Zona Mahasiswa - Sobat Zona, rasanya kita tidak akan pernah berhenti marah kalau membahas kelakuan oknum tenaga pendidik yang menyalahgunakan kekuasaannya. Kali ini, kabar buruk datang dari Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Makassar.
Seorang oknum dosen berinisial IS diduga kuat melakukan pelecehan seksual terhadap tiga orang mahasiswinya. Modusnya sungguh klasik dan sangat manipulatif: menawarkan perbaikan nilai.
Beruntung, para korban berani speak up dan melaporkan kejadian ini ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PNUP. Yuk, kita bedah kronologi dan siasat licik oknum dosen ini.
Siasat Licik: Pisah Ruangan Ujian agar Target Sendirian
Presiden BEM PNUP, Hendra Saputra, membeberkan bagaimana dosen IS merencanakan aksi bejatnya dengan sangat rapi. Awalnya, ada dua mahasiswi yang hendak melakukan perbaikan nilai dengan jadwal yang berbeda (pukul 08.00 dan 10.00).
Baca juga: Istri Curiga, Dosen UIN Jambi Digrebek di Kos Bareng Mahasiswi
Karena rekam jejak dosen IS yang "miring" ini ternyata sudah menjadi rahasia umum di kampus, kedua mahasiswi ini berinisiatif janjian datang bersamaan agar tidak ada yang sendirian di ruangan.
Namun, siasat mereka dipatahkan oleh pelaku. Dosen IS dengan sengaja memisahkan mereka ke ruangan yang berbeda.
"Tapi pasnya datang, malahan proses ujiannya itu dipisah ruangannya. Jadi kayak di ruangan A dan ruangan B yang notabenenya kalaupun memang dibilang supaya tidak saling baku contek," terang Hendra, Kamis (7/5/2026).
Pemaksaan Fisik: Korban Ditarik dan Ditatap Tidak Pantas
Selama ujian berlangsung, dosen IS diduga hanya berdiam di ruangan korban (yang perempuan) untuk mengawasi. Di situlah aksi pelecehan fisik terjadi.
Meski korban tidak akrab dengan pelaku dan sudah berusaha menolak, dosen IS tetap memaksa. Ia melakukan kontak fisik yang sangat tidak bisa ditoleransi.
"Dia pitting begitu, dia tarik supaya dekat dia dari pernyataan korban. Sementara korban dan pelaku tidak akrab, korban sudah menolak tapi tetap dipaksa," tegas Hendra.
Tidak berhenti sampai di situ, mahasiswi lain yang turut melapor ke BEM juga membongkar modus serupa. Dosen IS merangkul, menarik, memegang kepala, hingga menatap area tubuh korban dengan pandangan tidak pantas.
Rahasia Umum Sejak Angkatan 2021
Yang paling membuat miris dari kasus ini adalah fakta bahwa kelakuan minus dosen IS ini sudah menjadi rahasia umum di jurusannya!
Hendra menyebutkan bahwa saksi dari angkatan 2021—yang saat ini rata-rata sudah lulus—mengonfirmasi bahwa tindakan pelecehan ini sudah terjadi sejak lama. Selama bertahun-tahun, banyak korban yang memilih bungkam karena takut nilai atau masa depan akademiknya terancam. Keberanian tiga mahasiswi ini untuk mendobrak rantai ketakutan tersebut sangat patut diacungi jempol.
Kampus Bertindak: Pelaku Resmi Dinonaktifkan Sementara
Laporan yang masuk ke BEM langsung diteruskan secara resmi ke Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) PNUP pada Senin, 13 April 2026. Ketiga korban juga telah dihadirkan untuk proses wawancara investigasi.
Hasil sementaranya cukup melegakan: Dosen IS telah dinonaktifkan per tanggal 20 April 2026.
"Dinonaktifkan sampai ada tindakan, putusan direktur selanjutnya," ungkap Hendra.
Sementara itu, Ketua Satgas PPKS PNUP Makassar, Andi Musdariah, masih belum memberikan keterangan rinci dan mengarahkan awak media ke pihak humas kampus.
Baca juga: Mengaku! Dosen UIN Walisongo Kirim Chat Vulgar ke Mahasiswi, Sanksi Tertunda: Alasan Sedang 'Cuti'
Komentar
0

