Zona Mahasiswa - Sobat Zona, pernah nggak sih kalian merasa insecure karena kondisi ekonomi pas-pasan saat kuliah? Atau mungkin malu mau kerja sampingan kasar karena takut gengsi jatuh di depan teman-teman? Kalau iya, kalian wajib banget baca kisah from zero to hero yang satu ini.
Cerita ini datang dari Ardi Alam Jabir, seorang pemuda tangguh yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok penghalang, melainkan batu loncatan. Siapa sangka, sosok yang dulu membelah jalanan Makassar dengan jaket hijau ojek online (ojol) demi membiayai kuliahnya, kini berdiri gagah sebagai Supervisor di salah satu kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Perjalanan Ardi dari seorang penerima Bidikmisi, rider ojol, awardee LPDP ke Tiongkok, hingga menjadi bos muda di industri nikel adalah definisi glow up karier yang sesungguhnya. Yuk, kita bedah rahasia sukses Ardi biar semangat kuliah kalian makin membara!
Baca juga: Tragis! Mahasiswi UMM Dihabisi Oknum Polisi, Dendam Kesumat Berujung Maut
Dilema Mahasiswa Tingkat Akhir: Lulus Cepat atau Cari Pengalaman?
Ardi lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Orang tuanya sempat merantau menjadi penambang rakyat di Kalimantan sebelum akhirnya membuka toko sembako kecil di Makassar. Bagi keluarganya, kuliah adalah "barang mewah". Namun, otak encer Ardi membawanya masuk ke Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin (UNHAS) lewat jalur beasiswa Bidikmisi.
Ujian mental sesungguhnya datang di pengujung masa studi. Saat teman-temannya sibuk mengejar wisuda agar cepat kerja, Ardi justru dihadapkan pada pilihan sulit. Ia mendapat tawaran program Student Exchange (Pertukaran Pelajar) ke Ehime University, Jepang.
Ini adalah kesempatan emas, tapi risikonya besar:
- Risiko Waktu: Kelulusannya akan tertunda satu semester.
- Risiko Biaya: Semester tambahan itu TIDAK DITANGGUNG oleh Beasiswa Bidikmisi. Artinya, ia harus bayar UKT dan biaya hidup sendiri.
Di sinilah mental juaranya teruji. Ardi memilih mengambil kesempatan ke Jepang. Konsekuensinya? Ia harus putar otak cari uang.
"Jadi ketika saya extend perkuliahan ini saya memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan lainnya. Saat itu saya memutuskan untuk narik ojek online untuk setidaknya bisa mengcover biaya perkuliahan dan juga biaya sehari-hari saya," kenang Ardi, dikutip dari laman LPDP.
Bayangkan, Guys. Siang ia menjadi mahasiswa peneliti yang bersiap ke Jepang, malam ia menjadi driver ojol yang mengantar pesanan makanan atau penumpang. Gengsi? Ardi membuang jauh-jauh kata itu demi mimpi yang lebih besar.
Menaklukkan Jepang & Tiongkok: Transformasi Mindset
Keputusan Ardi "berdarah-darah" ngojol ternyata tidak sia-sia. Pengalaman di Ehime University, Jepang, membuka mata batinnya. Ia melihat bagaimana canggihnya riset di luar negeri dan etos kerja orang Jepang yang gila-gilaan.
Pulang dari Jepang, Ardi tidak puas hanya dengan gelar Sarjana. Ia haus ilmu. Ia kemudian mendaftar beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) jalur Indonesia-China LPDP-CSU-GEM.
Tahun 2019, Ardi terbang ke Central South University (CSU), Tiongkok. Di Negeri Tirai Bambu, Ardi ditempa menjadi pribadi yang lebih tangguh.
Mitos Makanan & Ibadah: Banyak yang takut kuliah di China karena isu makanan halal dan susah ibadah. Ardi mematahkan stigma itu. Di Changsha, tempatnya belajar, ia menemukan banyak restoran halal dan masjid yang megah.
"Di sana, saya belajar disiplin, menghargai waktu, dan etos kerja yang fokus," ujarnya.
Lebih dari itu, Ardi belajar satu hal krusial yang mengubah pandangannya tentang tambang: Teknologi Daur Ulang. Di China, limbah elektronik tidak dianggap sampah, tapi "tambang kota" yang bisa diolah kembali menjadi logam berharga. Wawasan inilah yang kelak menjadi modal besarnya saat terjun ke dunia kerja.
Karier Roket di Morowali: Magang Dulu, Bos Kemudian
Saat pandemi COVID-19 melanda, Ardi terpaksa pulang ke Indonesia dan melanjutkan kuliah daring. Namun, ia tidak mau gabut rebahan. Ia memanfaatkan waktu itu untuk magang di PT QMB New Energy Materials di kawasan IMIP, Morowali.
Keputusan magang ini sangat strategis. Kenapa?
- Relevansi Ilmu: Perusahaan ini bergerak di bidang material energi baru (baterai EV), sesuai dengan jurusan S2-nya.
- Adaptasi Budaya: Karena pernah kuliah di China, Ardi tidak canggung berinteraksi dengan atasan atau tenaga ahli dari Tiongkok. Kendala bahasa dan budaya bisa ia atasi dengan mudah.
Begitu lulus S2 pada tahun 2022, Ardi langsung direkrut permanen. Kariernya melesat bak roket! Berkat skill teknis mumpuni dan kemampuan manajerial, dalam waktu tiga tahun saja, ia sudah menduduki posisi Supervisor di divisi Research and Development (R&D).
"Jenjang kariernya sangat cepat. Untuk saya dan teman-teman seangkatan, sekarang kami sudah berada di level manajerial," terang Ardi.
Kini, tugas Ardi bukan lagi mengantar penumpang ojol, tapi memimpin proyek penelitian, mengoptimalkan proses produksi nikel, hingga memikirkan cara mengubah limbah pabrik menjadi cuan.
Visi Besar: Hilirisasi Nikel & Kedaulatan Teknologi
Kisah Ardi bukan cuma soal kesuksesan pribadi, tapi juga tentang masa depan industri Indonesia. Kita tahu, Indonesia adalah raja nikel dunia. Tapi selama ini, kita sering cuma jadi "tukang gali" yang menjual tanah air (bijih mentah) ke luar negeri.
Pemerintah sekarang gencar melakukan Hilirisasi (pengolahan di dalam negeri). Ardi ada di garda terdepan misi ini. Ia ingin Indonesia tidak hanya punya pabriknya, tapi juga menguasai teknologinya.
"Harapan saya ke depan, Indonesia bisa memiliki industri pengolahan logam yang benar-benar murni dan 100 persen lokal," tegas Ardi.
Cita-citanya tidak berhenti di Supervisor. Ardi memiliki impian mulia untuk menjadi Dosen. Ia ingin membagikan ilmu metalurgi canggih yang ia dapat di China dan Morowali kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia, agar kelak lahir ribuan "Ardi baru" yang siap mengelola kekayaan alam bangsa sendiri.
Rumus Sukses Ardi yang Bisa Kamu Tiru
Sobat Zona, dari perjalanan Ardi, ada 3 poin mahal yang bisa kita curi ilmunya:
- Berani Keluar Zona Nyaman (Calculated Risk): Ardi berani menunda kelulusan dan kehilangan beasiswa demi ke Jepang. Ia tahu value pengalaman internasional jauh lebih mahal daripada lulus cepat tapi skill rata-rata. Jangan takut ambil risiko kalau itu buat upgrade diri!
- Gengsi Nggak Bikin Kenyang: Ini penyakit anak muda zaman now. Malu kerja kasar. Ardi membuktikan, narik ojol itu pekerjaan mulia kalau tujuannya untuk pendidikan. Jangan biarkan gengsi membunuh masa depanmu.
- Kuasai Bahasa & Skill Spesifik: Ardi sukses di IMIP karena dia punya kombinasi maut: Ilmu Pertambangan + Pengalaman di China (Bahasa & Budaya). Di era global, punya skill bahasa asing (selain Inggris) adalah nilai plus yang bikin gaji kamu to the moon.
Penutup: Siap Jadi Next Ardi?
Kisah Ardi Alam Jabir adalah tamparan bagi kita yang masih suka mengeluh "nggak punya privilege". Privilege terbesar Ardi adalah mental bajanya dan kemauannya untuk belajar.
Sekarang, Ardi sudah membuktikan bahwa anak penambang rakyat, mantan driver ojol, bisa menjadi pemimpin di industri strategis negara.
Giliran kamu kapan, Sobat Zona? Jangan cuma jadi penonton kesuksesan orang lain. Mulai bergerak, buang gengsi, dan kejarlah beasiswa-beasiswa yang bertebaran di luar sana (LPDP, AAS, Chevening, dll).
Siapa tahu, 5 tahun lagi, giliran kisahmu yang kami tulis di sini!
Gimana pendapat kalian soal perjuangan Ardi? Ada yang lagi berjuang kuliah sambil kerja juga?
Komentar
0

