Berita

Tega! Dituduh Jual 'Es Spons', Bapak Penjual Es Gabus Ini Dianiaya & Dagangan Dihancurkan Oknum Aparat

Muhammad Fatich Nur Fadli 27 Januari 2026 | 17:03:22

Zona MahasiswaSobat Zona, hati siapa yang nggak hancur baca berita ini? Di saat kita sibuk nge-scroll TikTok cari hiburan, ada seorang bapak pejuang nafkah yang harus menanggung sakit fisik dan trauma mental gara-gara ulah "pahlawan kesiangan" yang sok tahu.

Suderajat (49), seorang pedagang keliling Es Gabus (jajanan legendaris SD), menjadi korban penganiayaan dan fitnah keji di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia dituduh menjual es berbahan Spons (Busa Cuci Piring) oleh sekelompok orang.

Tanpa ba-bi-bu, dagangannya diremas, dihancurkan, bahkan dilempar ke wajahnya hingga terluka. Videonya viral, narasi jahat tersebar. Namun, plot twist-nya: Polisi menyatakan dagangan Pak Suderajat AMAN dan LAYAK KONSUMSI.

Baca juga: Viral! 2 Pria Nekat Masturbasi di TransJakarta Rute 1A, Korban Kira Tetesan Air AC Ternyata...

Ini bukan lagi soal food safety, tapi soal kemanusiaan yang mati demi konten viral. Yuk, kita bedah kronologi lengkap dan fakta medisnya!

Niat Cari Nafkah, Malah Dapat Musibah

Kejadian memilukan ini terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul 10.00 WIB. Pak Suderajat yang setiap hari berangkat dari Depok jam 5 pagi, sedang menjajakan es gabusnya di sekitar sekolah dasar di Kemayoran.

Tiba-tiba, ia didatangi sekelompok orang (salah satunya bernama Heri dan Ikhwan yang viral di video). Bukannya membeli, mereka menuduh tekstur es gabus Pak Suderajat itu palsu dan terbuat dari spons.

Aksi Main Hakim Sendiri: Situasi memanas. Penjelasan Pak Suderajat tidak didengar.

"Iya, (es gabus) diremas-remas jadi hancur. Dibejek-bejek, ini dekat mata saya jadi sakit karena disabet kena timpukan es sama dia," cerita Suderajat dengan suara bergetar, Selasa (27/1/2026).

Tak cukup menghancurkan dagangan, Pak Suderajat mengaku ditendang hingga lemas. Pipinya tergores, bahunya nyeri. Ia pulang dengan tangan hampa, tanpa uang ganti rugi sepeser pun, padahal modal dagangannya sekitar Rp 300.000 hancur sia-sia.

Viral Demi Konten? "Sok Detektif" Tanpa Bukti

Kasus ini meledak karena video interogasi jalanan yang dilakukan oleh Ikhwan dan Heri tersebar di medsos. Dalam video itu, mereka bertindak seolah-olah petugas BPOM atau polisi.

"Nah sekarang ada pelaku yang menyamarkan nih... Karena tadi kami coba kok rasanya beda, bukan kue. Ternyata nih bahannya dari spons," tuduh Ikhwan dalam video itu dengan sangat yakin.

Heri bahkan membentak Pak Suderajat dengan nada tinggi: "Ya kamu gimana, ini kalau dimakan sama anak-anak kecil ini bikin penyakit!"

Padahal, Sobat Zona, Es Gabus (atau Es Kue/Es Roti) itu bahan dasarnya adalah Tepung Hunkwe. Karakteristik tepung hunkwe kalau dimasak dan dibekukan memang kenyal dan berongga seperti gabus/spons. Itulah kenapa namanya ES GABUS!

Ketidaktahuan (atau kebodohan?) para penuduh ini yang akhirnya menghancurkan mata pencaharian orang kecil.

Polisi Turun Tangan: Hasil Lab Bikin Penuduh Kicep!

Menerima laporan warga bernama M. Arief Fadillah via call center 110, Tim Reskrim Polsek Kemayoran dan Tim Dokpol Polda Metro Jaya langsung bergerak cepat.

Mereka tidak asal tuduh. Mereka membawa sampel dagangan Pak Suderajat ke laboratorium. Hasilnya? NEGATIVE. Tidak ada bahan berbahaya.

"Tim Dokkes telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hasilnya jelas: Produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak mengandung zat berbahaya," tegas Roby, perwakilan kepolisian.

Es itu murni makanan. Bukan spons cuci piring, bukan busa kasur (Polyurethane Foam). Polisi bahkan menelusuri pabrik rumahannya di Depok dan tidak menemukan indikasi kecurangan produksi.

Trauma Mendalam: 3 Hari Tidak Berani Jualan

Dampak dari fitnah keji ini sangat nyata bagi Pak Suderajat. Sudah tiga hari ia tidak berjualan. Padahal, keuntungan bersihnya cuma sekitar Rp 200.000 per hari (itu pun kalau habis).

"Takutnya saya dikeroyokin pas ke Kemayoran," akunya lirih.

Bayangkan, bapak ini bangun jam 4 pagi, naik kereta dari Depok ke Kemayoran, jalan kaki keliling kampung, cuma buat kasih makan anak istri. Tapi usahanya dimatikan oleh orang-orang yang merasa dirinya pahlawan kesehatan tapi nol literasi.

Bahaya "Vigilante" Medsos

Sobat Zona, kasus ini harus jadi pelajaran keras buat kita semua.

  1. Main Hakim Sendiri itu Kriminal: Menghancurkan barang orang lain dan menganiaya (meskipun niatnya "melindungi anak-anak") tetaplah tindak pidana. Pelaku bisa dijerat pasal penganiayaan dan pengerusakan.
  2. Sok Tahu Berujung Fitnah: Jangan asal viralin orang kalau nggak punya bukti ilmiah. Lidah kita bukan alat lab. "Rasanya kayak spons" bukan bukti hukum.
  3. Literasi Kuliner: Pahami dulu jenis makanannya. Es Gabus emang teksturnya begitu, Woy! Kalau teksturnya keras namanya Es Batu.

Justice for Pak Suderajat!

Kami dari Zona Mahasiswa berdiri bersama Pak Suderajat.

  • Untuk Kepolisian: Mohon proses hukum para pelaku penganiayaan dan pengerusakan. Jangan biarkan "materai 10 ribu" menyelesaikan masalah kekerasan fisik dan kerugian materiil orang kecil.
  • Untuk Netizen: Mari kita bantu pulihkan nama baik Pak Suderajat. Es Gabus itu aman, enak, dan legendaris.
  • Untuk Pelaku: Minta maaflah secara terbuka dan ganti rugi dagangan serta biaya pengobatan bapaknya. Kalian berutang rasa malu seumur hidup.

Yuk, Sobat Zona, kalau ketemu pedagang kecil, kalau nggak mau beli seenggaknya jangan dzalim. Hati-hati jarimu, bisa mematikan rezeki orang!

Baca juga: Dokter PPDS Unsri Diperas Senior Buat Clubbing & Skincare, Korban Depresi Sampai Mau Akhiri Hidup!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150