Tips

S3 BUKAN SEKADAR "KULIAH" Itu proyek hidup yang salah masuk dikit, bisa nyeret lo bertahun-tahun.

Muhammad Fatich Nur Fadli 26 Januari 2026 | 16:31:34

Zona Mahasiswa"Ah, lanjut S3 aja deh, mumpung belum nikah" atau "Lanjut S3 biar kelihatan pinter dan keren." Kalau motivasi kamu cuma itu, STOP SEKARANG JUGA. Putar balik.

Banyak orang mengira S3 (Doktoral) itu cuma "S1 versi lebih susah dikit". Padahal, S3 adalah permainan yang benar-benar berbeda. S1 dan S2 adalah tentang mengkonsumsi ilmu, sedangkan S3 adalah tentang menciptakan ilmu (kebaruan/novelty).

Ini bukan lagi soal duduk di kelas dengerin dosen. Ini adalah proyek mandiri yang sepi, panjang, dan penuh ketidakpastian. Salah pilih Promotor, salah pilih topik, atau salah atur mental, kamu bisa terjebak di lembah "Mahasiswa Abadi" selama 5, 7, atau bahkan 10 tahun.

Baca juga: Viral! 2 Pria Nekat Masturbasi di TransJakarta Rute 1A, Korban Kira Tetesan Air AC Ternyata...

Biar kamu nggak cuma masuk kandang macan tanpa senjata, pahami dulu 4 kebenaran brutal tentang S3 ini!

1. Promotor Adalah "Langit dan Bumi" Kamu

Di S3, nasibmu tidak ditentukan oleh kepintaranmu semata, tapi oleh kecocokanmu dengan Promotor.

  • Realita: Promotor bukan sekadar pembimbing, mereka adalah "Bos" di proyek risetmu. Kalau komunikasimu macet, atau style kerja kalian bentrok (misal: Kamu butuh arahan detail, Promotormu tipe "terserah kamu"), skripsimu bakal stuck bertahun-tahun.
  • Tips Survival: Sebelum daftar kampus, wajib "kepo" calon Promotor. Baca publikasinya, tanya mahasiswa bimbingannya yang sekarang: "Beliau kalau bimbingan susah nggak? Suka ganti-ganti arahan nggak?" Jangan beli kucing dalam karung!

2. Disertasi yang Bagus adalah Disertasi yang SELESAI

Penyakit utama mahasiswa S3 adalah Perfeksionisme Akut. Ingin menyelamatkan dunia, ingin mengubah paradigma ilmu pengetahuan, ingin teorinya dipakai PBB.

  • Realita: Ambisi yang terlalu besar bikin kamu nggak mulai-mulai nulis karena merasa datanya "belum cukup bagus". Ingat, S3 itu latihan meneliti, bukan riset untuk memenangkan Nobel (belum saatnya).
  • Tips Survival: Turunkan ekspektasi. Cari topik yang manageable, datanya bisa diambil, dan metodenya jelas. "A good dissertation is a done dissertation." Lulus dulu, baru bikin karya masterpiece kemudian.

3. S3 Itu Ujian Ketahanan Mental (Lonely Journey)

S1 kamu punya teman sekelas yang solid. S2 kamu punya teman diskusi. S3? Kamu sendirian.

  • Realita: Teman seangkatanmu punya topik beda-beda. Teman mainmu di luar sana sudah sibuk meniti karir atau mengurus anak. Kamu? Masih berkutat dengan paper yang ditolak jurnal Q1 dan revisi yang nggak habis-habis. Rasa sepi (loneliness) dan Imposter Syndrome (merasa bodoh/nggak pantas) adalah makanan sehari-hari.
  • Tips Survival: Cari komunitas atau support group sesama pejuang S3. Jangan mengurung diri di kamar kost. Mental yang sehat lebih penting daripada data yang cepat.

4. Ini Masalah Logistik & Finansial

S3 itu maraton, bukan lari sprint.

  • Realita: Kalau beasiswa cuma cukup buat 3-4 tahun, tapi risetmu molor sampai tahun ke-6, siapa yang bayar? Banyak yang dropout (DO) bukan karena nggak pintar, tapi karena kehabisan bensin (uang) dan harus bekerja, sehingga disertasi terbengkalai.
  • Tips Survival: Pastikan financial planning-mu aman sampai skenario terburuk (misal: molor 1-2 tahun). Jangan mengandalkan "nanti gampang".

Jangan Masuk Kalau Belum Tahu "Why"-nya

S3 itu investasi waktu (usia produktif) dan biaya yang sangat mahal.

  • Jika tujuanmu jadi Akademisi/Peneliti, S3 adalah jalan wajib yang mulia. Go for it!
  • Jika tujuanmu cuma "bingung mau ngapain", lebih baik kerja dulu. Pengalaman kerja seringkali memberikan perspektif riset yang lebih matang saat kamu S3 nanti.

Ingat: Gelar Doktor itu berat, biar Dilan... eh, biar mereka yang punya tekad baja saja yang menanggungnya.

Baca juga: Dokter PPDS Unsri Diperas Senior Buat Clubbing & Skincare, Korban Depresi Sampai Mau Akhiri Hidup!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150