Zona Mahasiswa - Sobat Zona, ada kabar kurang sedap yang wajib banget jadi perhatian kita semua, terutama buat kalian para mahasiswa rantau yang sedang menimba ilmu di Kota Bunga ini. Malang, yang selama ini dikenal sebagai "Kota Pendidikan" dengan ribuan mahasiswa baru setiap tahunnya, ternyata menyimpan sisi gelap yang bikin merinding.
Data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang di awal tahun 2026 ini beneran bikin syok. Tercatat ada ratusan temuan kasus baru Orang Dengan HIV (ODHIV) sepanjang tahun 2025 kemarin. Dan plot twist-nya? Mayoritas dari mereka bukanlah warga asli Malang, melainkan pendatang alias anak rantau!
Kondisi ini langsung memicu reaksi keras dari gedung dewan. DPRD Kota Malang menuding maraknya "Kos Bebas" alias rumah kos tanpa pengawasan sebagai biang kerok utama penyebaran virus mematikan ini. Fenomena kos-kosan yang los dol tanpa aturan ini dinilai sudah seperti "Las Vegas" mini: apa yang terjadi di kamar, tetap di kamar.
Waduh, kok bisa sampai segawat ini? Yuk, kita bedah datanya dan apa kata para pejabat biar kalian makin aware!
Data Mengerikan: 350 Kasus Baru, Dominasi Mahasiswa Rantau
Mari kita bicara data, Guys. Jangan dikira ini cuma nakut-nakutin. Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, blak-blakan membuka data hasil skrining kesehatan yang dilakukan selama setahun penuh di 2025.
Dari total sekitar 17.000 orang yang menjalani tes VCT (Voluntary Counseling and Testing) dan skrining HIV, ditemukan 350 kasus positif HIV baru.
Breakdown Datanya Bikin Ngilu:
- 70% Pendatang: Dari 350 orang itu, mayoritas adalah warga luar daerah (KTP non-Malang). Ini mengindikasikan bahwa virus ini "terbawa" atau "menyebar" di kalangan perantau.
- 30% Warga Lokal: Sisanya adalah warga asli Kota Malang.
- Latar Belakang: Husnul menyebutkan variasi latar belakang penderita cukup beragam, mulai dari masyarakat umum hingga—ini yang harus digarisbawahi—Mahasiswa.
Sorotan Khusus Kelompok LSL Ada satu fakta spesifik yang diungkap Dinkes. Salah satu kelompok penyumbang angka tinggi adalah komunitas Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL). Dan mirisnya, kelompok ini didominasi oleh mahasiswa dari luar daerah yang sedang kuliah di Malang.
"Latar belakang ODHIV di Kota Malang cukup beragam... Salah satu kelompok yang menjadi perhatian adalah LSL yang didominasi mahasiswa dari luar daerah," ungkap Husnul.
Data ini menjadi tamparan keras. Kebebasan di tanah rantau yang seharusnya digunakan untuk eksplorasi akademis dan skill, malah bergeser ke eksplorasi seksual yang berisiko tinggi tanpa pengaman.
Biang Kerok: Kos-kosan "Tanpa Induk"
Melihat data yang red flag ini, Arief Wahyudi, Anggota Komisi C DPRD Kota Malang, langsung angkat bicara dengan nada tinggi. Ia menyoroti lemahnya pengawasan di lingkungan tempat tinggal mahasiswa, khususnya rumah kos.
Menurut Arief, banyak kos-kosan di Malang yang beroperasi tanpa aturan.
"Banyak kos-kosan yang tidak menjalankan Perda terkait kos. Artinya, tidak ada orang yang bertanggung jawab di tempat kos tersebut," ujar Arief, Jumat (9/1/2026).
Fenomena ini sering kita sebut sebagai "Kos Tanpa Induk". Pemiliknya entah di mana (cuma datang pas nagih bulanan), penjaganya nggak ada, dan akses masuk 24 jam bebas tanpa kontrol.
Akibatnya? Kamar kos berubah fungsi. Bukan lagi tempat istirahat belajar, tapi jadi tempat party, kumpul kebo, hingga transaksi seksual terselubung.
"Inilah yang menurut saya sebagai salah satu pemicu munculnya penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS. Angka yang terdeteksi saja sudah tinggi, saya yakin yang belum terdeteksi jauh lebih banyak lagi," tambah Arief cemas.
Perda 2006: Aturan Jadul yang "Mandul"?
Sebenarnya, Kota Malang punya aturan main yang jelas, lho. Ada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Usaha Pemondokan.
Tapi sayangnya, Perda ini kayak macan ompong. Ada tapi nggak gigit. Arief Wahyudi mengingatkan dua poin krusial dalam aturan tersebut yang sering dilanggar:
- Wajib Ada Penanggung Jawab: Setiap rumah kos harus memiliki induk semang atau pengelola yang stay (tinggal) di area kos. Tujuannya buat apa? Ya buat ngawasin!
- Larangan Kos Campur: Dilarang keras adanya kos campur (putra-putri dalam satu gedung/area) bagi yang tidak punya ikatan pernikahan sah.
Realita di lapangan? Kalian pasti tahu sendiri. Banyak kos "Las Vegas" di Malang yang putra-putri campur baur, parkiran bebas, tamu lawan jenis boleh nginep, dan pemiliknya masa bodoh.
"Kalau ada ibu kos atau bapak kos yang tinggal di sana, mereka pasti tahu jika ada keanehan di antara penghuni. Kalau tidak ada yang jaga, ya kos-kosan itu jadi bebas," sindir Arief.
Kenapa Mahasiswa Rantau Rentan?
Sobat Zona, kenapa sih mahasiswa rantau (mungkin termasuk kamu) jadi kelompok yang paling rentan kena HIV?
- Shock Culture Kebebasan: Di rumah dikekang orang tua, pas merantau merasa bebas sebebas burung. Akhirnya bablas. Nggak ada yang ngomel kalau pulang pagi atau bawa pacar.
- Peer Pressure (Tekanan Teman): Pergaulan yang salah circle. Kalau temannya hobi "jajan" atau gonta-ganti pasangan, lama-lama ikutan karena takut dibilang cupu.
- Aplikasi Kencan (Dating Apps): Kemudahan mencari partner lewat aplikasi hijau atau kuning membuat hookup culture makin masif. "Satu malam, ganti orang" dianggap biasa, padahal virusnya nggak bisa di-undo.
- Minim Edukasi Seks: Masih banyak yang mikir HIV cuma kena ke pengguna narkoba jarum suntik. Padahal, hubungan seksual tanpa pengaman (apalagi anal seks pada LSL) adalah jalur penularan tercepat.
Razia Rutin & Hidupkan Siskamling!
Nasi sudah menjadi bubur, tapi jangan sampai buburnya basi. DPRD Kota Malang mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) dan Satpol PP untuk tidak lagi tutup mata.
Arief mendorong adanya Operasi Yustisi dan pendataan ulang seluruh kos-kosan.
- Kos yang melanggar aturan (tanpa induk, campur) harus ditindak tegas, kalau perlu dicabut izinnya.
- Pemilik kos harus dipaksa tanggung jawab. Jangan cuma mau duit sewa, tapi ngerusak moral generasi muda.
Selain itu, peran warga lokal juga penting.
"Kita juga perlu menghidupkan kembali peran Siskamling di lingkungan warga agar pengawasan lebih berlapis," pungkas Arief.
Jadi, jangan kaget kalau dalam waktu dekat Pak RT atau Satpol PP bakal sering ketuk pintu kosan kalian. Itu bukan karena mereka kepo, tapi karena situasi sudah darurat.
Pesan Buat Sobat Zona: Sayangi Masa Depanmu!
Artikel ini bukan buat nakut-nakutin atau nge-judge gaya hidup kalian. Tapi, HIV/AIDS itu nyata dan belum ada obatnya yang bisa menyembuhkan total (hanya menekan virus seumur hidup).
Buat kalian mahasiswa di Malang:
- Pilih Pergaulan: Cari circle yang positif. Kuliah jauh-jauh mahal, masa pulangnya bawa penyakit?
- Safe Sex (Jika Aktif): Kalau kalian seksual aktif, please sadar risiko. Gunakan pengaman. Setia pada satu pasangan jauh lebih aman.
- Cek Kesehatan: Kalau merasa pernah melakukan perilaku berisiko, jangan takut ke Puskesmas atau klinik VCT. Gratis dan rahasia terjamin. Lebih baik tahu sekarang dan diobati daripada telat.
Ingat, orang tuamu di kampung nungguin kamu pakai toga wisuda, bukan nungguin kabar kamu sakit parah di tanah rantau.
Stay safe, stay healthy, and be smart, Guys!
Baca juga: Pemuda Garut Diamuk Keluarga Kades Gara-gara Kritik Jalan Rusak: "Mau Tenar Kamu?"
Komentar
0

