Zona Mahasiswa - Sobat Zona, momen pergantian tahun baru 2026 kemarin harusnya jadi momen yang memorable, penuh kembang api, bakar jagung, atau setidaknya deep talk bareng bestie sambil melihat pemandangan kota dari ketinggian. Tapi, apa jadinya kalau rencana "tahun baruan estetik" malah berubah jadi mimpi buruk di tengah hutan gelap gulita?
Itulah nasib apes yang menimpa enam mahasiswa di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Niat hati ingin mengejar sunrise pertama tahun 2026 di puncak Gunung Salunga, mereka malah tersesat dan terjebak semalaman di dalam hutan rimba.
Kejadian ini bermula pada Rabu malam (31/12/2025) dan baru berakhir dramatis pada Kamis pagi (1/1/2026). Alih-alih merayakan tahun baru dengan tawa, mereka justru menyambut tahun 2026 dengan trauma, kelelahan, dan wajah pucat pasi.
Gimana kronologi lengkapnya dan kenapa mereka bisa tersesat padahal katanya ada yang pernah ke sana? Yuk, kita bedah kasus ini biar jadi pelajaran mahal buat kalian yang hobi muncak!
Baca juga: Tragis! Mahasiswi UMM Dihabisi Oknum Polisi, Dendam Kesumat Berujung Maut
Kronologi: Nekat Mendaki Malam Modal Ingatan Samar
Berdasarkan laporan yang dihimpun tim Zona Mahasiswa, rombongan ini terdiri dari enam orang mahasiswa (3 laki-laki dan 3 perempuan). Komposisi yang sebenernya pas buat saling jaga, tapi sayangnya kurang persiapan matang soal navigasi.
Perjalanan dimulai pada Rabu, 31 Desember 2025, pukul 20.00 WITA. Mereka memilih jalur pendakian via Desa Mbawa, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Target mereka jelas: Puncak Gunung Salunga. Gunung ini memang hits di kalangan pendaki lokal karena menawarkan lanskap Bima dan Dompu yang ciamik, plus bonus pemandangan megahnya Gunung Tambora di kejauhan.
Kenapa Berani Mendaki Malam? Nah, ini kuncinya. Mereka berani naik malam-malam karena salah satu dari mereka mengaku pernah mendaki gunung tersebut.
"Mereka nekat mendaki Gunung Salunga karena ada salah satu orang yang pernah mendaki gunung ini," jelas Ketua Karang Taruna Desa Mbawa, Irmansyah, yang memimpin proses evakuasi.
Di sinilah letak fatalnya, Guys. Si "pemandu dadakan" ini ternyata hanya mengandalkan ingatan dari pengalaman pendakian sebelumnya yang entah kapan.
Saat masuk ke dalam hutan, kondisi gelap gulita membuat orientasi medan berubah total. Pohon-pohon tampak sama, jalur setapak tertutup semak, dan ingatan si pemandu mulai blank.
"Hanya saja, saat pendakian yang bersangkutan tak ingat jalur dan jalannya sehingga mereka tersesat," tambah Irmansyah.
Akibatnya, bukannya makin dekat ke puncak, mereka malah makin masuk ke rimbunnya hutan yang tidak jelas arahnya.
Panic Mode On: Tahun Baru di Tengah Hutan Gelap
Bayangkan posisinya: Jam menunjukkan pukul 00.00 WITA, pergantian tahun 2025 ke 2026. Orang-orang di kota sedang meniup terompet. Sementara enam mahasiswa ini sedang kedinginan, kebingungan, dan ketakutan di tengah hutan.
Beruntung, di era digital ini, sinyal seluler di beberapa titik ketinggian masih bisa tertangkap (meski on-off). Informasi bahwa ada pendaki yang hilang kontak dan tersesat mulai menyebar melalui WhatsApp Group (WAG) warga dan pemuda setempat.
Kabar ini sampai ke telinga Irmansyah dan rekan-rekan Karang Taruna Desa Mbawa. Tanpa pikir panjang, meskipun saat itu warga desa juga sedang merayakan tahun baru, rasa kemanusiaan memanggil mereka. Tim penyelamat lokal segera dibentuk dadakan untuk menyisir hutan.
Evakuasi Dramatis: Menunggu Fajar Datang
Proses pencarian tidak semudah di film-film petualangan. Hutan di lereng Gunung Salunga saat malam hari sangat gelap dan medannya cukup menantang.
Irmansyah menjelaskan bahwa tim evakuasi mengalami kendala visibilitas (jarak pandang). Mencari enam orang di hutan luas saat tengah malam ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.
"Proses evakuasi enam mahasiswa yang tersesat itu terkendala kondisi gelap gulita. Walhasil, mereka pun kesulitan untuk keluar dari kawasan hutan," ujarnya.
Demi keselamatan bersama (agar tim penyelamat tidak ikutan tersesat atau celaka), evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati. Akhirnya, titik terang muncul saat matahari pertama tahun 2026 terbit.
Pada Kamis pagi (1/1/2026), tim penyelamat berhasil menemukan keenam mahasiswa tersebut. Mereka ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan.
"Semuanya selamat. Mereka langsung dipulangkan ke tempat asalnya dalam kondisi trauma dan kelelahan," tutur Irmansyah lega.
Wajah-wajah lelah itu akhirnya bisa turun ke permukiman warga. Tidak ada selebrasi tahun baru, yang ada hanya rasa syukur karena masih diberi umur panjang. Begitu sampai di bawah, mereka langsung dipulangkan ke rumah masing-masing untuk pemulihan fisik dan mental.
Gunung Salunga: Indah tapi Menipu
Buat Sobat Zona yang belum tahu, Gunung Salunga di Bima, NTB, memang punya pesona magis. Jalur pendakiannya menawarkan tantangan tersendiri. Hutan yang masih cukup rapat menjadi daya tarik, tapi juga jebakan bagi yang tidak waspada.
Banyak pendaki pemula yang sering meremehkan gunung-gunung yang tidak terlalu tinggi (non-7 summits), padahal risiko tersesat di hutan tropis itu sama besarnya, mau di Semeru ataupun di Salunga. Vegetasi yang rapat bisa membuat jalur setapak hilang dalam sekejap mata, apalagi jika mendaki tanpa pencahayaan yang memadai.
Pelajaran Mahal buat Anak Gunung "Karbitan"
Kasus 6 mahasiswa di Bima ini harus jadi tamparan keras buat kita semua. Kejadian "tersesat bermodal sotoy" (sok tahu) ini bukan yang pertama kali terjadi.
Berikut analisis dan tips dari Zona Mahasiswa biar kalian nggak mengalami nasib serupa:
1. Bahaya Sindrom "Trust Me, Bro" Dalam dunia pendakian, jangan pernah menyerahkan nyawa kalian 100% pada satu orang teman yang bilang "Tenang, gue pernah ke sana sekali, gue hafal." Ingatan manusia itu terbatas. Kondisi gunung berubah (pohon tumbang, longsor, semak meninggi). Selalu bawa alat navigasi cadangan (Peta offline di HP, Kompas, atau GPS). Kalau ragu, sewa guide warga lokal (Porter). Bayar sedikit lebih mahal nggak masalah daripada nyawa melayang.
2. Pendakian Malam (Night Hiking) itu Berisiko Tinggi Mendaki malam memang adem dan bisa ngejar sunrise. Tapi risikonya berkali-kali lipat. Jarak pandang terbatas membuat kita mudah melewatkan percabangan jalur. Kalau kalian belum expert atau belum hafal jalur di luar kepala, JANGAN MENDAKI MALAM. Mulailah pagi hari saat terang.
3. Persiapan Logistik & Mental Apakah 6 mahasiswa ini bawa logistik cukup? Tenda? Jaket thermal? Seringkali pendaki "tektok" (naik-turun sehari) meremehkan logistik. "Ah, cuma sebentar kok." Giliran tersesat dan harus bermalam darurat, mereka mati kedinginan (hipotermia) atau kelaparan. Selalu bawa survival kit minimal (jas hujan, senter, korek api, air minum lebih, makanan darurat) meskipun niatnya cuma pendakian pendek.
4. Manajemen Panik (STOP) Kalau sadar tersesat, ingat metode STOP:
- Sit (Duduk, tenangin diri, minum air).
- Thinking (Pikirkan, ingat-ingat jalur terakhir).
- Observe (Amati sekitar, cari tanda jejak).
- Plan (Buat rencana, mau diam nunggu pagi atau balik arah). Jangan asal terobos semak-semak karena panik, itu malah bikin makin jauh dari jalur. Mahasiswa di Bima ini untungnya bisa kontak keluar via WA, kalau tidak? Ceritanya mungkin bakal beda.
Alam Bukan Tempat Uji Nyali Konyol
Tahun baru 2026 harusnya diawali dengan semangat baru, bukan trauma baru. Kita bersyukur keenam teman mahasiswa kita di Bima selamat tanpa kurang suatu apapun selain lecet dan lelah.
Terima kasih setinggi-tingginya buat Bang Irmansyah dan Karang Taruna Desa Mbawa yang gercep melakukan penyelamatan. Kalian pahlawan tanpa jubah di awal tahun ini!
Buat Sobat Zona yang punya rencana hiking di tahun 2026 ini, tolong banget ya: Persiapan > Gaya. Gunung nggak akan lari, tapi nyawa nggak bisa di- refill. Jadilah pendaki cerdas yang pulang membawa sampah dan cerita indah, bukan pendaki ceroboh yang pulang membawa tim SAR.
Gimana menurut kalian, Sobat Zona? Pernah punya pengalaman nyasar pas naik gunung gara-gara temen yang "sok tahu" jalan
Komentar
0

