Zona Mahasiswa - Sobat Zona, pepatah "Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga" sepertinya benar-benar terjadi secara harfiah di kehidupan Bapak Dosen yang satu ini. Di penghujung tahun 2025, dunia pendidikan tinggi kita kembali tercoreng oleh aksi tak terpuji dari seorang tenaga pendidik yang seharusnya menjadi teladan.
Masih ingat video viral seorang bapak-bapak yang meludahi kasir wanita di sebuah swalayan di Makassar? Ternyata, bapak tersebut bukan orang sembarangan. Beliau adalah Amal Said (AS), seorang dosen di Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM).
Aksinya yang terekam CCTV pada Rabu (24/12/2025) itu berujung fatal. Kini, AS harus menelan pil pahit: dipecat dari kampus tempatnya mengabdi selama dua dekade, dilaporkan ke polisi, dan menjadi bulan-bulanan netizen se-Indonesia. Dalam pengakuannya, AS mengaku "kena mental" dan merasa karirnya selama 33 tahun hancur lebur hanya karena satu detik kekhilafan.
Baca juga: Tragis! Mahasiswi UMM Dihabisi Oknum Polisi, Dendam Kesumat Berujung Maut
Simak kronologi lengkap, pembelaan sang dosen, hingga keputusan tegas rektorat di bawah ini.
Pengakuan Dosen AS: "Saya Rusak Sekali..."
Setelah videonya viral dan wajahnya terpampang di berbagai akun gosip nasional, AS akhirnya buka suara. Kepada media, ia menumpahkan penyesalannya. Bukan hanya malu, ia mengaku kondisi psikologisnya tertekan berat.
"Sekarang ini sudah rusak nama saya, bahkan mungkin juga berakibat ke tempat kerja saya ini. Rusak sekali saya ini," curhat Amal saat dikonfirmasi, Minggu (28/12/2025).
AS merasa tidak habis pikir, bagaimana pengabdian panjangnya sebagai pendidik bisa runtuh seketika oleh emosi sesaat. Ia membandingkan durasi pengabdiannya dengan durasi kejadian tersebut.
"Satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya pegawai, mengajar, ribuan mahasiswa saya selesaikan, masa sedetik itu rusak segalanya, tidak sebanding," keluhnya.
Pernyataan ini memicu perdebatan baru di kalangan netizen. Ada yang simpati, tapi banyak juga yang menilai bahwa durasi pengabdian tidak bisa menjadi pembenaran untuk perilaku yang merendahkan martabat orang lain. 33 tahun mengajar etika, tapi gagal mempraktikkannya di depan kasir swalayan? Ironis.
Kronologi Versi Dosen: Merasa Dilecehkan Kasir
Sebenarnya, apa sih pemicu "ludah maut" itu? Berdasarkan video yang beredar, insiden bermula dari cekcok di depan meja kasir. Narasi yang berkembang adalah AS menyerobot antrean. Namun, AS punya pembelaan sendiri.
Bantah Serobot Antrean AS mengklaim dirinya tidak menyerobot. Ia mengaku sudah mengantre seperti pelanggan lain.
"Awalnya memang saya singgah untuk membeli cemilan... saya antre disitu, saya sama sekali tidak menyerobot, saya ikut antrean," jelasnya.
Menurut versinya, ia melihat kasir di sebelahnya kosong, sehingga ia berinisiatif pindah agar lebih cepat dan tidak menghalangi orang di belakangnya. Namun, saat itulah ia ditegur oleh kasir wanita berinisial N (21).
Tersinggung karena Teguran Poin krusialnya ada di sini. AS merasa cara N menegurnya tidak sopan. Sebagai orang tua dan memegang teguh budaya Bugis-Makassar, ia merasa harga dirinya diinjak-injak.
"Setelah saya ditegur itu saya merasa dilecehkan, merasa dihina, saya ini orang tua, masa saya diperlakukan seperti itu," ungkap AS.
Dalam budaya Bugis-Makassar, harga diri (siri') memang sangat tinggi. Namun, apakah rasa tersinggung itu membenarkan tindakan meludahi wajah orang lain? Tentu saja tidak. Emosi AS meledak, dan terjadilah insiden peludahan yang terekam kamera itu.
AS kini berharap kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Ia siap menanggung dosa-dosanya, tapi ia juga menuntut agar si kasir mengakui "kekhilafannya" dalam menegur.
"Harapan saya, orang itu juga harus sadar, mengakui juga dirinya punya kekhilafan," tambahnya.
Kampus Bertindak: Dipecat dan Dikembalikan ke LLDIKTI
Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan AS tidak bisa menghentikan konsekuensi institusional. Pihak Universitas Islam Makassar (UIM) bergerak cepat untuk menyelamatkan marwah kampus.
Pada Senin (29/12/2025), Rektor UIM, Prof Muammar Bakry, mengumumkan keputusan tegas: AS DIBERHENTIKAN.
Keputusan ini tertuang dalam Surat Edaran Rektor Nomor 1362/UIM/B.00/KP/XII/2025.
"Rektor UIM memberhentikan yang bersangkutan sebagai dosen UIM dan dikembalikan ke LLDIKTI Wilayah IX sebagai dosen negeri," tegas Prof Muammar.
Apa Artinya "Dikembalikan"? Perlu Sobat Zona pahami, AS adalah Dosen DPK (Dipekerjakan). Artinya, status aslinya adalah PNS/ASN di bawah naungan LLDIKTI (Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi) yang ditugaskan mengajar di kampus swasta (UIM).
Jadi, UIM "memulangkan" AS ke instansi induknya. Ia tidak lagi boleh mengajar di UIM. Mengenai status PNS-nya selanjutnya, itu menjadi wewenang LLDIKTI Wilayah IX, apakah akan diberi sanksi disiplin berat atau pemecatan sebagai ASN.
Pelanggaran Etika Berat Rektor menilai tindakan AS meludahi orang lain adalah pelanggaran berat terhadap etika dan akhlak akademik. Kampus tidak menoleransi perilaku premanisme, apalagi dilakukan oleh seorang dosen yang bergelar tinggi.
"Kami mewakili Universitas Islam Makassar menyampaikan permohonan maaf kepada korban pelecehan yang tentu jauh dari nilai-nilai kemanusiaan," ucap Rektor.
Padahal, AS tercatat sudah mengabdi selama 20 tahun di UIM dan bahkan pernah mendapatkan penghargaan Satyalancana dari Presiden RI atas pengabdiannya. Sayang, semua prestasi itu kini tertutup oleh satu insiden memalukan.
Analisis Zona: Adab di Atas Ilmu, Bos!
Sobat Zona, kasus Dosen AS vs Kasir N ini adalah cerminan fenomena sosial yang sering kita temui. Ada beberapa poin penting yang bisa kita jadikan pelajaran:
1. Sindrom "Do You Know Who I Am?" Banyak orang yang memiliki jabatan atau gelar tinggi (akademisi, pejabat, orang kaya) merasa memiliki privilese untuk diperlakukan istimewa. Ketika ditegur oleh orang yang dianggap "status sosialnya lebih rendah" (seperti kasir, satpam, atau pramusaji), ego mereka terusik. Ingat, gelar berderet tidak menjamin adab seseorang.
2. Bahaya Validasi "Senioritas" Membawa-bawa umur ("Saya ini orang tua") atau budaya ("Orang Bugis-Makassar") untuk membenarkan tindakan kasar adalah logical fallacy. Budaya Bugis-Makassar mengajarkan Sipakatau (saling memanusiakan), bukan saling meludahi. Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa dan bijak itu pilihan.
3. Jejak Digital itu Kejam Pak Dosen mungkin lupa kalau sekarang zaman CCTV dan citizen journalism. Satu detik kesalahan di ruang publik bisa viral dalam hitungan menit. Reputasi 33 tahun hancur bukan karena netizen jahat, tapi karena konsekuensi dari tindakan sendiri yang terekam jelas.
4. Pentingnya Kontrol Emosi Semarah apapun kita, melakukan kekerasan fisik atau verbal (apalagi meludahi, yang dianggap sangat merendahkan) adalah big no. Jika merasa pelayanan kurang baik, ada mekanisme komplain ke manajer, bukan main hakim sendiri.
Pesan untuk Mahasiswa
Untuk kita semua, para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu, jadikan ini pelajaran berharga. Setinggi apapun IPK-mu nanti, sehebat apapun kariermu nanti, tetaplah menjadi manusia yang memanusiakan manusia.
Jangan sampai ilmu yang kita pelajari puluhan tahun, hilang nilainya hanya karena kita gagal menahan ego selama satu detik.
Kepada korban N, semoga trauma akibat kejadian ini segera pulih. Dan untuk Pak AS, semoga ini menjadi momen kontemplasi (perenungan) di masa tua, bahwa hormat itu didapat dari perilaku, bukan dituntut dari usia.
Gimana pendapatmu, Sobat Zona?
Komentar
0

