Zona Mahasiswa - Sobat Zona, bersiaplah untuk meneteskan air mata sekaligus merasa marah membaca kisah ini. Di usia senja yang seharusnya dihabiskan untuk bersantai menikmati hidup, seorang kakek berusia 76 tahun di Yogyakarta justru harus memikul beban utang ratusan juta rupiah.
Namanya Suhardiyono Kibar, seorang pelukis beraliran realis. Ia terancam kehilangan tanah warisan keluarganya yang akan disita oleh bank akibat utang sebesar Rp500 Juta. Yang bikin dada kita sesak? Utang itu BUKAN miliknya, melainkan ulah saudara-saudaranya yang meminjam uang menggunakan nama Mbah Kibar!
Baca juga: Viral! 16 Orang Mahasiswa Hukum UI Melecehkan Mahasiswi dan Dosen Perempuan di Grup Chat
Hebatnya, alih-alih mengemis donasi dari netizen, ia memilih jalur ksatria: Menjual karya seninya secara profesional. Yuk, kita bedah kisah perjuangan Mbah Kibar yang kini sedang viral ini!
Terjebak 'Toxic Family': Rumah Ambruk, Utang Menumpuk
Sobat Zona, kisah Mbah Kibar ini adalah contoh nyata betapa kejinya toxic family. Saat ditemui di rumah joglo daerah Ngemplak pada Selasa (14/4/2026), Mbah Kibar bercerita bahwa ia sama sekali tidak menikmati uang ratusan juta tersebut.
"Utang-piutang intinya bukan saya yang salah, tapi ya saudara-saudara yang pakai uang ya, (pinjam) pakai nama saya, saya nggak tahu," ungkapnya lirih.
Cobaan Mbah Kibar tidak berhenti di situ. Rumah lama yang ia tempati di wilayah Banguntapan sempat rusak parah hingga ambruk. Bayangkan, seorang lansia harus tidur dengan rasa was-was setiap kali hujan turun karena atap yang sewaktu-waktu bisa roboh. Kondisi fisiknya pun sempat drop karena serangan vertigo yang membuatnya muntah-muntah.
Harga Diri Seniman: "Saya Nggak Perlu Didonasi!"
Kalau orang biasa mungkin sudah membuka tautan donasi di media sosial, tapi Mbah Kibar menolaknya mentah-mentah. Pantang baginya untuk meminta sedekah selama tangannya masih bisa menari di atas kanvas.
Kecintaannya pada seni lukis memang sudah mendarah daging sejak ia duduk di bangku SD. Ia bahkan pernah menolak profesi sebagai guru dan memilih jalan pedang sebagai pelukis seumur hidupnya.
"Saya profesional saja. Saya nggak perlu didonasi. Saya masih mampu untuk melukis," tegas Mbah Kibar dengan penuh martabat.
Ia bertekad melunasi utang bank tersebut dari tetes keringatnya sendiri. Tenggat waktu yang diberikan oleh pihak bank tinggal tersisa dua bulan lagi (jatuh tempo pada Juni 2026), sebelum ancaman sita tanah warisan benar-benar dieksekusi. Total utang beserta bunganya kini ditaksir mencapai Rp556 juta.
Bantuan Orang Baik & Kekuatan 'The Power of Netizen'
Beruntung, Tuhan tidak tidur. Di saat Mbah Kibar sedang sakit dan drop, ia dibantu oleh Prof. Ali Agus dan tim relawannya (salah satunya bernama Atsir Mahatma Adam). Mbah Kibar kemudian difasilitasi untuk pindah ke sebuah rumah joglo di Ngemplak sejak dua bulan lalu, tempat di mana ia akhirnya bisa berkarya lagi dengan tenang.
Karena tim relawan tidak memiliki link ke kolektor seni kelas atas, mereka berinisiatif memviralkan kisah Mbah Kibar di media sosial. Dan benar saja, The Power of Netizen +62 memang luar biasa!
Karya-karya lukis realis Mbah Kibar yang menampilkan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Pangeran Diponegoro, hingga Gibran Rakabuming Raka mulai dilirik.
- Lukisan Gibran Rakabuming Raka kabarnya sudah ditawar hingga Rp37 Juta.
- Lukisan Bung Karno mendapat penawaran mencapai Rp42 Juta.
Relawan juga menegaskan bahwa mereka tidak mengambil keuntungan sepeser pun dari penjualan lukisan ini. Semua murni untuk menyelamatkan tanah keluarga Mbah Kibar dari sitaan bank.
Komentar
0

