Zona Mahasiswa - Sobat Zona, katanya kampus itu mimbar bebas tempat para intelektual berdiskusi secara kritis. Tapi nyatanya, kebebasan akademik kita lagi-lagi diobok-obok. Baru-baru ini, acara nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul "Pesta Babi" dibubarkan paksa di sejumlah kampus.
Alasan pihak birokrasi kampus membubarkan acara ini klasik banget: "demi menjaga kondusivitas". Memangnya, apa sih isi film dokumenter ini sampai bikin para petinggi kampus dan aparat merasa gerah? Yuk, kita bedah fakta-faktanya secara lugas dan rasional!
Baca juga: Mengaku! Dosen UIN Walisongo Kirim Chat Vulgar ke Mahasiswi, Sanksi Tertunda: Alasan Sedang 'Cuti'
Bukan Film Biasa: Apa Itu "Pesta Babi"?
Buat kalian yang belum tahu, "Pesta Babi" adalah sebuah film dokumenter investigatif garapan sutradara kawakan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale.
Meski judulnya terkesan provokatif, maknanya ternyata sangat dalam dan kultural. Nama ini diambil dari Awon Atatbon, sebuah tradisi ritual adat besar masyarakat suku Muyu di Papua. Dalam tradisi masyarakat adat Papua, babi bukan sekadar hewan ternak peliharaan, melainkan simbol kuat dari relasi sosial, adat, dan penghormatan kepada leluhur yang sangat bergantung pada kelestarian alam.
Film ini berfokus pada penderitaan masyarakat adat di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi (Papua Selatan). Lewat lensa kamera, Dandhy dan Cypri membongkar bagaimana Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa pembukaan lahan pangan dan industri bioenergi skala besar perlahan-lahan merampas hutan adat mereka.
Hilangnya hutan bukan cuma soal pohon yang ditebang, tapi juga ancaman nyata terhadap identitas budaya, sumber pangan, dan masa depan warga lokal.
Kenapa Sampai Bikin Gerah dan Dilabeli 'Kontroversial'?
Sebuah karya jurnalistik/dokumenter biasanya dibungkam ketika ia berhasil menyentuh borok atau kebenaran yang coba disembunyikan. Film ini memicu pro-kontra karena dengan berani menyoroti tiga isu super sensitif:
- Mengkritik Proyek Strategis Nasional (PSN): Film ini secara blak-blakan mempertanyakan dampak buruk pembangunan ambisius pemerintah pusat terhadap hak hidup masyarakat adat Papua Selatan.
- Isu Kolonialisme Modern: Muncul narasi yang kuat tentang eksploitasi sumber daya alam Papua yang dipandang layaknya gaya penjajahan bentuk baru.
- Keterlibatan Aparat Keamanan: Film ini menampilkan fakta pengamanan proyek-proyek tersebut oleh aparat militer, yang membuat sebagian pihak menganggap film ini bermuatan "politis" dan "provokatif".
Daftar Kampus yang 'Alergi' Diskusi Kritis
Gelombang pembungkaman ini tidak hanya terjadi di satu tempat. Beberapa kampus yang santer diberitakan melakukan penghentian paksa agenda nobar film ini antara lain:
- Universitas Mataram (Unram): Kasus paling viral. Pada 7 Mei 2026, nobar dibubarkan oleh pihak rektorat dan petugas keamanan. Wakil Rektor III, Sujita, mengaku tindakan ini dilakukan atas instruksi Rektor Unram, Sukardi, demi menghindari "ketersinggungan".
- UIN Mataram: Laporan menyebut pemutaran film baru berjalan beberapa menit sebelum akhirnya dihentikan paksa.
- Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA): Turut mendapat tekanan terhadap agenda pemutaran film.
- Ternate & Yogyakarta: Muncul juga laporan pembatalan dan tekanan terhadap agenda pemutaran di dua wilayah ini.
Matinya Kebebasan Akademik
Sobat Zona, tindakan pembubaran oleh pihak rektorat dengan alasan "menjaga kondusivitas" adalah sebuah ironi yang sangat menyedihkan bagi dunia pendidikan tinggi kita.
Kampus seharusnya menjadi ruang paling aman untuk membedah masalah bangsa melalui diskusi ilmiah, pemutaran film dokumenter, dan debat gagasan. Jika sebuah karya jurnalistik atau dokumenter dilarang tayang di kampus hanya karena ia mengkritik kebijakan pemerintah atau dianggap "sensitif", lalu di mana lagi mahasiswa bisa belajar berpikir kritis?
Kejadian ini bukan sekadar penolakan terhadap sebuah film, melainkan alarm bahaya bagi kebebasan berekspresi mahasiswa. Mari kita dukung terus ruang-ruang diskusi kritis, karena suara masyarakat adat Papua yang terpinggirkan berhak untuk didengar oleh seluruh anak bangsa.
Baca juga: Terjerat Pinjol, Seorang Guru Gadaikan Laptop Murid, Kakaknya Ngamuk karena Ada File Skripsinya
Komentar
0

