Berita

Sisi Gelap AI! Tinggal di Dekat Data Center Meta, Warga Keluhkan Masalah Air

Muhammad Fatich Nur Fadli 02 Oktober 2026 | 18:22:02

Zona Mahasiswa - Sobat Zona, di balik layanan digital yang kita gunakan setiap hari, mulai dari media sosial, penyimpanan awan hingga kecerdasan buatan (AI), terdapat infrastruktur fisik berukuran raksasa yang bekerja tanpa henti: data center.

Fasilitas tersebut menampung ribuan server yang membutuhkan listrik dan sistem pendinginan dalam jumlah besar. Di sejumlah wilayah, ekspansi data center kini memunculkan perdebatan karena kebutuhan energi dan airnya dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap lingkungan sekitar.

 

Baca juga: Bikin Ferry Irwandi Nggak Habis Pikir! Orang-orang Ini Malah Bikin Pameran Sawit di saat Karhutla Masih Parah "Nirempati"

Salah satu kasus yang menjadi sorotan terjadi di Newton County, Georgia, Amerika Serikat. Beverly dan Jeff Morris tinggal hanya beberapa ratus meter dari kompleks data center milik Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Pasangan tersebut mengaku mengalami masalah serius pada sumur pribadi mereka setelah pembangunan kompleks data center berlangsung. Air disebut berubah keruh karena sedimentasi, tekanan air menurun, hingga sejumlah peralatan rumah tangga tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Harus Bawa Air karena Sumur Bermasalah

Beverly Morris pensiun dan pindah ke kawasan pedesaan Georgia dengan harapan menikmati kehidupan yang lebih tenang.

Namun, setelah pembangunan data center Meta dimulai di kawasan tersebut pada 2018, keluarga Morris mengatakan kondisi air di rumah mereka perlahan berubah.

Menurut laporan The New York Times, beberapa bulan setelah konstruksi dimulai, mesin pencuci piring, pembuat es, mesin cuci hingga toilet di rumah keluarga Morris mulai mengalami gangguan. Tekanan air kemudian terus melemah. Mereka menduga penumpukan sedimen di dalam sistem sumur menjadi penyebabnya.

Laporan lain memperlihatkan Beverly menggunakan ember untuk membantu menyiram toilet karena tekanan air yang terlalu rendah. Keluarga tersebut juga mengaku khawatir menggunakan air sumur untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Masalah tersebut kini tidak hanya menjadi keluhan warga.

Pada akhir Agustus 2026, keluarga Morris bersama tiga keluarga lainnya mengajukan gugatan terhadap Meta dan otoritas pembangunan setempat. Mereka menuding aktivitas pembukaan lahan, peledakan, serta penggalian selama pembangunan kompleks data center mengganggu lapisan air bawah tanah dan menyebabkan lumpur serta sedimen masuk ke sumur milik warga.

Meta Bantah Data Centernya Merusak Air Tanah

Namun, tudingan warga tersebut masih diperdebatkan.

Meta menyatakan penelitian yang mereka lakukan menunjukkan aliran air tanah bergerak menjauhi properti para penggugat. Perusahaan juga menegaskan bahwa fasilitas Stanton Springs memperoleh seluruh kebutuhan airnya dari Newton County Water and Sewerage Authority, bukan dengan mengambil langsung air tanah dari sumur.

Meta menyebut fasilitas tersebut beroperasi dalam alokasi air yang telah disepakati dengan otoritas setempat dan membantah bahwa operasinya berdampak terhadap pasokan air tanah wilayah tersebut.

Artinya, hingga saat ini belum dapat disimpulkan bahwa data center Meta secara hukum terbukti menjadi penyebab masalah sumur warga. Klaim tersebut kini menjadi bagian dari sengketa yang masih berjalan.

Data Center Memang Butuh Air, tapi Tidak Semuanya Sama

Terlepas dari sengketa tersebut, penggunaan air oleh data center menjadi isu yang semakin mendapat perhatian seiring berkembangnya AI.

Server menghasilkan panas ketika melakukan pemrosesan data. Sebagian data center menggunakan sistem evaporative cooling, yaitu pendinginan dengan memanfaatkan penguapan air untuk membuang panas.

Namun, kebutuhan air setiap fasilitas tidak sama. Besarnya dipengaruhi jenis sistem pendinginan, lokasi, suhu lingkungan, desain data center hingga sumber energi yang digunakan.

Penelitian yang dilakukan Pengfei Li, Jianyi Yang, Mohammad A. Islam, dan Shaolei Ren memperkirakan permintaan AI secara global dapat menyebabkan pengambilan air atau water withdrawal sekitar 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik pada 2027. Angka tertingginya setara sekitar 1,7 triliun galon.

Namun, ada perbedaan penting antara water withdrawal dan water consumption.

Water withdrawal adalah seluruh air yang diambil dari sumber air untuk digunakan, termasuk air yang nantinya dapat dikembalikan. Sementara water consumption adalah bagian air yang benar-benar tidak segera kembali ke sumbernya, misalnya karena menguap.

Penelitian yang sama memperkirakan konsumsi air global terkait permintaan AI pada 2027 berada pada kisaran 0,38 hingga 0,60 miliar meter kubik, jauh lebih kecil dibanding angka total pengambilan air tersebut.

Benarkah Puluhan Prompt AI Menghabiskan Sebotol Air?

Ada pula angka yang sering beredar bahwa menggunakan ChatGPT selama beberapa puluh pertanyaan membutuhkan sekitar satu botol air.

Angka tersebut berasal dari penelitian yang memperkirakan penggunaan model GPT-3 pada kondisi tertentu. Para peneliti menghitung percakapan sekitar 20–50 pertanyaan dapat memiliki jejak air sekitar 500 mililiter, bergantung pada lokasi dan waktu pemrosesan.

Namun, angka tersebut tidak bisa diterapkan secara mutlak pada setiap prompt atau semua model AI saat ini.

Efisiensi perangkat keras, model AI, lokasi data center, sumber listrik, cuaca dan teknologi pendinginan dapat membuat penggunaan air berbeda secara signifikan.

Jadi, bukan berarti setiap 20 kali mahasiswa bertanya kepada AI otomatis membuat data center menghabiskan tepat satu botol air.

Bukan Cuma Meta, Data Center Mulai Ditolak Warga

Persoalan mengenai data center juga terjadi di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Laporan Data Center Watch mencatat proyek data center senilai sekitar US$64 miliar sempat diblokir atau mengalami penundaan dalam periode yang mereka teliti karena berbagai persoalan, termasuk penolakan masyarakat, perizinan, kebutuhan listrik, konsumsi air, kebisingan hingga persoalan penggunaan lahan.

Angka terbaru yang dilaporkan pada September 2026 bahkan menunjukkan sekitar 45 proyek bernilai US$68 miliar telah diblokir atau tertunda akibat meningkatnya penolakan lokal pada periode April hingga Juni 2026.

Di Georgia, kelompok lingkungan Flint Riverkeeper juga menyoroti limpasan air berlumpur dari pembangunan kompleks data center QTS di Fayette County.

Pada Mei 2026, kelompok tersebut mengirimkan pemberitahuan rencana gugatan terkait dugaan pembuangan air hujan yang mengandung sedimen dan polutan ke aliran air di kawasan Flint River Basin.

Perlu digarisbawahi, kasus QTS tersebut berbeda dengan sengketa warga dan Meta di Newton County.

Perusahaan Teknologi Mulai Mengejar Target Hemat Air

Tekanan terhadap penggunaan air membuat perusahaan teknologi mulai mengembangkan berbagai strategi efisiensi.

Amazon Web Services (AWS), misalnya, menargetkan status water positive pada 2030. Artinya, perusahaan menargetkan mengembalikan lebih banyak air kepada masyarakat dan lingkungan dibanding jumlah yang digunakan langsung dalam operasional data centernya.

Menurut AWS, strategi tersebut dilakukan melalui peningkatan efisiensi, penggunaan air daur ulang, pemanfaatan kembali air, serta proyek pengisian kembali sumber daya air.

AWS menyatakan pada 2025 mereka telah mencapai sekitar 75 persen dari target water positive 2030.

Teknologi pendinginan juga terus berkembang. Tidak semua data center harus bergantung pada pendinginan evaporatif dalam jumlah besar karena tersedia sistem pendinginan udara, closed-loop cooling, penggunaan air daur ulang, hingga teknologi pendinginan cair yang semakin dikembangkan.

AI Bukan Tidak Boleh Berkembang, tapi Dampaknya Perlu Dihitung

Sobat Zona, kasus keluarga Morris menunjukkan bahwa dunia digital ternyata memiliki jejak fisik yang sangat nyata.

Cloud bukan benar-benar “awan” yang mengambang tanpa membutuhkan sumber daya. Di balik satu layanan digital terdapat gedung, server, jaringan listrik, sistem pendinginan hingga kebutuhan air yang dapat bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Pada saat yang sama, persoalannya juga tidak sesederhana menyimpulkan bahwa semua data center pasti menguras atau mencemari air warga.

Dampaknya sangat bergantung pada lokasi, teknologi yang digunakan, sumber air, konstruksi, pengawasan lingkungan hingga transparansi perusahaan.

Karena itu, tantangan ke depan bukan menghentikan perkembangan AI, melainkan memastikan pertumbuhan infrastruktur digital tidak mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat di sekitarnya.

Menurut kalian, apakah perusahaan teknologi seharusnya diwajibkan membuka data penggunaan air dan energi setiap data center kepada masyarakat sekitar, Sobat Zona?

 

Baca juga: Mahasiswa PTN Asal Jakarta Ditemukan Meninggal di Kos, Sempat Meringis Kesakitan

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150