Cerbung

Teror Hantu Kadaver di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB)

Nisrina Salsabila 25 Desember 2021 | 19:32:46

zonamahasiswa.id - Halo, Sobat Zona. Apa kabar hari ini? Semoga sehat selalu ya. Sans balik lagi nih dengan kisah horor yang bikin kalian penasaran. Nah, kali ini Sans bakal bawa kalian ke Universitas Brawijaya (UB).

Perguruan tinggi negeri ini merupakan salah satu kampus terfavorit yang berada di Kota Malang. Kampus ini juga memiliki berbagai kisah dinamika perkuliahan yang sangat menarik. Apalagi tentang cerita-cerita horor hantu kadaver yang tersebar di kalangan mahasiswa, tentunya sangat perlu dikulik lebih dalam.

Nah, biar Sobat Zona nggak penasaran dengan cerita teror hantu kadaver di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB). Yuk, Sans bakal mulai nih ceritanya. Tapi, sebelum itu nyalakan mode horornya dan jangan lupa matikan lampu supaya lebih seru! Selamat membaca.

Hari yang ditakuti setiap mahasiswa Fakultas Kedokteran telah tiba. Caca dan teman-temannya mulai nggak tenang. Mereka berkumpul di gazebo, menceritakan pengalaman kelam kating saat praktikum kadaver atau bedah anatomi.

Santer terdengar cerita salah satu dosen yang memberikan amanat jika ia meninggal maka tubuhnya boleh dipakai sebagai bahan praktikum. Semenjak itu, cerita tentang hantu kadaver menyebar dari mulut ke mulut sampai saat ini.

Sejak semalam, grup kelas sudah ramai membicarakan berbagai pengalaman nggak mengenakkan itu. Tapi diantara mereka, cuma Caca yang merasa gusar dan sangat kesal saat temannya menceritakan itu.

Sebab dari semalam Caca nggak bisa tidur karena memikirkan praktikum hari ini. Belum lagi perutnya yang mulai campur aduk nggak karuan.

Caca menghela napas panjang, lalu berkata "Tenang caa tenang cuma praktikum doang," batinnya.

Caca melihat temannya yang nggak kalah takutnya sama seperti dirinya. Wajah mereka pucat hampir seperti mayat hidup.

"Woy, sarapan nih gue bawain gorengan," ujar Raka yang baru saja bergabung duduk di sana.

"Gila lo masih sempet sarapan," ucap Caca.

"Ya buat jaga-jaga biar nggak pingsan pas ketemu kadaver," canda Raka.

"Gue aja udah mual sekarang," balas Caca.

"Sama Ca gue juga, berasa pengen pulang ae," tambah Via.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, Caca bergegas menuju kelas yang berjarak lumayan dekat dengan tempat praktikum. Anak yg lain pun mulai berdatangan, bergerombol di depan ruangan. Sayup terdengar suara perut Caca yang mulai lapar, namun dia enggan menggubrisnya.

Praktikum kali ini, mereka akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok akan mendapat kadaver berbeda-beda. Caca sekelompok dengan Raka, Via, dan dua temannya yang lain.

Nggak lama kemudian, dosen pun datang dan masuk menuju kelas. Beliau mengumumkan ruangan praktikum yang akan dipakai setiap kelompok. Caca dan teman-temannya menempati ruangan praktikum nomor 3. Angka ganjil yang biasanya dikaitkan dengan cerita mistis. Sial bukan?

Saat menuju kelas, mereka hanya diam menerawang pintu praktikum di ujung sana. Tepat di depan pintu, tercium aroma busuk bercampur formalin yang telah menyebar. Mereka berlima saling melihat satu sama lain.

"Buset nggak enak banget baunya, pengen muntah anj*r," ucap Raka.

"Masuk. Jangan berisik," ujar dosen dengan muka datarnya itu.

Caca sudah berdiri tepat di depan kadaver. Sementara dosennya sudah menjelaskan panjang lebar mengenai asal usul kadaver.

Ternyata kadaver dalam praktikum ini adalah mayat seorang lelaki tanpa identitas. Ya katanya sih, mayat ini ditemukan hanyut di sungai. Mungkin bisa saja mayat itu telah tenggelam berminggu-minggu.

Perlahan Caca mulai mengamati mayat yang terbujur kaku di depannya. Sesekali ia menutup matanya yang enggan melihat tubuh mayat yang telah membengkak itu. Bahkan Caca juga sempat menutup hidungnya, tapi ditegur oleh dosennya.

"Caca nggak usah tutup mata sama hidung, kamu harus berani," kata dosen.

Caca hanya mengangguk mengiyakan kata dosennya itu. Aroma bau busuk bercampur formalin yang pekat makin mengocok perut Caca hingga rasanya mau muntah.

Sejenak memberanikan diri, Caca bersama Raka langsung melakukan pembedahan. Tapi tangan mereka bergetar hebat saat pisau bedah mulai mengarah ke mayat itu. Perlahan, pisau tersebut telah menyentuh kulit kadaver yang terasa sangat lembek. Bahkan sedikit goresan telah tersayat dengan mudah.

SREET

Bunyi halus sayatan yang diikuti air berwarna hitam keruh keluar dari bekas sayatan. Sontak Caca dan Raka mundur agak menjauh. Bau busuknya mulai menyebar kembali.

HUUWEEKK

Suara Via yang tak tahan dengan bau busuk dari kadaver. Mendengar suara mual Via, dosen pun langsung menegur dirinya.

"Kamu ini mahasiswa kedokteran, harus terbiasa sama hal-hal kayak gini," ucapnya.

Sepintas, pikiran Caca melayang entah ke mana. Dia membayangkan praktikum pertama saja sudah begini, apalagi satu semester kedepan.

Disisi lain, sarung tangan Raka sudah berubah menghitam karena air yang keluar dari tubuh kadaver. Tanpa rasa ragu, Raka lancar menyanyat bagian tubuh kadaver itu.

Sementara Via dan dua temannya masih bergelut dengan rasa mual akibat bau busuk. Lebih dua jam lamanya, dosen mulai menyudahi praktikum kali ini.

"Praktikum kali ini saya kira sudah cukup, kalian hanya perlu terbiasa melihatladaver. Terutama baunya, mengerti?" Kata dosen.

"Mengerti pak," sahut Raka diikuti teman-temannya.

Satu per satu, mereka merapikan barang yang digunakan dan mencuci tangan. Rasanya bau busuk itu masih mengikuti indera penciuman Caca. Perutnya pun sedari tadi memaksa pingin memutahkan semua isinya.

"Eh gue belum selesai nih tungguin," kata Raka

"Lo masih ngapain? Dosen bilang udah selesai dari tadi," balas Caca.

"Ini nanggung banget dah tinggal dikit, nyanyat doang mah," tambah Raka.

"Gue mau cabut lah, nggak tahan," seru Via.

Via dan dua temannya itu bergegas keluar dari ruangan praktikum. Sementara Caca masih menunggu Raka yang asyik menyanyat bagia tubuh kadaver.

"Ka udah sih, cabut yuk. Nggak enak di sini," ujar Caca.

"Bentar elah," jawab Raka.

Hanya tersisa dua orang dalam ruang praktikum itu. Rasa mual Caca berubah jadi rasa takut seketika. Udara dingin dan sunyi menyergap seluruh ruangan itu.

"Ka udah belum?" tanya Caca.

"Bawel banget lo Ca, bentar lagi kelar sabar napa," ujar Raka.

Mendengar Caca yang makin berisik dan raut wajahnya yang makin pucat ketakutan, membuat Raka menghentikan sayatannya. Raka pun segera mengemasi barang-barangnya.

Caca celingukan mengintip bekas sayatan di tubuh kadaver. Sesekali dia memicingkan mata dan menutup hidungnya. Lagi-lagi Caca nggak tahan dengan bau busuk itu.

"Ca yuk cabut, udah nih gue," teriak Raka.

Caca langsung berjalan menuju pintu ruangan.

CEKLEK

"Loh Ka kok nggak bisa pintunya?" tanya Caca

"Jangan becanda napa Ca, sini gue aja," ucap Raka sembari menggenggam gagang pintu.

CEKLEK CEKLEK

"Ca pintunya macet nih, keknya kita bakal kekunci di sini," tambahnya.

"Hah?! Nggak mau gue di sini sama kadaver," balas Caca.

"Lo kira gue mau?" kata Raka.

Raka masih berusaha membuka pintu ruangan itu, sementara Caca teriak minta tolong.

"TOLLOOOOONGGG BUKAAIN, ADA ORANG NGGAAK??" teriak Caca.

Usaha mereka nihil, di sekitar ruangan tersebut nggak ada orang sama sekali. Caca makin panik, begitu juga Raka yang malah ingat cerita dosen sebelum masuk praktikum tadi.

Perlahan Raka menoleh, matanya melirik kadaver. Ternyata masih berada di tempat, nggak hidup seperti yang ada di pikirannya. Dia sedikit lega, tapi sekarang malah Caca yang over thinking.

"Ka inget nggak, tadi anak-anak cerita dosen yang jadi kadaver kok malah kepikiran ya. Jangan bilang yang cerita hantu kadaver tuh bener ka. Sumpah sih pengen pulang nj*r," ucapnya dengan nada sedikit ketakutan.

"Yaelah cerita doang Ca, nggak bakal kejadian juga," tegas Raka.

Mendengar hal tersebut, Caca sedikit lega ya meskipun masih ketakutan karena terkunci di ruangan praktikum yang ada mayatnya.

Raka masih saja berusaha membuka pintu ruangan dengan sekuat tenaga. Mereka juga bergantian membuka pintu itu, tapi tetap nihil.

TOOLLLLONGG.. TOLLOONGGGG!!!

Tap.. Tap.. Tap..

Terdengar suara langkah kaki seakan mendekat ke arah ruangan praktikum.

"Sssstt.. Ca coba denger ada yang jalan ke sini," ucap Raka dengan pelan.

"Eh i-iiyaa. Tolongg bukain siapa aja yang di depan tolong dong!!!" teriak Caca.

Sunyi, suara langkah kaki itu menghilang sekejap. Wajah Caca makin panik, dia mengira itu pasti hantu yang sengaja mempermainkan mereka.

"Ka ii-ituu kayaknya bukan orang deh, suaranya ngilang," ucap Caca dengan gemetar.

Raut wajah Raka panik, tapi dia berusaha tetap tenang memikirkan cara keluar dari ruangan nomor 3 itu. Dia kembali memegang gagang pintu, tiba-tiba...

KREKK

Pintu ruangan yang nggak bisa dibuka itu, tiba-tiba terbuka lebar. Raka dan Caca melihat ke arah pintu, kemudian muncul seorang lelaki berumur memakai kemeja rapi persis seperti dosen.

"Kalian ngapain masih di sini?" tanya pria itu dengan suara sedikit berat.

"Eh, itu pak tadi lagi praktikum tapi kita pulangnya nggak bareng sama yang lain terus kekunci di sini," terang Caca sedikit gugup.

"Oh, kalian lagi praktikum," kata pria berkemeja biru dengan mengangguk.

Raka mengamati pria yang sedikit pucat itu, tapi dia dan Caca buru-buru keluar dari ruang praktikum. Anehnya, saat berpamitan pria itu hanya diam tanpa mengucap sepatah kata.

"Pak, bapak masih mau di sini? Kita mau pulang dulu," ucap Raka.

Pria jangkung itu hanya mengangguk tersenyum ke arah mereka berdua. Caca yang merasa nggak ada apa-apa langsung gas jalan menuju pintu keluar.

Sementara Raka masih mengamati pria itu dari kejauhan, dilihatnya ia sedikit membuka mulut seakan-akan seperti berbicara. Raka mengira, pria itu berbicara dengannya lantas dia berlari kembali menuju depan ruangan praktikum.

"Kenapa pak?" tanya Raka dengan napas memburu.

"Lain kali, kalau udah selesai praktikum cepet pulang," katanya.

"Oh iiiyaa pak maaf," ucap Raka yang langsung menjauh dari pria itu dan dibalas lambaian tangan.

"Kaaa lo ngapain ke sana lagi hah? Cari mati apa gimana?" Teriak Caca.

"Iyee ini gue jalan," balasnya.

Raka dan Caca berhasil keluar dari ruang praktikum dengan selamat. Sementara, Via dan teman-temannya sudah menunggu di gazebo yang sama.

"Lo tadi balik ke ruangan itu ngomong sama siapa Ka?" tanya Caca.

"Ya sama bapak itulah Ca, siapa lagi," ucap Raka.

"Ka jangan kaget ya," tambahnya.

"Apaan sih Caa," ujar Raka dengan wajah kusut.

"Pas kita di bukain, bapak itu langsung cabut. Inget nggak pas lo pamitan itu bapaknya langsung cabut gitu aja. Gue liat lo ngomong sendiri Ka di depan situ," kata Caca.

Deg.

"See-seriuus lo Ca!" teriak Raka dengan raut wajah pucat.

Caca mengangguk mengiyakan ucapan Raka. Temannya itu hanya diam membisu, keringatnya mencucur dengan deras. Sejenak suasana jadi merinding, mereka mempercepat langkah menuju gazebo.

Sesampainya di sana, Caca dan Raka menceritakan hal tersebut pada Via. Lantas dia menanggapinya dengan serius.

"Eh ciri-ciri bapaknya gimana?" tanya Via.

"Tinggi, kulitnya sawo matang, pakai kemeja kayak dosen gitu deh," kata Caca.

"Orangnya ini bukan?" Via menyodorkan sebuah foto yang bertuliskan 'Turut Berduka Cita'.

Sontak mereka diam melihat satu sama lain dengan kebingungan. Caca dan Raka menghela napas dalam-dalam, menalar semua kejadian yang baru saja terjadi pada mereka. Ternyata pria yang menolongnya adalah seorang dosen yang telah meninggal dua tahun lalu dan kemudian tubuhnya digunakan sebagai bahan praktikum.

Via yang merinding mendengar cerita itu, lantas memutuskan untuk pulang. Disusul dengan temannya yang lain, termasuk Raka dan Caca. Namun Raka masih nggak habis pikir dengan kejadian itu, bahkan terngiang-ngiang sampai dia tiba di kos.

Meskipun pikirannya melayang, Raka berusaha melupakan teror dosen kadaver yang ditemuinya. Bahkan dia masih merasa ngeri saat melewati ruang praktikum.

Dari Raka, cerita mengenai hantu dosen kadaver makin menyebar luas di kalangan mahasiswa kedokteran. Nggak sedikit pula mahasiswa yang merasakan hal yang sama seperti Raka.

Teror Hantu Kadaver di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB)

Hmm, Sans bingung nih apakah kisah ini nyata atau fiktif belaka? Bagaimana menurut Sobat Zona, pernahkah mengalami kejadian yang sama seperti Raka dan Caca? Yuk, sharing sama Sans tentang berbagai cerita horor lainnya yang mungkin ada di kampus kalian. Boleh nih tulis di kolom komentar ya. Sampai jumpa.

Baca Juga: Misteri Hantu Gentayangan di GKB Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150