Berita

Jadi Sorotan! Perjuangan Mahasiswa Tahun Ini Diwarnai Para Perempuan Kuat

Muhammad Fatich Nur Fadli 31 Oktober 2026 | 17:25:59

Zona Mahasiswa - Sobat Zona, gelombang demonstrasi mahasiswa yang berlangsung pada akhir Oktober 2026 menghadirkan sejumlah sosok perempuan muda yang menarik perhatian publik melalui kepemimpinan dan keberanian mereka dalam menyampaikan aspirasi.

Tiga di antaranya adalah Fathimah Azzahra dari Universitas Indonesia (UI), Zahra Nazira Firman dari Universitas Trisakti, dan Naomi Artika Simamora dari Universitas Palangka Raya (UPR).

Ketiganya tampil dalam rangkaian demonstrasi pada 28–29 Oktober 2026, membawa berbagai persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian pemerintah, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meningkatnya biaya hidup, hingga perlindungan hak masyarakat.

Aksi mahasiswa tersebut bahkan mendapat perhatian media internasional, seperti Reuters, The Guardian, The Straits Times, dan Channel News Asia (CNA), yang memberitakan demonstrasi mengenai krisis lingkungan, kondisi ekonomi, serta kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Baca juga: Keren! Tiga Mahasiswa ITB Kembangkan AI untuk Pilah Sampah, Jaga Kualitas Makanan, hingga Keselamatan Pekerja

Di tengah besarnya perhatian terhadap demonstrasi tersebut, ketiga mahasiswi ini menjadi contoh keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan organisasi dan penyampaian aspirasi di ruang publik.

Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang Berorasi di Bundaran HI

Nama Fathimah Azzahra menjadi salah satu yang paling banyak diperbincangkan setelah tampil dalam demonstrasi bertajuk #IndonesiaSadar di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).

Mahasiswi Fakultas Kedokteran UI tersebut merupakan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) periode 2026.

Dalam aksi yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Fathimah ikut mengoordinasikan dan menyampaikan aspirasi mahasiswa mengenai berbagai persoalan nasional.

Menariknya, sebelum massa berhasil mencapai Bundaran HI, Fathimah mengaku sempat mengalami pengadangan oleh sejumlah orang berpakaian putih dan personel TNI.

Menurut keterangannya saat berorasi, ia diminta memperoleh izin dari pihak yang disebut sebagai pemilik wilayah sebelum memasuki kawasan Bundaran HI.

Pernyataan tersebut kemudian dipertanyakannya di hadapan massa karena menurut Fathimah, Bundaran HI merupakan ruang publik yang seharusnya dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara damai.

Meski sempat menghadapi hambatan, massa mahasiswa akhirnya berkumpul di kawasan Bundaran HI dan melanjutkan demonstrasi.

Fathimah juga mengingatkan pentingnya persatuan masyarakat dalam memperjuangkan hak dan masa depan generasi muda.

Sebelumnya, ia turut mengajak mahasiswa dari berbagai kampus dan masyarakat sipil untuk menghadiri demonstrasi tersebut.

Di luar aktivitas organisasinya, Fathimah baru saja menyelesaikan sidang skripsi Fakultas Kedokteran UI pada 16 Oktober 2026, setelah menjalani pendidikan sejak 2023.

Aktivitas akademik dan organisasinya membuat Fathimah menjadi salah satu figur mahasiswa yang mendapat perhatian publik sepanjang rangkaian aksi tersebut.

Zahra Nazira Firman, Pimpin Orasi hingga Sumpah Mahasiswa di Patung Kuda

Sosok berikutnya adalah Zahra Nazira Firman, Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Trisakti periode 2026–2027.

Zahra menjadi sorotan setelah tampil dalam demonstrasi mahasiswa di kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026).

Mengenakan almamater biru khas Universitas Trisakti, Zahra berdiri di atas mobil komando untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa.

Dalam aksi tersebut, ia turut memimpin pembacaan Sumpah Mahasiswa yang diikuti peserta demonstrasi.

Momen tersebut menarik perhatian karena berlangsung sehari setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Zahra bersama mahasiswa Trisakti membawa tiga tuntutan utama yang disebut sebagai Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat.

Tuntutan pertama berkaitan dengan pemulihan kondisi nasional, khususnya di bidang lingkungan, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Tuntutan kedua menyoroti praktik rangkap jabatan pejabat publik, sedangkan tuntutan ketiga berkaitan dengan penegakan supremasi sipil.

Menurut Zahra, persoalan-persoalan tersebut menyangkut hak dasar masyarakat yang harus menjadi perhatian pemerintah.

Selain aktif dalam demonstrasi, Zahra memiliki pengalaman organisasi sejak masih bersekolah.

Ia pernah menjadi ketua OSIS di tingkat SMP maupun SMA, kemudian melanjutkan aktivitas organisasinya setelah menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti.

Pada 2024–2025, Zahra terlibat dalam organisasi kemahasiswaan tingkat universitas dan kegiatan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum.

Pengalaman tersebut kemudian mengantarkannya menjadi Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Trisakti.

Kini, melalui perannya dalam demonstrasi, Zahra menjadi salah satu figur perempuan yang turut menyampaikan tuntutan mahasiswa mengenai berbagai persoalan publik.

Naomi Artika Simamora, Datang dari Kalimantan untuk Suarakan Persoalan Karhutla

Berbeda dari Fathimah dan Zahra yang berkuliah di kawasan Jabodetabek, Naomi Artika Simamora datang dari Kalimantan Tengah untuk menyampaikan aspirasi masyarakat daerahnya secara langsung di Jakarta.

Naomi merupakan Presiden BEM Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya (UPR).

Ia menjadi salah satu dari enam perwakilan mahasiswa Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang datang ke Jakarta untuk mengikuti demonstrasi pada Rabu (28/10/2026).

Kehadiran mereka bertujuan mendorong pemerintah pusat memberikan perhatian lebih serius terhadap kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan.

Menurut Naomi, masyarakat Kalimantan Tengah telah menghadapi dampak karhutla selama kurang lebih empat bulan.

Kabut asap dinilai telah mengganggu kesehatan, aktivitas pendidikan, dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sebelum bertolak ke Jakarta, Naomi dan mahasiswa lainnya juga telah terlibat dalam rangkaian demonstrasi Aliansi Kalimantan Tengah Melawan.

Aksi tersebut telah berlangsung hingga empat kali dengan membawa sembilan tuntutan kepada pemerintah daerah dan pusat.

Namun, menurut Naomi, tuntutan tersebut belum mendapatkan tindak lanjut sesuai harapan mereka.

Karena itulah, ia bersama sejumlah mahasiswa lainnya memutuskan membawa aspirasi masyarakat Kalimantan langsung ke Jakarta.

Perjalanan mereka juga tidak mudah. Rombongan dilaporkan harus berangkat melalui Banjarmasin karena operasional Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya terdampak kabut asap.

Dalam keterangannya, Naomi menyampaikan kekhawatiran terhadap meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap.

Ia juga mempertanyakan penanganan karhutla yang menurutnya belum memberikan perlindungan memadai bagi masyarakat terdampak.

Naomi dan rombongan mendesak pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional agar penanganannya mendapat perhatian dan dukungan yang lebih besar.

Aksi Mahasiswa Indonesia Sampai Diberitakan Media Internasional

Rangkaian demonstrasi mahasiswa pada 28 Oktober 2026 tidak hanya menjadi perbincangan di dalam negeri.

Sejumlah media internasional turut memberitakan aksi yang berlangsung di Jakarta dan beberapa kota lainnya.

Reuters menyoroti demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil yang mengkritik penanganan karhutla serta sejumlah kebijakan pemerintah.

Sementara itu, The Straits Times memberitakan aksi di Bundaran HI yang diikuti ribuan peserta dengan tuntutan terkait kabut asap, kenaikan biaya hidup, dan dugaan korupsi pejabat publik.

Channel News Asia (CNA) juga menyoroti aksi mahasiswa yang menuntut perbaikan penanganan kebakaran hutan dan kondisi ekonomi masyarakat.

Adapun The Guardian membahas bagaimana krisis kabut asap dan tekanan ekonomi menjadi latar belakang meluasnya ketidakpuasan yang disampaikan melalui demonstrasi.

Liputan media internasional tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dibawa mahasiswa, khususnya krisis lingkungan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, turut menjadi perhatian di luar Indonesia.

Namun, pemberitaan internasional tersebut terutama membahas demonstrasi dan tuntutannya secara keseluruhan, bukan secara khusus menyoroti ketiga mahasiswi tersebut.

Pemerintah Nyatakan Menghormati Aspirasi Mahasiswa

Menanggapi demonstrasi pada 28 Oktober 2026, pemerintah melalui Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Syahganda Nainggolan, menyampaikan bahwa pemerintah menghormati aspirasi mahasiswa sebagai bagian dari kebebasan berpendapat.

Pemerintah menyatakan kritik dan pengawasan publik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi serta dapat menjadi masukan bagi evaluasi kebijakan.

Terkait penanganan karhutla, pemerintah menyebut telah mengerahkan lebih dari 72 ribu personel gabungan di enam provinsi, termasuk untuk operasi pemadaman darat, udara, patroli, dan modifikasi cuaca.

Pemerintah juga menyampaikan telah melakukan proses penegakan hukum terhadap individu maupun korporasi yang diduga bertanggung jawab atas kebakaran.

Sementara itu, mahasiswa tetap meminta adanya penyelesaian yang lebih menyeluruh terhadap persoalan lingkungan dan berbagai masalah yang menjadi tuntutan demonstrasi.

Perbedaan pandangan tersebut menjadi bagian dari dinamika penyampaian aspirasi dan respons pemerintah yang masih terus berkembang.

Kepemimpinan Perempuan Turut Mewarnai Gerakan Mahasiswa

Sobat Zona, kehadiran Fathimah Azzahra, Zahra Nazira Firman, dan Naomi Artika Simamora memperlihatkan bahwa perempuan memiliki peran nyata dalam organisasi dan gerakan mahasiswa.

Ketiganya datang dari latar belakang kampus serta membawa perhatian yang berbeda.

Fathimah terlibat dalam koordinasi aksi dan penyampaian tuntutan mahasiswa di Bundaran HI.

Zahra memimpin orasi dan pembacaan Sumpah Mahasiswa sambil menyampaikan tuntutan mengenai berbagai persoalan nasional.

Sementara itu, Naomi membawa aspirasi masyarakat Kalimantan yang terdampak karhutla ke tingkat nasional.

Peran mereka juga menjadi pengingat bahwa kepemimpinan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbicara di hadapan massa, tetapi juga oleh pengalaman berorganisasi, kemampuan menyampaikan persoalan masyarakat, dan tanggung jawab dalam memperjuangkan aspirasi secara damai.

Di tengah perhatian publik terhadap berbagai demonstrasi sepanjang Oktober 2026, ketiga mahasiswi tersebut menjadi bagian dari semakin terlihatnya keterlibatan perempuan dalam ruang diskusi dan gerakan sosial mahasiswa.

Menurut kalian, Sobat Zona, bagaimana peran kepemimpinan perempuan seperti Fathimah, Zahra, dan Naomi dapat mendorong semakin banyak mahasiswi untuk aktif dalam organisasi dan persoalan publik?

Baca juga: Keren! Aktif Jadi Wakil Ketua BEM UI dan Ikut Demo, Fathimah Azzahra Lulus Sidang Skripsi Kedokteran dalam 3 Tahun

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150