Berita

Aduhh Blunder! Akun yang Diduga Buzzer AI Ini Kehabisan Token, Ketahuan Lewat Pesan Error

Muhammad Fatich Nur Fadli 23 Oktober 2026 | 16:22:29

Zona Mahasiswa - Sobat Zona, sebuah akun Threads yang dikenal aktif memberikan dukungan terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendadak menjadi perbincangan setelah mengunggah pesan kesalahan sistem kecerdasan buatan (AI).

Akun bernama @ibuasihlaundry tersebut sebelumnya kerap membagikan cerita keseharian sebagai seorang ibu pemilik usaha laundry sambil menyampaikan pandangan positif terhadap berbagai program pemerintah.

Namun, kecurigaan warganet muncul ketika akun tersebut tiba-tiba mengunggah pesan berbahasa Inggris yang menyebut saldo kredit untuk menggunakan layanan AI tidak mencukupi.

Tak hanya itu, akun tersebut juga sempat memberikan jawaban yang mengaku sebagai model AI ketika ditanya pengguna lain.

 

Baca juga: Bikin Ferry Irwandi Nggak Habis Pikir! Orang-orang Ini Malah Bikin Pameran Sawit di saat Karhutla Masih Parah "Nirempati"

Kejadian ini kemudian memunculkan dugaan bahwa akun yang selama ini terlihat seperti pengguna biasa tersebut sebenarnya menggunakan teknologi AI untuk membuat konten dan merespons komentar di media sosial.

Awalnya Sering Puji Prabowo Lewat Cerita Sehari-hari

Sebelum menjadi sorotan, akun Threads @ibuasihlaundry dikenal melalui unggahan yang banyak membicarakan Presiden Prabowo dan berbagai kebijakan pemerintah.

Menariknya, konten tersebut tidak selalu disampaikan seperti komentar politik pada umumnya.

Akun itu kerap mengemas pandangannya melalui cerita kehidupan sehari-hari, mulai dari pengalaman mengelola usaha laundry, pelanggan yang datang, anak yang sedang kuliah, hingga tetangga yang berjualan sayur.

Dalam sejumlah unggahan, akun tersebut turut memberikan apresiasi terhadap sikap Prabowo saat melakukan kunjungan luar negeri.

Selain itu, akun @ibuasihlaundry juga diketahui aktif membicarakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Gaya komunikasinya yang menyerupai percakapan seorang ibu rumah tangga membuat akun tersebut terlihat seperti pengguna media sosial biasa yang sedang menyampaikan pendapat pribadi.

Namun, sebagian warganet mulai mempertanyakan pola aktivitasnya setelah melihat respons yang dianggap terlalu cepat dan penggunaan bahasa yang dinilai menyerupai teks buatan AI.

Mendadak Unggah Pesan Error dari Layanan AI

Kecurigaan tersebut semakin ramai ketika akun @ibuasihlaundry mengunggah sebuah pesan kesalahan sistem.

Dalam tangkapan layar yang beredar, terdapat pemberitahuan berbahasa Inggris:

"Your credit balance is too low to access the Anthropic API. Please go to Plans & Billing to upgrade or purchase credits."

Jika diterjemahkan, pesan tersebut menjelaskan bahwa saldo kredit tidak mencukupi untuk mengakses layanan AI milik Anthropic sehingga pengguna perlu menambah kredit atau memperbarui pengaturan pembayarannya.

Anthropic merupakan perusahaan pengembang model AI Claude.

Pesan semacam ini biasanya muncul ketika sebuah aplikasi atau program menggunakan layanan AI melalui Application Programming Interface (API), yaitu sistem penghubung yang memungkinkan aplikasi lain mengakses kemampuan model AI.

Ketika kredit penggunaan tidak mencukupi, permintaan kepada layanan tersebut dapat gagal diproses.

Kemunculan pesan error di akun @ibuasihlaundry inilah yang membuat sebagian warganet menduga bahwa terdapat sistem AI di balik aktivitas akun tersebut.

Namun, belum diketahui apakah pesan tersebut berasal dari sistem yang benar-benar digunakan untuk mengelola akun, disalin dari aplikasi lain, atau muncul karena alasan berbeda.

Ditanya Apakah Dirinya AI, Jawabannya Bikin Netizen Curiga

Polemik semakin berkembang ketika sejumlah pengguna Threads mencoba menguji akun tersebut dengan mengajukan pertanyaan mengenai identitasnya.

Salah seorang pengguna menanyakan apakah @ibuasihlaundry merupakan model bahasa besar atau Large Language Model (LLM), yakni teknologi AI yang mampu memahami dan menghasilkan teks menyerupai bahasa manusia.

Dalam tangkapan layar yang diberitakan Katadata pada Kamis (22/10/2026), akun tersebut justru memberikan jawaban yang menyebut dirinya sebagai model AI yang ramah.

Menariknya, jawaban itu tetap disertai pernyataan dukungan terhadap Presiden Prabowo dan program MBG.

Ketika pengguna lain menanyakan jenis model AI yang digunakan, akun tersebut menjawab bahwa dirinya adalah Muse Spark, salah satu model AI yang dikembangkan Meta.

Jawaban tersebut semakin mengundang perhatian karena pesan error sebelumnya justru menyebut layanan Anthropic API.

Meski demikian, pengakuan sebuah akun sebagai AI tidak otomatis dapat dijadikan bukti teknis mengenai sistem yang sebenarnya digunakan.

Model AI dapat memberikan jawaban yang tidak akurat, termasuk ketika ditanya mengenai identitas atau teknologi yang menjalankannya.

Karena itu, informasi tersebut tetap memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Pakar Jelaskan AI Bisa Dibuat Menyerupai Ibu Rumah Tangga

Menanggapi fenomena tersebut, Spesialis Keamanan Teknologi dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa perkembangan AI memungkinkan sebuah akun media sosial memiliki identitas dan karakter yang dirancang menyerupai manusia.

Menurutnya, pengembang dapat memberikan instruksi kepada AI untuk menggunakan identitas tertentu, seperti ibu rumah tangga, pemilik usaha, atau tokoh dengan latar belakang pekerjaan khusus.

Bahkan, sistem AI dapat diarahkan menggunakan gaya bahasa tertentu hingga sesekali melakukan kesalahan pengetikan agar komunikasinya terlihat lebih alami.

Alfons menjelaskan bahwa pengembang juga bisa menentukan sudut pandang yang digunakan AI ketika membicarakan isu tertentu.

Misalnya, sebuah sistem dapat diarahkan untuk membuat konten yang mendukung atau mengkritik suatu kebijakan.

Pengoperasian akun semacam ini dapat menggunakan layanan API, perangkat otomatisasi, maupun program yang dibuat khusus.

Dengan teknologi tersebut, AI dapat membantu membaca percakapan, menyusun balasan, dan menghasilkan unggahan tanpa seluruh proses harus dikerjakan secara manual.

Apakah Akun Tersebut Benar-benar Bot atau Buzzer?

Meski berbagai indikasi memunculkan kecurigaan, terdapat perbedaan penting antara akun yang menggunakan AI dan akun buzzer.

Penggunaan AI untuk membantu membuat konten tidak otomatis membuktikan adanya aktivitas buzzer berbayar.

Begitu pula penggunaan sistem otomatis tidak langsung berarti sebuah akun dikendalikan oleh kelompok politik tertentu.

Direktur Eksekutif Information and Communication Technology Institute, Heru Sutadi, menjelaskan bahwa pengelolaan akun berbasis AI memiliki berbagai bentuk.

Sebagian akun dapat dijalankan menggunakan otomatisasi, sementara akun lainnya menggabungkan bantuan AI dengan pengelolaan manusia.

Teknologi tersebut bisa digunakan untuk membantu membuat konten, meningkatkan interaksi, maupun menjalankan kegiatan pemasaran.

Namun, sistem yang sama juga berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan spam, menyamarkan identitas, dan memanipulasi percakapan publik.

Dalam kasus @ibuasihlaundry, belum terdapat bukti independen yang memastikan siapa pengelola sebenarnya, bagaimana sistem tersebut digunakan, maupun apakah terdapat pihak yang memberikan bayaran.

Tidak ada pula bukti terverifikasi yang menghubungkan operasional akun tersebut dengan pemerintah, partai politik, ataupun tim kampanye tertentu.

Karena itu, tudingan bahwa akun tersebut merupakan buzzer pemerintah masih belum dapat dipastikan.

Akun AI Bisa Memengaruhi Percakapan di Media Sosial

Kasus ini juga memperlihatkan perkembangan teknologi AI yang semakin mampu menghasilkan percakapan menyerupai komunikasi manusia.

Jika sebelumnya bot media sosial identik dengan balasan yang kaku dan berulang, teknologi AI generatif kini memungkinkan akun merespons pertanyaan dengan gaya bahasa yang jauh lebih alami.

Hal ini membuat pengguna media sosial semakin sulit membedakan konten yang ditulis sepenuhnya oleh manusia, dibantu AI, atau dihasilkan melalui sistem otomatis.

Persoalannya menjadi lebih sensitif ketika teknologi tersebut digunakan untuk membicarakan kebijakan publik maupun isu politik.

Akun yang terlihat seperti warga biasa dapat memberikan kesan adanya dukungan atau penolakan spontan terhadap suatu kebijakan, meskipun identitas dan cara pengelolaannya belum tentu diketahui publik.

Karena itu, transparansi mengenai penggunaan AI menjadi penting, terutama ketika sebuah akun secara aktif berusaha memengaruhi percakapan masyarakat.

Netizen Perlu Lebih Kritis terhadap Konten AI

Sobat Zona, viralnya akun @ibuasihlaundry menjadi pengingat bahwa perkembangan AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan belajar, tetapi juga memengaruhi cara informasi diproduksi serta disebarkan di media sosial.

Sebuah akun yang terlihat memiliki kehidupan sehari-hari, pekerjaan, hingga pengalaman pribadi belum tentu sepenuhnya mencerminkan identitas pengelolanya.

Meski demikian, pengguna media sosial juga tidak seharusnya langsung menuduh suatu akun sebagai bot atau buzzer hanya karena gaya bahasanya dianggap menyerupai AI.

Diperlukan pemeriksaan terhadap pola aktivitas, keaslian unggahan, serta bukti teknis sebelum menarik kesimpulan.

Dalam kasus ini, pesan error dan jawaban akun yang mengaku sebagai AI memang memunculkan pertanyaan mengenai sistem yang digunakan.

Namun, siapa pihak yang mengoperasikan akun tersebut dan apakah aktivitasnya merupakan bagian dari jaringan buzzer masih belum terjawab.

Menurut kalian, Sobat Zona, apakah akun media sosial yang menggunakan AI untuk membuat unggahan dan komentar seharusnya wajib mencantumkan keterangan bahwa kontennya dibantu kecerdasan buatan?

 

Baca juga: Mahasiswa PTN Asal Jakarta Ditemukan Meninggal di Kos, Sempat Meringis Kesakitan

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150