Berita

Darurat Mental di Kota Pendidikan! Akademisi Bongkar Fakta: Kenapa Mahasiswa di Malang Rentan Bunuh Diri?

Muhammad Fatich Nur Fadli 28 Maret 2026 | 17:35:48

Zona MahasiswaSobat Zona, status Malang sebagai salah satu "Kota Pendidikan" terbesar di Indonesia kini sedang diselimuti awan gelap. Berita duka mengenai mahasiswa yang nekat mengakhiri hidupnya kembali terdengar, dan kali ini terasa semakin mengkhawatirkan.

Terbaru, pada Rabu (25/3/2026) dini hari, seorang mahasiswa ditemukan tak bernyawa setelah diduga menjatuhkan diri dari lantai 11 Apartemen Soekarno Hatta (Soehat). Tragedi demi tragedi ini memunculkan satu pertanyaan besar: Ada apa dengan kesehatan mental mahasiswa kita?

Selama ini, masyarakat sering dengan mudah menyimpulkan bahwa "skripsi" atau "tugas akhir" adalah biang kerok utamanya. Namun, Dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Fuji Puji Astutik, membongkar fakta yang jauh lebih dalam dan kompleks. Mari kita bedah akar masalahnya.

Baca juga: Modus Bimbingan Skripsi di Kamar Hotel, Dosen UHN Pematangsiantar Resmi Dipecat Tidak Hormat!

Bukan Sekadar Skripsi: Luka Lama & Coping Mechanism yang Rapuh

Menurut Fuji, menuduh tekanan akademik (seperti skripsi) sebagai penyebab tunggal bunuh diri adalah cara pandang yang terlalu dangkal. Skripsi hanyalah pemantik di permukaan, sedangkan bom waktunya sudah tertanam sejak lama.

Faktor pemicu sesungguhnya sering kali bermula dari:

  • Luka Masa Kecil (Inner Child): Pengalaman traumatis atau pola asuh yang salah di masa lalu.
  • Trauma Perundungan (Bullying): Dampak psikologis akibat kekerasan verbal/fisik yang belum sembuh.
  • Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT): Lingkungan keluarga yang seharusnya menjadi support system justru menjadi sumber stres.

Lebih lanjut, Fuji menyoroti ketidaksiapan mental mahasiswa zaman sekarang. Banyak dari mereka yang tidak dibekali keterampilan untuk menyelesaikan masalah (problem solving). Saat masalah datang bertubi-tubi, mereka merasa memikul beban itu sendirian.

"Belum lagi perbedaan cara pandang antar generasi; jika dulu mahasiswa dapat nilai C mungkin hanya merasa perlu mengulang, sekarang bagi Gen Z, mendapatkan nilai B saja sudah dianggap sebagai kegagalan besar karena standar sosial yang terlalu tinggi," ungkap Fuji, Kamis (26/3/2026).

Data yang Bikin Merinding: Lebih dari 50% Punya Ide Bunuh Diri

Kondisi ini bukan sekadar opini, melainkan dibuktikan lewat riset. Fuji pernah melakukan studi dengan mengambil sampel 300 hingga 400 mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS) di Malang.

Hasilnya? Sangat mengkhawatirkan. Mayoritas (di atas 50 persen) mahasiswa berada di kategori sedang hingga tinggi dalam hal kecenderungan memiliki ide bunuh diri.

"Dengan case seperti itu, saya rasa situasinya sudah tidak bagus," tegasnya.

Salah satu katalisator utamanya adalah Media Sosial. Kita hidup di era di mana semua orang berlomba memamerkan kehidupan "sempurna" di Instagram atau TikTok. Hal ini menciptakan ruang kompetisi tidak sehat. Mahasiswa merasa dituntut untuk selalu tampil sempurna dan merasa tidak punya ruang aman untuk sekadar mengakui bahwa mereka sedang gagal atau lelah.

Solusi Nyata: Pagar Jembatan Saja Tidak Cukup!

Merespons krisis ini, Fuji memberikan rekomendasi tajam yang harus segera dieksekusi oleh pihak kampus dan pemerintah:

1. Untuk Kampus: Wajib Screening Mental Mahasiswa Baru Kampus tidak boleh cuma peduli pada IPK atau tes TOEFL. Screening kondisi psikologis mahasiswa baru jauh lebih mendesak. Dengan data ini, kampus bisa merancang program pendampingan (konseling) yang tepat sasaran, bukan sekadar menuntut mahasiswanya cepat lulus.

2. Untuk Pemerintah (Pemkot Malang): Subsidi Layanan Psikolog Memasang pagar besi yang tinggi di jembatan memang bagus untuk pencegahan fisik, tapi itu tidak menyentuh akar masalah. Pemkot Malang disarankan membuat Peraturan Daerah (Perda) yang menjamin akses layanan psikolog gratis atau sangat terjangkau. Ingat, biaya konsultasi profesional saat ini masih terlalu mahal untuk kantong mahasiswa kos-kosan.

3. Untuk Kita Semua: Empati Tanpa Menghakimi Sering kali, orang yang paling rentan depresi justru terlihat paling ceria di tongkrongan. Mereka yang sering jadi pendengar curhat orang lain, kadang justru merasa paling kesepian karena tidak ada yang benar-benar memahami mereka. Jadilah teman yang peka dan mendengarkan tanpa menghakimi.

PERINGATAN PENTING / TRIGGER WARNING: Artikel ini memuat pembahasan mengenai depresi dan bunuh diri. Informasi ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun. Jika kamu atau orang terdekatmu merasakan gejala depresi, kelelahan mental yang ekstrem, atau memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup, tolong jangan menyerah. Segera hubungi psikolog, psikiater, layanan kesehatan mental di kampus, atau hubungi layanan darurat kesehatan mental (seperti Call Center 119 ekstensi 8). Kamu sangat berharga.

Baca juga: Kisah Siswi SMP di NTT Diperkosa & Dibunuh Kakak Kelas, Ayah-Kakek Pelaku Malah Kompak Buang Jasad Korban!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150