Berita

Karena Kesal Diberi Banyak Tugas, Sekelompok Mahasiswi Ini Diduga Lecehkan Dosennya Lewat Grup Chat

Muhammad Fatich Nur Fadli 05 November 2026 | 16:00:26

Zona Mahasiswa - Sobat Zona, sebuah tangkapan layar percakapan grup yang diduga beranggotakan sejumlah mahasiswi mendadak menjadi perbincangan di media sosial X setelah memperlihatkan komentar bernuansa seksual yang ditujukan kepada seorang dosen perempuan.

Percakapan tersebut diduga bermula dari kekesalan sejumlah mahasiswa terhadap tugas kuliah yang dianggap terlalu banyak dengan tenggat waktu pengerjaan yang singkat.

Namun, keluhan yang seharusnya berkaitan dengan kegiatan akademik itu justru diduga berkembang menjadi berbagai umpatan dan komentar vulgar yang menyerang dosen secara personal.

Baca juga: Keren! Tiga Mahasiswa ITB Kembangkan AI untuk Pilah Sampah, Jaga Kualitas Makanan, hingga Keselamatan Pekerja

Unggahan tersebut kemudian memicu perdebatan mengenai etika mahasiswa, batas kebebasan menyampaikan kritik, serta dugaan pelecehan seksual verbal di lingkungan perguruan tinggi.

Meski demikian, identitas orang-orang yang terlibat dan keaslian keseluruhan percakapan tersebut belum dapat dipastikan secara independen.

Awalnya Mengeluh Tugas Kuliah, Berujung Komentar Vulgar

Berdasarkan tangkapan layar yang beredar di media sosial X, sejumlah anggota grup diduga sedang membicarakan tugas kuliah yang diberikan oleh seorang dosen perempuan.

Mereka disebut merasa keberatan karena jumlah tugas yang harus dikerjakan cukup banyak, sementara waktu pengumpulannya dianggap terlalu singkat.

Namun, percakapan yang awalnya membahas beban akademik tersebut kemudian diduga berubah menjadi komentar bernada penghinaan.

Beberapa anggota grup disebut melontarkan umpatan dan kalimat bernuansa seksual yang ditujukan kepada dosen bersangkutan.

Komentar-komentar itu tidak lagi membahas metode mengajar, materi perkuliahan, maupun alasan pemberian tugas.

Sebaliknya, isi percakapan diduga mengarah pada serangan personal yang merendahkan martabat dosen.

Unggahan tersebut menjadi sorotan karena penggunaan bahasa seksual sebagai bentuk pelampiasan kekesalan dinilai telah melampaui batas kritik akademik yang wajar.

Tangkapan Layar Viral, Identitas Mahasiswi Belum Terverifikasi

Percakapan tersebut menjadi ramai setelah tangkapan layarnya tersebar di platform X.

Dalam perbincangan yang berkembang, sejumlah warganet ikut menyoroti penggunaan bahasa yang dianggap tidak pantas dalam lingkungan akademik.

Beberapa nama yang diduga merupakan anggota grup juga ikut disebut di media sosial.

Namun, belum terdapat bukti independen yang memastikan bahwa nama-nama tersebut benar-benar merupakan pihak yang menulis pesan dalam percakapan.

Unggahan awal yang memuat tangkapan layar tersebut juga dilaporkan sudah tidak tersedia.

Kondisi ini membuat sejumlah informasi penting belum dapat dipastikan, termasuk kapan percakapan berlangsung, siapa pengelola grup, serta apakah seluruh pesan yang beredar telah ditampilkan sesuai konteks aslinya.

Hingga kini, belum ditemukan konfirmasi resmi dari institusi pendidikan terkait yang memastikan kejadian tersebut maupun status para pihak yang diduga terlibat.

Karena itu, penyebaran identitas pribadi tanpa verifikasi berisiko menimbulkan tuduhan keliru terhadap orang yang tidak berkaitan dengan kasus tersebut.

Kritik terhadap Dosen Boleh, tetapi Bukan Berarti Bebas Melecehkan

Peristiwa ini turut memunculkan pertanyaan mengenai batas antara menyampaikan keluhan dan melakukan pelecehan verbal.

Dalam kegiatan perkuliahan, mahasiswa memiliki hak untuk mempertanyakan kebijakan akademik yang dianggap memberatkan.

Misalnya, ketika dosen memberikan tugas dengan tenggat waktu yang terlalu singkat atau jumlah pekerjaan yang sulit diselesaikan bersamaan dengan mata kuliah lainnya.

Mahasiswa dapat menyampaikan keberatan melalui diskusi dengan dosen, perwakilan kelas, ketua program studi, maupun mekanisme evaluasi pembelajaran yang tersedia di kampus.

Namun, ketidakpuasan terhadap tugas kuliah tidak membenarkan penggunaan komentar seksual atau penghinaan yang merendahkan seseorang.

Kritik akademik seharusnya berfokus pada persoalan yang ingin diperbaiki, bukan menyerang tubuh, identitas, atau martabat tenaga pendidik.

Begitu pula dosen perlu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan keluhan mengenai proses pembelajaran secara terbuka.

Pelecehan Verbal di Grup Chat Juga Bisa Menjadi Persoalan Serius

Perlu dipahami bahwa pelecehan tidak selalu terjadi melalui kontak fisik.

Komentar, lelucon, hingga pesan bernuansa seksual yang merendahkan seseorang juga dapat menjadi bagian dari bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan, bergantung pada isi dan konteks perbuatannya.

Hal tersebut turut diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Peraturan tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan, termasuk tindakan verbal dan perilaku bernuansa seksual dalam kondisi yang diatur oleh regulasi.

Artinya, sebuah percakapan dalam grup digital tidak selalu dapat dianggap sebagai candaan biasa apabila memuat unsur penghinaan atau pelecehan.

Namun, untuk memastikan apakah suatu perbuatan memenuhi kategori pelanggaran etik maupun kekerasan seksual, diperlukan pemeriksaan terhadap bukti, konteks percakapan, dan keterangan pihak yang terlibat.

Perguruan tinggi memiliki mekanisme penanganan melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK), yang dapat menerima dan menindaklanjuti laporan dugaan kekerasan.

Proses tersebut juga harus menjaga kerahasiaan dan hak pelapor, pihak terdampak, serta terlapor.

Kampus Perlu Jadi Ruang Aman bagi Mahasiswa dan Dosen

Sobat Zona, polemik percakapan ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi di lingkungan perguruan tinggi.

Hubungan mahasiswa dan dosen memang tidak selalu berjalan tanpa perbedaan pendapat.

Mahasiswa dapat merasa terbebani oleh tugas, sementara dosen memiliki tanggung jawab untuk memastikan tujuan pembelajaran tercapai.

Perbedaan tersebut seharusnya diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghormati.

Jika seorang mahasiswa merasa beban perkuliahan tidak proporsional, kritik dapat disampaikan dengan menjelaskan masalah secara konkret, misalnya jumlah tugas, tenggat waktu, atau kesulitan memahami instruksi.

Sebaliknya, jika muncul dugaan pelecehan atau penghinaan, pihak kampus perlu memeriksa persoalan tersebut secara objektif tanpa mengabaikan hak setiap pihak.

Dalam kasus tangkapan layar yang beredar ini, keaslian percakapan dan keterlibatan orang-orang yang disebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Namun, persoalan yang menjadi perdebatan tetap relevan bagi kehidupan kampus, yakni bagaimana menyampaikan ketidakpuasan tanpa merendahkan orang lain.

Menurut kalian, Sobat Zona, bagaimana seharusnya mahasiswa menyampaikan protes ketika merasa tugas yang diberikan dosen terlalu banyak dan memberatkan?

Baca juga: Keren! Aktif Jadi Wakil Ketua BEM UI dan Ikut Demo, Fathimah Azzahra Lulus Sidang Skripsi Kedokteran dalam 3 Tahun

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150