Zona Mahasiswa - Sobat Zona, kampus yang seharusnya jadi tempat adu gagasan intelektual, malah berubah jadi arena penyiksaan brutal ala mafia. Sebuah tragedi mengerikan menimpa AAAP alias Endo (19), mahasiswa baru (angkatan 2024) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip).
Hanya bermodal tuduhan sepihak tanpa bukti yang jelas, Endo dikeroyok dan disiksa oleh sekitar 30 teman sekampusnya secara membabi buta dari malam hingga waktu subuh!
Akibatnya? Endo mengalami cacat fisik, trauma berat, dan impiannya untuk mendaftar menjadi anggota Polri terancam pupus. Yang bikin dada makin sesak, ayah Endo yang hanya seorang penjual nasi goreng kini kebingungan mencari biaya operasi. Mari kita bedah kasus "main hakim sendiri" yang kelewat batas kemanusiaan ini!
Baca juga: Guru Besar UIN Palopo Diduga Cabuli Mahasiswi Saat Pingsan, Kampus Gercep Nonaktifkan!
Malam Horor di Tembalang: Disudut Rokok hingga Ditusuk Jarum!
Kejadian horor ini sebenarnya terjadi pada Sabtu malam, 15 November 2025 hingga Minggu subuh (16/11/2025). Menurut penuturan ayah korban, Bagus (50), anaknya awalnya dipancing untuk datang ke sebuah kos di daerah Bulusan, Tembalang, Semarang.
Sesampainya di sana, Endo dikepung. Bukan diajak mediasi atau dialog, ia langsung dihakimi oleh puluhan mahasiswa yang beringas. Siksaannya bukan sekadar pukulan biasa, tapi sudah masuk kategori sadis:
- Dipukul menggunakan sabuk.
- Disudut (disundut) rokok yang menyala.
- Ditusuk menggunakan jarum.
- Rambut digunduli paksa dan alisnya dipotong tak beraturan.
- Wajahnya diludahi secara bergantian.
Bayangkan, Sobat Zona, satu orang dikeroyok 30 orang di ruang tertutup selama berjam-jam. Ini bukan tindakan mahasiswa terdidik, ini tindakan kriminal murni!
Cacat Fisik, Trauma, & Kendala Biaya Operasi
Akibat penyiksaan brutal itu, kondisi fisik Endo hancur. Ia mengalami gegar otak, patah tulang hidung, dan gangguan saraf mata (tidak bisa terkena cahaya).
Hingga Maret 2026 ini, Endo masih merasakan sakit dan hidungnya seperti terus-menerus pilek akibat tulang yang patah. Ia sempat dirawat di RS Banyumanik, lalu pindah ke RS Bina Kasih Ambarawa.
"Sebetulnya dirujuk lagi ke RS Ken Saras untuk operasi hidung, tapi karena ketiadaan biaya, belum bisa dilaksanakan," ungkap Bagus dengan nada sedih, Kamis (5/3/2026).
Tak hanya fisik, mental Endo hancur lebur. Ia trauma berat dan takut kembali ke kampus karena para pelaku yang menyiksanya masih bebas berkeliaran menghirup udara segar. Harapan Bagus agar anaknya lulus sarjana dan tidak hidup susah seperti dirinya yang hanya penjual nasi goreng, kini berada di ujung tanduk.
Motif 'Main Hakim Sendiri': Tuduhan Pelecehan Seksual
Lalu, apa yang memicu puluhan mahasiswa ini berubah jadi monster? Usut punya usut, pengeroyokan ini berawal dari dugaan pelecehan seksual yang dituduhkan kepada Endo.
Endo sendiri dengan tegas menyangkal tuduhan tersebut karena tidak ada bukti. Namun, massa yang sudah tersulut emosi tidak peduli dan langsung mengambil peran sebagai "hakim dan algojo".
Sobat Zona, mari kita bersikap kritis dan objektif: Kekerasan seksual BUKAN hal yang bisa ditoleransi. Jika memang ada dugaan pelecehan, langkah yang benar adalah melaporkannya ke Satgas PPKS (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) kampus atau ke Kepolisian. Membalas dugaan pelecehan dengan penyiksaan dan pengeroyokan sadis adalah TINDAK PIDANA BARU yang sama sekali tidak dibenarkan oleh hukum mana pun!
Komentar
0

