalah seorang dosen perguruan tinggi, sementara ibunya adalah seorang guru. Keduanya juga mengelola sebuah yayasan pondok pesantren.
Privilege yang dimiliki Aida bukanlah harta yang berlimpah ruah, melainkan akses terhadap ilmu. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan atmosfer diskusi intelektual.
- Perpustakaan adalah "Taman Bermain": Saat anak-hal lain sibuk bermain fisik, Aida menjadikan perpustakaan keluarga sebagai ruang favoritnya. Di sana, ia melahap berbagai buku sejarah, pengetahuan umum, hingga kitab tafsir dan kajian keislaman khas pesantren.
- Misteri Medis: Di sisi lain, masa kecil Aida juga diwarnai dengan perjuangan medis. Berbagai dokter telah didatangi untuk mengetahui penyebab kondisi fisik (tuna daksa) yang dialaminya. Namun, diagnosa dokter selalu berbeda-beda dan tidak memberikan kepastian.
Alih-alih insecure atau menyalahkan takdir, Aida memilih jalan "Berdamai". Ia menerima kondisinya dan memusatkan seluruh energinya pada satu hal yang bisa ia kendalikan: Otaknya.
Revolusi Mental: Dari "Didampingi" Menjadi Mandiri
Sobat Zona, transisi terbesar dalam hidup Aida terjadi saat ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Slamet Riyadi, mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI).
Selama ini, Aida selalu mendapatkan support system penuh dari keluarga. Bahkan, ada "mbak ndalem" (asisten rumah tangga di pesantren) yang selalu ditugaskan untuk mendampinginya beraktivitas. Namun, Aida sadar ia tidak bisa selamanya bergantung pada orang lain.
Di masa kuliah S1 inilah, ia memutuskan untuk belajar hidup mandiri. Sebuah keputusan yang berani bagi penyandang disabilitas di tengah infrastruktur Indonesia yang, jujur saja, belum 100% ramah disabilitas.
"Sekarang alhamdulillah ke mana-mana sendiri. Terbang ke Bali sendiri sudah tidak masalah. Keliling Jawa juga sudah bisa," ujar Aida sambil tertawa kecil, menyiratkan kebanggaan atas kemandiriannya.
Kemandirian fisik ini ternyata berbanding lurus dengan kemandirian intelektualnya. Prestasi demi prestasi mulai ia ukir.
The Real MVP: Taklukkan LPDP & Cum Laude UGM
Masuk ke jenjang S2, tantangan semakin berat. Tapi bagi Aida, tantangan adalah makanan sehari-hari. Pada tahun 2022, ia membidik beasiswa paling bergengsi di Indonesia: LPDP.
Kita tahu sendiri, seleksi LPDP itu susahnya minta ampun. Ribuan orang gagal setiap tahunnya. Tapi Aida? Ia lolos hanya dalam satu kali percobaan! Savage!
Debat Jurusan dengan Sang Ayah Ada cerita unik sebelum ia mengambil S2. Ayahnya sempat ragu dengan pilihan jurusan Hubungan Internasional (HI). Mungkin sang ayah berpikir, apa relevansinya untuk Aida?
Namun, jawaban Aida sungguh di luar dugaan. Ia menggunakan pendekatan teologis yang sangat cerdas. Ia mengutip Surat Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi: "...dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal..."
"Saya bilang ke Abah, ini ayatnya HI banget. Ini perintah Allah untuk mengenal bangsa-bangsa. Saya tidak sanggup menafsirkan semua ayat, saya ingin mendalami satu saja," kenang Aida.
Jawaban brilian ini meluluhkan hati ayahnya. Dan hasilnya?
- Lulusan Tercepat: Pada November 2024, Aida diwisuda sebagai mahasiswa tercepat di angkatannya pada Prodi HI UGM.
- Cum Laude: Nilai akademisnya nyaris sempurna.
- Tesis Terbaik: Karya tulis akhirnya dinobatkan sebagai yang terbaik di tingkat program studi.
Ini adalah bukti bahwa disabilitas tidak mengurangi kualitas kognitif seseorang sedikitpun.
Pulang Kampung: Mengabdi untuk Masyarakat
Setelah meraih gelar Magister, Aida tidak lantas mengejar karier korporat di ibu kota. Ia memilih jalan sunyi namun berdampak: Pulang ke Jombang.
Aida membuktikan bahwa ilmu tinggi bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk kebermanfaatan. Ia kini aktif di berbagai lini:
- Pengembangan Pesantren: Ia membantu yayasan keluarga, YPI Miftahul Ulum, khususnya di bidang Litbang (Penelitian dan Pengembangan). Yayasan ini unik karena juga menaungi siswa penyandang disabilitas.
- Peneliti & Penulis: Aida menjadi peneliti independen di Jaringan Periset Disabilitas. Ia juga aktif di Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).
- Literasi: Kecintaannya pada buku tersalurkan dengan menjadi editor sastra pesantren dan terlibat dalam berbagai proyek penulisan buku.
Aida adalah contoh nyata intellectual activist. Dia punya ilmunya, dan dia turun langsung ke lapangan untuk mengamalkannya.
Next Level: OTW Doktor (S3) di 2025!
Kisah Aida belum selesai, Sobat Zona. Haus akan ilmu, Aida kembali menantang dirinya untuk lanjut ke jenjang Doktoral (S3).
Dan tebak? Pada seleksi tahun 2025 ini, Aida kembali dinyatakan LOLOS BEASISWA LPDP S3. Ini artinya, negara dua kali mempercayakan investasi pendidikannya kepada sosok Aida.
"Kalau ilmunya lebih banyak, insyaallah lebih bermanfaat. Semoga bisa, mohon doanya," ujarnya dengan rendah hati.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Kisah Ida Mujtahidah ini menampar kita dengan beberapa pelajaran penting:
- Stop Making Excuses: Aida punya seribu alasan untuk menyerah (fisik terbatas, akses sulit, stigma masyarakat). Tapi dia memilih satu alasan untuk bangkit: Mimpi. Kalau Aida bisa keliling Jawa dan S2 Cum Laude dengan kursi roda, apa alasanmu malas skripsian?
- Kekuatan "Why": Saat Aida menjelaskan alasan masuk HI pakai dalil Al-Qur'an, itu menunjukkan dia punya tujuan (purpose) yang kuat. Kuliah bukan cuma cari gelar, tapi cari makna.
- Inklusivitas itu Penting: Prestasi Aida adalah bukti bahwa jika diberi kesempatan dan akses (seperti beasiswa LPDP Afirmasi/Umum), penyandang disabilitas bisa bersaing bahkan mengungguli yang non-disabilitas.
Menutup kisahnya, Aida menitipkan pesan yang sangat relate buat kita semua. Di era di mana banyak orang cuma modal "viral" dan "konten", Aida mengingatkan pentingnya substansi.
"Peduli itu penting, tapi ilmu juga harus. Ilmu adalah investasi paling berharga untuk perubahan masyarakat."
Kepedulian sosial (empati) harus berjalan beriringan dengan kompetensi (ilmu). Tanpa ilmu, kepedulian kita mungkin tidak solutif. Tanpa kepedulian, ilmu kita mungkin tidak membumi.
Selamat berjuang untuk studi S3-nya, Mbak Aida! Terima kasih sudah menjadi lentera inspirasi bagi jutaan mahasiswa Indonesia.
Komentar
0

