Zona Mahasiswa - Sobat Zona, belakangan ini timeline kita dipenuhi dengan keberanian para publik figur yang mulai speak up soal trauma masa kecil mereka. Setelah buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans meledak dan membongkar isu grooming, kini ingatan publik kembali ditarik ke salah satu kasus paling kontroversial dalam sejarah showbiz Indonesia: Kisah Manohara Odelia Pinot.
Masih ingat drama pernikahan Pangeran Kelantan dan gadis belia Indonesia di tahun 2009? Ya, gadis itu adalah Manohara. Dulu, banyak yang mengira itu adalah kisah dongeng Cinderella. Namun, fakta yang baru saja dikupas kembali oleh Manohara justru membuktikan itu adalah film horor.
Manohara, yang kini sudah dewasa dan mandiri, blak-blakan menceritakan betapa mengerikannya hidup di bawah asuhan seorang ibu yang diduga mengidap NPD (Narcissistic Personality Disorder). Mulai dari kekerasan fisik, manipulasi mental, hingga tuduhan "dijual" kepada pria tua demi harta, semua ia bongkar.
Baca juga: Viral! 2 Pria Nekat Masturbasi di TransJakarta Rute 1A, Korban Kira Tetesan Air AC Ternyata...
Kisah ini bukan sekadar gosip artis, tapi pelajaran mahal tentang Toxic Parenting yang mungkin relate dengan banyak anak muda di luar sana. Yuk, kita bedah kronologi pilu Manohara berjuang waras di tengah keluarga yang "sakit".
Pernikahan Dini & Transaksi "Apartemen SCBD"
Netizen Gen Z mungkin hanya tahu Manohara sebagai model cantik atau aktivis hewan. Tapi, flashback sedikit ke masa lalunya, Manohara adalah korban dari ambisi orang tua yang kelewat batas.
Saat usianya baru menginjak 16 tahun (usia anak SMA kelas 1 atau 2), Manohara dipaksa menikah dengan Pangeran Kelantan yang saat itu berusia 30 tahun. Gap usia yang jauh ini saja sudah red flag, apalagi ditambah fakta bahwa Manohara tidak menginginkannya.
Dalam pengakuannya, Manohara menyebut ibunya, Daisy Fajarina, memiliki andil besar dalam "transaksi" ini.
"Manohara mengaku tidak bisa melawan saat masih kecil... Termasuk ketika dirinya tahu Ibunya mendapatkan sebuah apartemen di SCBD dan mobil usai menikahkan Manohara yang masih belia," ungkap sumber terpercaya.
Bayangkan, Guys. Anak kandung sendiri ditukar dengan kemewahan properti di kawasan elit Jakarta. Di mata sang Ibu, kebahagiaan anak seolah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan demi status sosial dan materi.
Mengenal NPD: Musuh dalam Selimut itu Bernama "Ibu"
Manohara secara spesifik menyebut bahwa ibunya menunjukkan gejala kuat NPD (Narcissistic Personality Disorder).
Buat Sobat Zona yang belum paham, NPD itu bukan sekadar orang yang suka selfie atau narsis di kaca. Ini adalah gangguan mental serius.
- Ciri Utama: Merasa superior/paling hebat, haus akan pujian/validasi, dan NOL EMPATI terhadap orang lain (termasuk anaknya sendiri).
- Manipulatif: Penderita NPD jago memutarbalikan fakta (playing victim) sehingga orang lain yang merasa bersalah.
- Rapuh: Meski terlihat sombong, mereka sangat anti-kritik. Sedikit saja dibantah, mereka bisa meledak marah (Narcissistic Rage).
Manohara merasakan semua itu.
- Dipaksa Putus Sekolah: Hak pendidikannya dirampas agar bisa bekerja di dunia hiburan dan menghasilkan uang untuk ibunya.
- Kekerasan Fisik & Verbal: Saat Manohara menolak menikah di usia 16 tahun, sang Ibu berteriak histeris hingga memukulnya di depan umum.
Horor Mistis: Dicekoki Air Dukun
Bagian ini yang paling bikin merinding. Manipulasi yang dilakukan Daisy Fajarina diduga tidak hanya menggunakan tekanan psikologis, tapi juga hal-hal klenik.
Manohara bercerita bahwa ia pernah dibawa ke daerah Sukabumi dan Bogor untuk menemui seorang dukun. Di sana, ia dipaksa meminum air yang diduga sudah diberi mantra-mantra.
"Di mana saat itu Manohara dipaksa meminum sebuah air yang diduga sudah didoakan mantra oleh dukun tersebut," cerita Manohara.
Tujuannya? Agar Manohara penurut. Agar Manohara tidak melawan saat disuruh menjadi "sapi perah" atau dinikahkan paksa. Ini menunjukkan betapa putus asanya sang Ibu untuk mengendalikan hidup anaknya secara total.
Kebohongan Publik: "Ayahmu Sudah Mati"
Salah satu ciri penderita NPD adalah kemampuan berbohong yang luar biasa tanpa rasa bersalah. Manohara menjadi saksi hidup bagaimana ibunya membohongi satu Indonesia lewat media.
Daisy Fajarina pernah mengatakan di hadapan wartawan bahwa ayah kandung Manohara (Reiner Pinot) telah meninggal dunia.
Faktanya?
"Hingga detik ini ayah kandungnya masih hidup dan kontaknya sengaja diputus oleh Ibunya," tegas Manohara.
Ayahnya diisolasi. Manohara dijauhkan dari figur ayah yang mungkin bisa melindunginya, semata-mata agar sang Ibu memiliki kontrol penuh atas Manohara. Ini adalah taktik isolasi klasik dalam hubungan abusive.
Perang Dingin: Akun Palsu & Ancaman Tuntutan
Setelah Manohara buka suara di Insta Story-nya, drama belum berakhir. Muncul sebuah akun media sosial yang mati-matian membela Daisy Fajarina. Manohara menduga kuat akun itu dikendalikan oleh ibunya sendiri (karena siapa lagi yang seobsesif itu?).
Akun tersebut bahkan mengancam akan menuntut Manohara ke pengadilan karena tuduhan "menjual anak". Namun, mental Manohara sekarang sudah berbeda. Dia bukan lagi gadis 16 tahun yang takut dipukul. Dia adalah wanita dewasa yang mandiri.
"Namun demikian, usai viral, akun tersebut menghilang," lapor tim pantauan media sosial.
Hilangnya akun tersebut setelah viral membuktikan bahwa gertakan tersebut hanyalah "kosong". Penderita NPD seringkali mundur ketika konfrontasi mereka tidak lagi mempan atau ketika publik mulai melihat wajah asli mereka.
Memutus Rantai "Durhaka"
Sobat Zona, kisah Manohara ini sangat penting untuk kita bahas karena mendobrak stigma budaya kita soal "Anak Durhaka".
Di Indonesia, kita sering didoktrin bahwa "Surga di telapak kaki Ibu" dan "Orang tua selalu benar". Doktrin ini sering disalahgunakan oleh orang tua toxic untuk mengeksploitasi anaknya.
Apa yang dilakukan Manohara—memutus hubungan (Cut Off)—bukanlah tindakan durhaka, melainkan Self-Defense (Pertahanan Diri).
"Saya sudah memutus hubungan dengan dia sejak lama jauh sebelum mengenal pria tersebut. Anak-anak dengan Ibu NPD pasti sangat mengerti dengan hal ini," tulis Manohara.
Manohara mengajarkan kita tiga hal penting:
- Financial Independence: Manohara baru bisa lepas sepenuhnya saat ia sudah mandiri secara finansial. Uang adalah kunci kebebasan dari orang tua toxic.
- Mental Awareness: Sadari bahwa perilaku orang tuamu salah. Jangan menormalisasi kekerasan atas nama "kasih sayang".
- Batas Tegas (Boundaries): Kadang, mencintai orang tua bisa dilakukan dari jauh, demi kewarasan mental kita sendiri.
Pesan untuk Pejuang Mental Health
Buat Sobat Zona yang mungkin sedang mengalami hal serupa—merasa dieksploitasi, dikekang, atau dimanipulasi orang tua sendiri—kalian tidak sendirian.
Kisah Manohara adalah bukti bahwa kalian BISA keluar dari lingkaran setan itu. Jalan keluarnya memang tidak mudah, butuh keberanian, butuh kemandirian, dan mungkin butuh bantuan profesional (psikolog). Tapi, kebebasan dan ketenangan batin itu nyata dan layak diperjuangkan.
Kita doakan semoga Manohara terus bahagia dengan hidup barunya, dan semoga Ibundanya mendapatkan penanganan profesional yang dibutuhkan.
Stop romanticizing toxic family dynamics! Your mental health matters.
Gimana pendapat kalian, Sobat Zona?
Baca juga: Dokter PPDS Unsri Diperas Senior Buat Clubbing & Skincare, Korban Depresi Sampai Mau Akhiri Hidup!
Komentar
0

