Zona Mahasiswa - Pagi yang semula berjalan biasa mendadak berubah mencekam bagi 61 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.58 WITA, sebagian mahasiswa tengah menjalankan piket memasak ketika guncangan kuat terasa. Tidak lama kemudian, ancaman tsunami membuat mahasiswa dan warga harus meninggalkan kawasan pesisir menuju perbukitan.
Seluruh mahasiswa KKN UMY dilaporkan selamat. Setelah melewati proses evakuasi, mereka kemudian menyesuaikan program KKN menjadi kegiatan tanggap darurat untuk membantu masyarakat terdampak.
Terbagi dalam Dua Kelompok KKN
Sebanyak 61 mahasiswa tersebut terbagi dalam dua kelompok. Kelompok Gema Pelita Nusantara (GPN), yang beranggotakan 26 mahasiswa, bertugas di Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.
Sementara itu, kelompok Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) beranggotakan 35 mahasiswa dan ditempatkan di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur.
BMKG mencatat gempa utama terjadi pada pukul 04.58.24 WIB atau 05.58.24 WITA. Gempa berkekuatan M7,7 tersebut berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust itu memicu peringatan dini tsunami. Peringatan kemudian dinyatakan berakhir sekitar pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka air laut tidak lagi membahayakan.
Dalam pemutakhiran 19 Agustus 2026, BMKG menyatakan tsunami terdeteksi di 16 lokasi pada empat provinsi. Gelombang tertinggi tercatat sekitar 1,605 meter di Pota, Manggarai Timur.
Membantu Evakuasi Kelompok Rentan
Saat ancaman tsunami diketahui, kepala dusun mengarahkan warga dan mahasiswa untuk menuju perbukitan. Evakuasi dilakukan dengan memprioritaskan kelompok rentan menggunakan kendaraan bak terbuka.
Mahasiswa dan warga lainnya berjalan kaki menuju tempat yang lebih aman. Sejumlah nelayan juga membawa kapal mereka ke tengah laut.
UMY menyatakan seluruh mahasiswa berhasil mencapai area perbukitan dengan selamat. Mereka kemudian menempati tenda pengungsian bersama warga sambil menunggu perkembangan situasi dan arahan dari kampus.
Di tengah kondisi darurat, mahasiswa memberikan pertolongan pertama kepada warga yang terluka menggunakan perlengkapan P3K yang mereka bawa. Sejumlah warga dilaporkan mengalami luka setelah terjatuh atau terpeleset ketika berusaha menyelamatkan diri.
Mahasiswa juga menggunakan persediaan beras pribadi untuk membantu memenuhi kebutuhan makan warga pada masa awal pengungsian.
Program KKN Berubah Menjadi Tanggap Darurat
Setelah melakukan asesmen bersama dosen pembimbing lapangan dan pemerintah setempat, program kerja kedua kelompok KKN disesuaikan menjadi kegiatan tanggap darurat.
Mahasiswa membantu mengelola dapur umum, mendata lokasi pengungsian, memberikan pertolongan pertama, serta mengidentifikasi kebutuhan warga. Data tersebut diteruskan kepada Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) untuk mendukung koordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait.
Tim PENA di Kecamatan Sambi Rampas melaporkan bahwa gempa mengganggu aktivitas pasar, pusat perbelanjaan, dan layanan kesehatan. Warga di kawasan pesisir Pota dan sekitarnya juga mendirikan tenda pengungsian secara mandiri.
Berdasarkan laporan mahasiswa pada Minggu (16/8), kebutuhan mendesak warga meliputi bahan makanan, air minum, obat-obatan, perlengkapan medis, dan tempat tinggal sementara.
UMY Kirim Bantuan Bertahap
Wakil Rektor UMY Bidang Sumber Daya, Prof. Dr. Dyah Mutiarin, memastikan seluruh mahasiswa dalam kondisi aman dan terus dipantau oleh kampus.
UMY selanjutnya mengirimkan bantuan secara bertahap untuk mahasiswa dan masyarakat terdampak. Bantuan tersebut meliputi tenda terpal, selimut, paket perlengkapan keluarga, obat-obatan, vitamin, serta sembako.
Kampus juga membuka penggalangan dana melalui LazisMu UMY. Penyaluran bantuan dikoordinasikan bersama LazisMu Pusat, MDMC, dan jaringan Muhammadiyah di wilayah terdampak agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Data Dampak Terus Berubah
Data korban dan kerusakan akibat gempa masih terus diperbarui. BMKG pada 19 Agustus 2026 mencatat 69 orang meninggal dunia dan 331 orang mengalami luka-luka.
Pada waktu yang sama, BMKG telah merekam 2.768 gempa susulan sejak gempa utama. Sebanyak 81 gempa susulan di antaranya dirasakan masyarakat.
Karena proses pendataan masih berlangsung, angka korban, pengungsi, dan kerusakan dapat kembali berubah. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah serta menghindari bangunan yang telah retak atau mengalami kerusakan.
Baca juga: Viral! MWCNU Kasembon Larang Mahasiswa KKN UMM Ikut Kegiatan Keagamaan Warga NU
Komentar
0

