Zona Mahasiswa - Sobat Zona, belakangan ini timeline media sosial kita sering banget berisik dengan satu narasi yang sebenernya udah basi tapi terus digoreng ulang: "Kuliah Itu Scam!"
Biasanya, narasi ini keluar dari mulut influencer "sukses" (seringkali yang nikah muda atau mendadak kaya dari crypto/trading) yang koar-koar kalau ijazah itu cuma kertas nggak guna. Mereka pamer mobil mewah, saldo ATM, lalu nanya ke kita yang lagi pusing ngerjain skripsi: "Apa warna McLaren-mu?"
Jujur, capek nggak sih dengernya? Di titik ini, rasanya kalau ketemu orang model begini, kita cuma pengen bilang: "Nggih, jenengan leres (Iya, Anda benar)," lalu pergi ngopi. Karena debat sama tembok seringkali lebih berfaedah daripada debat sama orang yang merasa dirinya paling paham dunia cuma karena viral.
Tapi, karena narasi ini berpotensi menyesatkan adik-adik maba atau teman-teman yang lagi struggle bayar UKT, mari kita bedah kenapa omongan "Kuliah Scam" itu adalah omong kosong terbesar dari orang bermulut besar.
Influencer dan Narasi "Balik Modal" yang Sesat
Kenapa sih topik "Kuliah Scam" ini laku keras? Jawabannya sederhana: Uang.
Kita nggak bisa menutup mata kalau biaya kuliah sekarang itu mahalnya minta ampun. UKT naik terus, biaya hidup mencekik, sementara lapangan kerja makin sempit (terima kasih, resesi dan AI). Di tengah keputusasaan ini, datanglah influencer yang bilang, "Ngapain kuliah mahal-mahal kalau ujungnya nganggur? Mending bisnis/main saham/jadi konten kreator."
Narasi ini terdengar masuk akal karena menyentuh pain point kita: Ketakutan akan masa depan finansial.
Orang kuliah itu pasti pengen hidup lebih baik. Naik kasta sosial, pemikiran lebih maju, dan tentu saja: Penghasilan lebih gede. Buat apa pemikiran maju kalau dompet tipis, kan?
Masalahnya, ketika ekspektasi "lulus langsung kaya" tidak terwujud, orang dengan mudah menyalahkan sistem pendidikannya. "Tuh kan, bener kata influencer A, kuliah itu scam. Gue udah sarjana tapi gaji masih UMR."
Padahal, menyalahkan konsep "pendidikan" atas kegagalan ekonomi adalah logika yang cacat (logical fallacy).
Jangan Salah Alamat: Salah Kampus/Negara, Bukan Salah Ilmu
Mari kita luruskan. Kalau kamu merasa biaya kuliah itu kemahalan dan tidak sebanding dengan fasilitas atau jaminan kerja, yang salah itu bukan konsep kuliahnya.
Yang salah adalah Penyelenggaranya (Kampus/Kemendikbud) dan Regulatornya (Pemerintah).
- Biaya Mahal: Kita harus menuntut transparansi universitas dan kebijakan negara soal subsidi pendidikan.
- Susah Kerja: Itu urusan pemerintah pusat dalam menciptakan lapangan kerja dan iklim ekonomi.
Jadi, kalau ada yang bilang kuliah itu scam karena mahal, itu salah alamat. Kuliahnya nggak salah, sistemnya yang mungkin lagi error. Pendidikan tinggi adalah hak dan kewajiban. Jangan karena sistemnya lagi bobrok, kita jadi anti sama ilmu pengetahuan.
Kuliah: Tangga Darurat Bagi "Rakyat Jelata"
Sobat Zona, mari bicara realita. Tidak semua orang lahir dari rahim orang tua yang punya "Pabrik Nikel" atau warisan tujuh turunan.
Bagi pemuda kabupaten biasa, yang orang tuanya petani, buruh, atau PNS golongan rendah, kuliah adalah satu-satunya tiket keluar dari kemiskinan.
Tanpa kuliah dan merantau, mungkin kita akan terjebak di lingkaran setan yang sama di kampung halaman. Kuliah meskipun mahal dan berdarah-darah bayarnya memberikan kita Modal Sosial dan Modal Budaya yang tidak bisa dibeli dengan uang instan.
Penulis opini ini sendiri mengakui, "Saya ini pemuda kabupaten biasa yang tak punya jaringan. Kalau saya tak kuliah dan merantau, saya nggak akan ada di titik kehidupan yang menurut saya amat baik."
Kuliah memberikan akses yang tidak dimiliki orang yang tidak kuliah:
- Jaringan (Networking): Ketemu teman dari Sabang sampai Merauke, ketemu anak pejabat, ketemu aktivis. Ini investasi jangka panjang.
- Pola Pikir (Mindset): Belajar berpikir kritis, sistematis, dan tidak mudah makan hoaks.
- Kesempatan (Opportunity): Magang, beasiswa luar negeri, pertukaran pelajar.
Jadi, kalau ada influencer kaya raya bilang kuliah nggak penting, cek dulu latar belakangnya. Kalau bapaknya udah kaya, ya valid dia ngomong gitu. Tapi buat kita kaum mendang-mending? Ijazah itu senjata perang kita, Bos!
Filosofi Prasmanan: Jangan Salahin Menunya!
Ada satu analogi menarik soal kuliah. Anggap saja kuliah itu seperti Restoran Prasmanan (Buffet) yang mahal.
Kamu sudah bayar tiket masuk (UKT). Di dalamnya tersaji banyak menu:
- Menu Akademik (Dosen, Buku, Lab).
- Menu Organisasi (BEM, Hima, UKM).
- Menu Relasi (Teman sekelas, Alumni).
- Menu Soft Skill (Kepemimpinan, Manajemen Waktu).
Nah, "Kuliah Scam" itu cuma berlaku buat mereka yang masuk restoran, cuma duduk diam, nggak makan apa-apa, terus pas keluar komplain: "Ah, gue masih laper. Restorannya nipu!"
Salah siapa? Salah lo yang nggak makan!
Banyak mahasiswa yang gagal memanfaatkan privilege status mahasiswa mereka. Datang kuliah cuma titip absen (TA), organisasi nggak ikut, magang males, skripsi bayar joki. Giliran lulus jadi pengangguran, teriak "Kuliah Scam".
"Memang itulah lika-liku hidup manusia, mereka kerap gagal memanfaatkan apa-apa yang sudah disajikan tepat di depan wajah mereka. Tapi tak berarti kita menyalahkan menu yang sudah disajikan dong."
Kuliah itu mengenalkanmu pada kesempatan. Apakah kamu mengambil kesempatan itu atau membiarkannya lewat, itu urusanmu. Jangan nyalahin kampusnya.
Stop Dengerin "Orang Bermulut Besar"
Fenomena influencer anti-pendidikan ini sebenarnya berbahaya. Bayangkan kalau ada anak SMA yang cerdas tapi labil, lalu termakan omongan ini dan memutuskan tidak kuliah demi mengejar viralitas instan. Padahal, probabilitas sukses jadi influencer itu jauh lebih kecil daripada sukses lewat jalur akademis/profesional.
Kalau kamu nggak percaya orang butuh pendidikan tinggi, ya silakan. Tapi nggak usah ngajak-ajak orang lain jadi bodoh.
"Nek goblok, dewe wae, wong liyo rasah dijak (Kalau bodoh, sendiri saja, orang lain nggak usah diajak)."
Maaf agak kasar, tapi kadang realita memang harus disampaikan dengan ngegas biar sadar.
Fokus Aja di Jalurmu!
Buat Sobat Zona yang sekarang lagi capek banget sama tugas, skripsi revisi mulu, atau pusing mikirin UKT semester depan, Tolong Bertahan.
Jangan goyah cuma gara-gara liat konten TikTok orang pamer duit 1 Miliar di usia 20 tahun tanpa kuliah. Setiap orang punya timeline dan jalannya masing-masing.
Ilmu yang kamu dapat di bangku kuliah, teman yang kamu temui saat ngerjain tugas bareng, dan mental yang terbentuk saat kamu dimarahin dosen, itu semua adalah aset yang akan kamu panen di masa depan. Mungkin bukan besok, mungkin bukan tahun depan, tapi itu akan berguna.
Jadi, kalau besok ada lagi yang bilang "Kuliah itu Scam", senyumin aja. Anggap aja angin lalu. Kita punya masa depan yang harus diperjuangkan lewat jalur ilmu, bukan jalur sensasi.
Kuliah itu Investasi, bukan Scam. Titik.
Baca juga: Pemuda Garut Diamuk Keluarga Kades Gara-gara Kritik Jalan Rusak: "Mau Tenar Kamu?"
Komentar
0

