Zona Mahasiswa - Sobat Zona, pernah nggak sih kalian duduk di kelas, ngelihat dosen kalian yang lagi jelasin materi dengan berapi-api, terus mikir: "Wah, keren ya jadi dosen. Pinter, berwibawa, kerjanya baca buku, diskusi, terus pulang bawa gaji gede."
Jujur aja, pasti banyak dari kita yang pernah punya cita-cita klasik ini. Profesi dosen sering dianggap sebagai puncak karier intelektual. Kelihatannya mentereng, prestige-nya tinggi, dan dihormati masyarakat.
Tapi, apa jadinya kalau romantisme itu hancur berkeping-keping saat kamu tahu isi dompet mereka?
Baru-baru ini, sebuah curhatan viral mewakili perasaan banyak mahasiswa tingkat akhir yang mengalami krisis eksistensi. Niat hati ingin mengabdi jadi akademisi, tapi nyali langsung ciut begitu melihat slip gaji dosen yang ternyata... ngenes banget. Bahkan, ada yang bilang gajinya cuma cukup buat "latihan keikhlasan".
Kenapa profesi semulia ini justru seringkali tidak dihargai secara finansial? Dan benarkah banyak dosen yang terpaksa "melacurkan" idealisme mereka demi dapur tetap ngebul? Mari kita bedah fenomena "Kerja Serius, Gaji Bercanda" ini!
Ekspektasi vs. Realita: Intelektual tapi Dompet Tipis
Cita-cita jadi dosen itu biasanya lahir dari idealisme. Kita melihat sosok dosen sebagai manusia yang hidupnya tenang, dikelilingi buku, dan jauh dari hiruk-pikuk kasar dunia kerja korporat.
Namun, realita di lapangan seringkali menampar keras. Curhatan yang masuk ke meja redaksi Zona Mahasiswa menyebutkan bahwa mimpi menjadi dosen berubah menjadi mimpi buruk finansial.
Bayangkan effort-nya, Guys:
- Sekolah Panjang: Minimal harus S2 (Magister). Kalau mau karier bagus, wajib S3 (Doktor).
- Biaya Mahal: Tesis dan disertasi itu nggak murah. Biaya riset, publikasi jurnal internasional, sampai biaya hidup selama kuliah lanjut itu bikin boncos.
- Stress Level Dewa: Tekanan akademik itu nyata.
Tapi begitu lulus dan resmi mengabdi? Gajinya seringkali tidak sampai dua digit. Bahkan, untuk menyentuh angka UMR (Upah Minimum Regional) di kota besar saja, banyak dosen muda yang harus ngos-ngosan.
"Di titik ini, mimpi menjadi dosen berubah dari cita-cita mulia menjadi latihan keikhlasan tingkat lanjut," tulis salah satu mahasiswa yang kini ragu dengan masa depannya.
Ini adalah ironi terbesar. Orang-orang terpintar di negeri ini, yang tugasnya mencetak generasi emas, justru hidup dalam kondisi finansial yang "perunggu" alias pas-pasan.
Fakta Pahit: Gaji Dosen vs. Biaya Hidup
Mari kita bicara data, bukan cuma perasaan. Berdasarkan banyak testimoni dosen (terutama dosen swasta atau dosen PNS golongan awal), gaji pokok mereka seringkali mengejutkan—dalam arti negatif.
Ada dosen pemula yang take home pay-nya masih di angka di bawah Rp 3 Juta per bulan. Angka ini mungkin terlihat "cukup" di atas kertas bagi mahasiswa yang biasa makan mie instan. Tapi bagi seorang profesional yang sudah S2, punya keluarga, dan tinggal di kota besar? Itu adalah definisi survival mode.
Potongan BPJS, administrasi kampus, iuran ini-itu, membuat sisa gaji yang masuk rekening seringkali hanya numpang lewat.
"Ironisnya, tidak sedikit dosen yang masih ngekos, menunda beli rumah, bahkan harus menghitung ulang pengeluaran cuma demi memastikan akhir bulan tidak berubah jadi akhir segalanya."
Gaji yang "ngepas" ini memaksa dosen untuk hidup prihatin. Padahal, tuntutan penampilan dan profesionalisme mereka tidak ada diskon. Mereka harus tampil rapi, beli buku referensi terbaru (yang harganya mahal), dan update teknologi.
Tri Dharma atau Tri Derita? Beban Kerja yang Gak Ngotak
Kalau gajinya kecil tapi kerjanya santai, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi masalahnya, beban kerja dosen itu Gila-gilaan.
Dalam dunia kampus, ada yang namanya Tri Dharma Perguruan Tinggi:
- Pendidikan/Pengajaran: Siapin materi, ngajar, koreksi tugas, bimbingan skripsi.
- Penelitian: Wajib riset dan publish jurnal (yang seringkali bayar pakai uang sendiri dulu).
- Pengabdian Masyarakat: Turun ke lapangan bikin program sosial.
Belum lagi beban administrasi bernama BKD (Beban Kerja Dosen). Dosen zaman now lebih sering terlihat seperti administrator yang sibuk mengurus berkas akreditasi dan laporan kinerja daripada seorang ilmuwan yang merenung di laboratorium.
"Sistem yang sering kali lebih suka angka daripada proses," adalah kalimat yang tepat menggambarkan birokrasi kampus kita.
Semua beban itu harus dipikul dengan senyum akademis yang ramah. Padahal di dalam hati, mereka mungkin sedang menjerit memikirkan cicilan motor yang belum lunas.
Sisi Gelap: Joki Tugas & Makelar Mobil Demi Bertahan Hidup
Poin ini mungkin agak sensitif, tapi ini adalah rahasia umum yang harus kita buka. Karena gaji yang tidak manusiawi, banyak dosen yang terpaksa mencari "Jalan Tikus".
1. Side Hustle Halal: Banyak dosen yang nyambi jadi konten kreator, buka les privat, jualan online, sampai jadi makelar mobil atau kontraktor. Mereka melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepakaran mereka, hanya demi uang tambahan. Akibatnya? Fokus mengajar jadi terpecah. Mahasiswa yang jadi korban karena dosennya sering "kosong" atau telat masuk kelas karena sibuk side job.
2. Side Hustle "Abu-abu": Yang lebih miris, ada fenomena oknum dosen yang membuka jasa Joki Tugas atau Joki Skripsi/Tesis.
"Bukan karena mereka tidak paham etika akademik, tapi karena realitas ekonomi sering kali lebih galak daripada buku pedoman moral."
Ini adalah tragedi moral. Ketika penjaga gawang integritas akademik terpaksa melanggar aturannya sendiri demi susu anak, berarti ada yang salah total dengan sistem penggajian kita. Dosen bukan lagi sekadar pendidik, tapi manusia biasa yang terhimpit ekonomi.
Negara Maunya Apa? Regulasi Rapi, Realisasi Sepi
Pemerintah sebenarnya sadar akan hal ini. Regulasi demi regulasi diterbitkan. Ada Permendikbudristek Nomor 44 Tahun 2024, disusul Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 52 Tahun 2025 yang baru saja berlaku.
Aturan-aturan ini secara eksplisit mengatur profesi, jenjang karier, dan janji penghasilan yang layak bagi dosen. Di atas kertas, bahasanya manis sekali. Dosen disebut sebagai profesi strategis yang harus dimuliakan.
Tapi, janji tinggal janji. Realisasi di lapangan seringkali macet.
- Tunjangan sertifikasi dosen (Serdos) sering telat cair.
- Birokrasi pencairan dana hibah penelitian ribetnya minta ampun.
- Gaji pokok di kampus swasta kecil masih jauh dari standar layak.
"Negara ingin dosen ideal, tapi dompetnya minimal. Masa iya, mencetak generasi terdidik dikerjakan dengan semangat pengabdian, tapi dibayar dengan nominal yang membuat dosennya harus mikir dua kali buat beli lauk ayam?"
Lingkaran Setan Pendidikan
Sobat Zona, kenapa kita harus peduli? Karena ini berdampak langsung ke KITA sebagai mahasiswa.
- Kualitas Pengajaran Menurun: Dosen yang lelah mencari uang tambahan tidak akan maksimal mengajar. Mereka akan masuk kelas sekadar menggugurkan kewajiban.
- Brain Drain: Mahasiswa-mahasiswa pintar (calon dosen potensial) akhirnya memilih kerja di startup atau perusahaan multinasional yang gajinya 3-4 kali lipat gaji dosen. Akibatnya, kampus diisi oleh "sisa-sisa" atau mereka yang sekadar cari aman, bukan talenta terbaik.
- Komersialisasi Pendidikan: Demi menggaji dosen, kampus akhirnya menaikkan UKT mahasiswa. Kita yang bayar mahal, tapi dosen tetap dibayar murah. Uangnya lari ke mana? Ke infrastruktur fisik dan birokrasi.
Masih Mau Jadi Dosen?
Artikel ini tidak bermaksud melarang kalian bercita-cita jadi dosen. Menjadi pendidik adalah pekerjaan mulia yang pahalanya mengalir terus. Tapi, artikel ini adalah reality check.
Kalau kalian ingin jadi dosen di Indonesia saat ini, siapkan mental baja dan "tabungan keikhlasan" yang tebal. Jangan berharap kaya raya dari gaji dosen semata (kecuali kalian jadi dosen selebgram atau punya proyekan besar).
Pemerintah harus segera sadar. Kalau mau Indonesia Emas 2045, sejahterakan dulu gurunya, sejahterakan dulu dosennya. Jangan sampai dosen kita sibuk jadi makelar tanah saat seharusnya mereka sedang meriset teknologi masa depan.
Kerja serius dengan gaji bercanda itu bukan pengabdian, itu eksploitasi.
Gimana menurut kalian, Sobat Zona? Masih tertarik jadi dosen setelah tahu faktanya, atau langsung putar setir jadi pengusaha?
Baca juga: Pemuda Garut Diamuk Keluarga Kades Gara-gara Kritik Jalan Rusak: "Mau Tenar Kamu?"
Komentar
0

