Berita

Oknum Dosen ITH Parepare Diduga Jadi 'Predator': Chat M3svm Beredar, Sering Ajak Mahasiswi untuk Ketemuan di Luar Konteks Akademik

Muhammad Fatich Nur Fadli 26 Januari 2026 | 16:42:50

Zona MahasiswaSobat Zona, dunia kampus kita sepertinya belum bisa bernapas lega dari wabah predator seksual. Belum kering ingatan kita tentang kasus-kasus dosen cabul di pulau Jawa, kini kabar tak sedap datang dari tanah Sulawesi, tepatnya dari kampus bergengsi yang menyandang nama Bapak Teknologi Indonesia, Institut Teknologi BJ Habibie (ITH) Parepare.

Jagat media sosial (Medsos) kembali dihebohkan dengan beredarnya tangkapan layar percakapan dan foto seorang oknum dosen berinisial RR. Dalam narasi yang viral, dosen ini diduga kuat melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya.

Bukan cuma soal chat genit, isu ini makin liar karena menyeret masalah pribadi sang dosen yang disebut-sebut sudah beristri namun menelantarkan anak, sambil sibuk "tebar pesona" ke mahasiswi.

Baca juga: Viral! 2 Pria Nekat Masturbasi di TransJakarta Rute 1A, Korban Kira Tetesan Air AC Ternyata...

Rektorat sudah angkat bicara, tapi jawabannya standar: "Belum ada laporan resmi." Waduh, apakah harus nunggu viral dulu baru gerak? Yuk, kita bedah kronologi dan respon kampus terkait skandal yang mencoreng marwah pendidikan ini!

Kronologi: Spill di Medsos Bikin Geger

Kasus ini meledak ketika akun-akun anonim dan base mahasiswa mulai membagikan bukti-bukti digital kelakuan oknum dosen RR.

Dari unggahan yang dilihat tim Zona Mahasiswa, modusnya terbilang klasik tapi menjijikkan. Oknum dosen tersebut diduga memanfaatkan Relasi Kuasa (posisinya sebagai pengajar) untuk mendekati mahasiswi.

Apa saja yang tersebar?

  1. Chat Mengarah Seksual: Beredar screenshot percakapan yang diduga antara RR dan mahasiswi. Isinya bukan bimbingan skripsi, melainkan ajakan jalan hingga rayuan yang menjurus ke pelecehan verbal.
  2. Narasi Kehidupan Pribadi: Netizen membongkar "aib" lain. Dosen ini dinarasikan sudah memiliki istri dan dua anak, namun diduga menelantarkan keluarganya demi mengejar "daun muda" di kampus.
  3. Video Ajakan: Ada pula penggalan video yang menarasikan bahwa oknum dosen tersebut aktif mengajak mahasiswi untuk ketemuan di luar konteks akademik.

Bukti-bukti digital ini memicu kemarahan netizen. Bagaimana bisa seorang pendidik yang harusnya jadi teladan, malah diduga menjadi "buaya" di kandangnya sendiri?

Konfirmasi Rektorat: "Iya, Itu Dosen Kami"

Merespons kegaduhan ini, Rektor ITH Parepare, Prof. Ansar Suyuti, tidak membantah identitas pria yang viral tersebut.

"Kalau yang ada di foto, iye (iya) betul dosen ITH," konfirmasi Prof. Ansar saat dihubungi awak media, Minggu (25/1/2026).

Konfirmasi ini penting. Artinya, subjek yang dibicarakan netizen adalah valid tenaga pengajar di kampus tersebut. Bukan orang luar yang menyamar.

Namun, ketika ditanya soal sanksi atau tindakan, Prof. Ansar masih menahan diri. Alasannya klise: Kampus belum menerima laporan dari korban.

"ITH sudah menyikapi informasi yang ada. ITH juga sudah punya tim kekerasan seksual yang diketuai oleh Ibu Rosmawati dan anggotanya ada mahasiswa," jelasnya.

Humas ITH: "Kami Siap Lindungi Korban, Jangan Takut Lapor!"

Senada dengan Rektor, Humas ITH Parepare, Surya, menegaskan bahwa hingga detik ini belum ada satu pun mahasiswi yang datang melapor secara resmi ke meja Satgas atau Rektorat.

"Hingga saat ini pihak institusi belum menerima laporan resmi terkait dugaan pelecehan seksual sebagaimana informasi yang berkembang di beberapa media sosial," kata Surya.

Namun, Surya memastikan bahwa ITH Parepare tidak akan menutup mata. Mereka mengklaim berkomitmen menciptakan lingkungan akademik yang aman, bermartabat, dan berkeadilan. Kampus bahkan sudah membentuk Tim Ad Hoc di bawah Senat Akademik untuk menangani isu etik ini.

Jaminan Keamanan: Poin paling penting dari pernyataan Surya adalah jaminan bagi korban. ITH berjanji akan memberikan Pendampingan dan Kerahasiaan Identitas.

"ITH menyiapkan mekanisme penanganan dan pendampingan yang aman dan berpihak kepada korban apabila yang bersangkutan berkenan melapor," pungkasnya.

Kenapa Korban Enggan Melapor?

Sobat Zona, fenomena "Viral Dulu Baru Rame" tapi "Nihil Laporan Resmi" ini adalah pola yang sering terjadi dalam kasus kekerasan seksual di kampus.

Kenapa korban lebih memilih speak up di medsos (menfess/akun anonim) daripada lapor ke Rektorat?

  1. Ketimpangan Kuasa (Power Imbalance): Melawan dosen itu menakutkan. Dosen pegang nilai, pegang kelulusan, pegang masa depan. Takut dipersulit skripsi atau mata kuliah adalah alasan utama korban bungkam.
  2. Trust Issue: Mahasiswa seringkali tidak percaya pada birokrasi kampus. "Nanti kalau lapor, malah didamaikan secara kekeluargaan," atau "Nanti malah aku yang disalahin (victim blaming)."
  3. Takut Viral (Identitas Bocor): Meskipun kampus janji rahasia, ketakutan akan stigma sosial di lingkungan kampus yang sempit membuat korban memilih diam.

Oleh karena itu, Satgas PPKS (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) di kampus TIDAK BOLEH PASIF. Jangan cuma nunggu bola (laporan).

Sesuai Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021, kampus seharusnya bisa melakukan jemput bola atau investigasi awal berdasarkan bukti publik yang sudah viral, tanpa harus memaksa korban muncul di awal jika mentalnya belum siap.

Bahaya Predator Berkedok Intelektual

Kasus dugaan di ITH Parepare ini (jika terbukti benar) menambah daftar panjang "dosa" oknum akademisi.

Dosen yang genit, suka chatting mesum, atau mengajak jalan mahasiswi dengan iming-iming nilai, adalah benih-benih predator. Jika dibiarkan, tindakan "kecil" ini bisa bereskalasi menjadi pelecehan fisik atau pemerkosaan.

Narasi bahwa dosen RR ini "menelantarkan anak istri" juga menjadi indikator moral yang buruk. Jika terhadap keluarga sendiri saja tidak bertanggung jawab, bagaimana bisa diharapkan bertanggung jawab terhadap moral anak didik?

Artikel ini adalah dukungan moral bagi siapapun korban di ITH Parepare. Kalian tidak sendirian.

  1. Manfaatkan Satgas: Kampus sudah membuka pintu. Coba hubungi Satgas PPKS (Ibu Rosmawati dan tim). Rekam pembicaraan saat melapor untuk pegangan kalian.
  2. Kumpulkan Bukti: Jangan hapus chat, jangan hapus log panggilan. Screenshot semuanya. Itu senjata kalian.
  3. Cari Sekutu: Hubungi BEM, DPM, atau LBH (Lembaga Bantuan Hukum) setempat jika merasa tidak aman melapor sendirian ke kampus.

Dan buat pihak Kampus ITH Parepare: Buktikan Komitmen Kalian! Jangan sampai kasus ini menguap begitu saja. Investigasi dosen RR. Jika terbukti melanggar kode etik (apalagi pidana), sanksi tegas (pecat) harus dijatuhkan. Jangan biarkan nama besar BJ Habibie tercoreng oleh oknum dosen cabul.

Kampus adalah tempat mengasah otak, bukan tempat memuaskan syahwat!

 

Baca juga: Dokter PPDS Unsri Diperas Senior Buat Clubbing & Skincare, Korban Depresi Sampai Mau Akhiri Hidup!

Share:
Tautan berhasil tersalin

Komentar

0

0/150